Recomended


ShoutMix chat widget
quot;> sini

Pages

02/06/11

ASMAUL HUSNAH

Allah mempunyai Asmaul Husna (nama-nama yang baik) maka mohonkanlah(doa) kepadaNya dengan menyebut Asmaul Husna tersebut. Tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama-namaNya. Mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang mereka perbuat (QS 7 : 180)
ALLAH memiliki nama-nama yang baik yang disebut dengan Asmaul Husna.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa al-Asma al-Husna ini jumlahnya ada 99, karena ALLAH menyukai bilangan yang ganjil.
Sesungguhnya ALLAH mempunyai sembilan puluh sembilan nama, yaitu seratus kurang satu. Barangsiapa menghitungnya, niscaya ia masuk surga. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Sembilan puluh sembilan nama tsb menggambarkan betapa baiknya ALLAH. Nama-nama dalam Asmaul Husna ini, ALLAH sendirilah yang menciptakannya.
Dia-lah ALLAH yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang Membentuk Rupa, yang Mempunyai Nama-Nama yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Hasyr: 24)
Sebutlah nama-nama ALLAH, dalam setiap zikir dan doa kita. Jika kita memohon diberi petunjuk, sebutlah nama Al-Hâdi (Maha Pemberi Petunjuk). Jika kita mohon diberi sifat kasih sayang, sebutlah nama Ar-Rahmân (Maha Pengasih). Semoga doa kita akan semakin makbul.
Anjuran untuk menggunakan Asmaul Husna dalam berzikir dan berdoa, diterangkan oleh ALLAH SWT dalam Al-Quran.
Hanya milik ALLAH asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-A'râf: 180)
Asmaul Husna hanya milik ALLAH SWT. Manusia sebagai makhluk-Nya hanya dapat memahami, mempelajari, dan meniru kandungan makna dari nama yang baik tsb dalam kehidupan sehari-hari.
No Nama Arti Ada dalam

1 ar-Rahmaan Yang Maha Pemurah Al-Faatihah: 3
2 ar-Rahiim Yang Maha Pengasih Al-Faatihah: 3
3 al-Malik Maha Raja Al-Mu'minuun: 11
4 al-Qudduus Maha Suci Al-Jumu'ah: 1
5 as-Salaam Maha Sejahtera Al-Hasyr: 23
6 al-Mu'min Yang Maha Terpercaya Al-Hasyr: 23
7 al-Muhaimin Yang Maha Memelihara Al-Hasyr: 23
8 al-'Aziiz Yang Maha Perkasa Aali 'Imran: 62
9 al-Jabbaar Kehendaknya Tdk Bisa DiingkariAl-Hasyr: 23
10 al-Mutakabbir Yang Memiliki Kebesaran Al-Hasyr: 23
11 al-Khaaliq Yang Maha Pencipta Ar-Ra'd: 16
12 al-Baari' Yang Mengadakan dari Tiada Al-Hasyr: 24
13 al-Mushawwir Yang Membuat Bentuk Al-Hasyr: 24
14 al-Ghaffaar Yang Maha Pengampun Al-Baqarah: 235
15 al-Qahhaar Yang Maha Perkasa Ar-Ra'd: 16
16 al-Wahhaab Yang Maha Pemberi Aali 'Imran: 8
17 ar-Razzaq Yang Maha Pemberi Rezki Adz-Dzaariyaat: 58
18 al-Fattaah Yang Maha Membuka (Hati) Sabaa': 26
19 al-'Aliim Yang Maha Mengetahui Al-Baqarah: 29
20 al-Qaabidh Yang Maha Pengendali Al-Baqarah: 245
21 al-Baasith Yang Maha Melapangkan Ar-Ra'd: 26
22 al-Khaafidh Yang Merendahkan Hadits at-Tirmizi
23 ar-Raafi' Yang Meninggikan Al-An'aam: 83
24 al-Mu'izz Yang Maha Terhormat Aali 'Imran: 26
25 al-Mudzdzill Yang Maha Menghinakan Aali 'Imran: 26
26 as-Samii' Yang Maha Mendengar Al-Israa': 1
27 al-Bashiir Yang Maha Melihat Al-Hadiid: 4
28 al-Hakam Yang Memutuskan Hukum Al-Mu'min: 48
29 al-'Adl Yang Maha Adil Al-An'aam: 115
30 al-Lathiif Yang Maha Lembut Al-Mulk: 14
31 al-Khabiir Yang Maha Mengetahui Al-An'aam: 18
32 al-Haliim Yang Maha Penyantun Al-Baqarah: 235
33 al-'Azhiim Yang Maha Agung Asy-Syuura: 4
34 al-Ghafuur Yang Maha Pengampun Aali 'Imran: 89
35 asy-Syakuur Yang Menerima Syukur Faathir: 30
36 al-'Aliyy Yang Maha Tinggi An-Nisaa': 34
37 al-Kabiir Yang Maha Besar Ar-Ra'd: 9
38 al-Hafiizh Yang Maha Penjaga Huud: 57
39 al-Muqiit Yang Maha Pemelihara An-Nisaa': 85
40 al-Hasiib Maha Pembuat Perhitungan An-Nisaa': 6
41 al-Jaliil Yang Maha Luhur Ar-Rahmaan: 27
42 al-Kariim Yang Maha Mulia An-Naml: 40
43 ar-Raqiib Yang Maha Mengawasi Al-Ahzaab: 52
44 al-Mujiib Yang Maha Mengabulkan Huud: 61
45 al-Waasi' Yang Maha Luas Al-Baqarah: 268
46 al-Hakiim Yang Maha Bijaksana Al-An'aam: 18
47 al-Waduud Yang Maha Mengasihi Al-Buruuj: 14
48 al-Majiid Yang Maha Mulia Al-Buruuj: 15
49 al-Baa'its Yang Membangkitkan Yaasiin: 52
50 asy-Syahiid Yang Maha Menyaksikan Al-Maaidah: 117
51 al-Haqq Yang Maha Benar Thaahaa: 114
52 al-Wakiil Yang Maha Pemelihara Al-An'aam: 102
53 al-Qawiyy Yang Maha Kuat Al-Anfaal: 52
54 al-Matiin Yang Maha Kokoh Adz-Dzaariyaat: 58
55 al-Waliyy Yang Maha Melindungi An-Nisaa': 45
56 al-Hamiid Yang Maha Terpuji An-Nisaa': 131
57 al-Muhshi Yang Maha Menghitung Maryam: 94
58 al-Mubdi' Yang Maha Memulai Al-Buruuj: 13
59 al-Mu'id Yang Maha Mengembalikan Ar-Ruum: 27
60 al-Muhyi Yang Maha Menghidupkan Ar-Ruum: 50
61 al-Mumiit Yang Maha Mematikan Al-Mu'min: 68
62 al-Hayy Yang Maha Hidup Thaahaa: 111
63 al-Qayyuum Yang Maha Mandiri Thaahaa: 11
64 al-Waajid Yang Maha Menemukan Adh-Dhuhaa: 6-8
65 al-Maajid Yang Maha Mulia Huud: 73
66 al-Waahid Yang Maha Tunggal Al-Baqarah: 133
67 al-Ahad Yang Maha Esa Al-Ikhlaas: 1
68 ash-Shamad Yang Maha Dibutuhkan Al-Ikhlaas: 2
69 al-Qaadir Yang Maha Kuat Al-Baqarah: 20
70 al-Muqtadir Yang Maha Berkuasa Al-Qamar: 42
71 al-Muqqadim Yang Maha Mendahulukan Qaaf: 28
72 al-Mu'akhkhir Yang Maha Mengakhirkan Ibraahiim: 42
73 al-Awwal Yang Maha Permulaan Al-Hadiid: 3
74 al-Aakhir Yang Maha Akhir Al-Hadiid: 3
75 azh-Zhaahir Yang Maha Nyata Al-Hadiid: 3
76 al-Baathin Yang Maha Gaib Al-Hadiid: 3
77 al-Waalii Yang Maha Memerintah Ar-Ra'd: 11
78 al-Muta'aalii Yang Maha Tinggi Ar-Ra'd: 9
79 al-Barr Yang Maha Dermawan Ath-Thuur: 28
80 at-Tawwaab Yang Maha Penerima Taubat An-Nisaa': 16
81 al-Muntaqim Yang Maha Penyiksa As-Sajdah: 22
82 al-'Afuww Yang Maha Pemaaf An-Nisaa': 99
83 ar-Ra'uuf Yang Maha Pengasih Al-Baqarah: 207
84 Maalik al-Mulk Yang Mempunyai Kerajaan Aali 'Imran: 26
85 Zuljalaal wa al-'Ikraam Yang Maha Memiliki Kebesaran serta Kemuliaan Ar-Rahmaan: 27
86 al-Muqsith Yang Maha Adil An-Nuur: 47
87 al-Jaami' Yang Maha Pengumpul Sabaa': 26
88 al-Ghaniyy Yang Maha Kaya Al-Baqarah: 267
89 al-Mughnii Yang Maha Mencukupi An-Najm: 48
90 al-Maani' Yang Maha Mencegah Hadits at-Tirmizi
91 adh-Dhaarr Yang Maha Pemberi Derita Al-An'aam: 17
92 an-Naafi' Yang Maha Pemberi Manfaat Al-Fath: 11
93 an-Nuur Yang Maha Bercahaya An-Nuur: 35
94 al-Haadii Yang Maha Pemberi Petunjuk Al-Hajj: 54
95 al-Badii' Yang Maha Pencipta Al-Baqarah: 117
96 al-Baaqii Yang Maha Kekal Thaahaa: 73
97 al-Waarits Yang Maha Mewarisi Al-Hijr: 23
98 ar-Rasyiid Yang Maha Pandai Al-Jin: 10
99 ash-Shabuur Yang Maha Sabar Hadits at-Tirmizi

"Wahai orang-orang beriman, berzikirlah mengingat Allah sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah dengan mensucikan-Nya baik di waktu pagi maupun petang." (QS 33:41).

Hanya saja, dalam berzikir dan dalam melakukan ibadah apapun selain harus ikhlas juga harus disertai contoh dan dalil yang berasal dari Rasul saw. Dalam hal ini, menyebutkan khasiat-khasiat zikir; termasuk khasiat zikir asmaul husna; harus berdasarkan keterangan Allah dan Rasul saw.

Memang benar bahwa zikir asmaul husna memiliki keutamaan yang sangat besar. Hanya saja khasiat tersebut harus disertai dalil yang valid yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya.Lalu, berzikir dengan mengharap sesuatu diperbolehkan selama harapan dan tujuannya itu tidak bertentangan dengan syariat. Rasul saw. sendiri bersabda,

"Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama. Siapa yang membacanya (dengan disertai pemahaman dan pengamalan terhadapnya) pasti ia masuk sorga".

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Hanya milik Allah asma'ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma'ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menye-but) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (Al-A'raf: 180)

Ayat yang agung ini menunjukkan hal-hal berikut:

Menetapkan nama-nama (asma') untuk Allah Subhannahu wa Ta'ala , maka siapa yang menafikannya berarti ia telah menafikan apa yang telah ditetapkan Allah dan juga berarti dia telah menentang Allah Subhannahu wa Ta'ala .

Bahwasanya asma' Allah Subhannahu wa Ta'ala semuanya adalah husna. Maksudnya sangat baik. Karena ia mengandung makna dan sifat-sifat yang sempurna, tanpa kekurangan dan cacat sedikit pun. Ia bukanlah sekedar nama-nama kosong yang tak bermakna atau tak mengandung arti.

Sesungguhnya Allah memerintahkan berdo'a dan ber-tawassul kepadaNya dengan nama-namaNya. Maka hal ini menunjukkan keagungannya serta kecintaan Allah kepada do'a yang disertai nama-namaNya.

Bahwasanya Allah Subhannahu wa Ta'ala mengancam orang-orang yang ilhad dalam asma'-Nya dan Dia akan membalas perbuatan mereka yang buruk itu.
Ilhad menurut bahasa berarti “ الْمَيْلُ ” yakni condong. Ilhad di dalam asma’ Allah berarti menyelewengkannya dari makna-makna agung yang dikandungnya kepada makna-makna batil yang tidak dikandungnya. Sebagaimana yang dilakukan orang-orang yang men-ta'wil-kannya dari makna-makna sebenarnya kepada makna yang mereka ada-adakan.

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Katakanlah: 'Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-asma'ul husna (nama-nama yang terbaik) ...". (Al-Isra': 110)

Diriwayatkan, bahwa salah seorang musyrik mendengar baginda Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam sedang mengucapkan dalam sujudnya, "Ya Allah, ya Rahman". Maka ia berkata, "Sesungguhnya Muhammad mengaku bahwa dirinya hanya menyembah satu tuhan, sedangkan ia memohon kepada dua tuhan." Maka Allah menurunkan ayat ini. Demikian seperti disebutkan oleh Ibnu Katsir. Maka Allah menyuruh hamba-hambaNya untuk memanjatkan do'a kepadaNya dengan menyebut nama-namaNya sesuai dengan keinginannya. Jika mereka mau, mereka memanggil, "Ya Allah", dan jika mereka menghendaki boleh memanggil, "Ya Rahman" dan seterusnya. Hal ini menunjukkan tetapnya nama-nama Allah dan bahwasanya masing-masing dari namaNya bisa digunakan untuk berdo'a sesuai dengan maqam dan suasananya, karena semuanya adalah husna.

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al-asma'ul husna (nama-nama yang baik)." (Thaha: 8) "... Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepadaNya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Al-Hasyr: 24)

Maka barangsiapa menafikan asma' Allah berarti ia berada di atas jalan orang-orang musyrik, sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta'ala : "Dan apabila dikatakan kepada mereka: 'Sujudlah kamu sekalian kepada Yang Maha Penyayang', mereka menjawab: 'Siapakah yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami (bersujud kepadaNya)?', dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman)." (Al-Furqan: 60)

Dan termasuk orang-orang yang dikatakan oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala : "... padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah: 'Dialah Tuhanku tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia ...'." (Ar-Ra'd: 30)

Maksudnya, ini yang kalian kufuri adalah Tuhanku, aku meyakini rububiyah, uluhiyah, asma' dan sifatNya. Maka hal ini menunjukkan bahwa rububiyah dan uluhiyah-Nya mengharuskan adanya asma' dan sifat Allah Subhannahu wa Ta'ala. Dan juga, bahwasanya sesuatu yang tidak memiliki asma' dan sifat tidaklah layak menjadi Rabb (Tuhan) dan Ilah (sesembahan).

Nama-nama yang mulia ini bukanlah sekedar nama kosong yang tidak mengandung makna dan sifat, justru ia adalah nama-nama yang menunjukkan kepada makna yang mulia dan sifat yang agung. Setiap nama menunjukkan kepada sifat, maka nama Ar-Rahman dan Ar-Rahim menunjukkan sifat rahmah; As-Sami' dan Al-Bashir menun-jukkan sifat mendengar dan melihat; Al-'Alim menunjukkan sifat ilmu yang luas; Al-Karim menunjukkan sifat karam (dermawan dan mulia); Al-Khaliq menunjukkan Dia menciptakan; dan Ar-Razzaq menunjuk-kan Dia memberi rizki dengan jumlah yang banyak sekali. Begitulah seterusnya, setiap nama dari nama-namaNya menunjukkan sifat dari sifat-sifatNya.

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata: "Setiap nama dari nama-namaNya menunjukkan kepada Dzat yang disebutnya dan sifat yang dikandungnya, seperti Al-'Alim menunjukkan Dzat dan ilmu, Al-Qodir menunjukkan Dzat dan qudrah, Ar-Rahim menunjukkan Dzat dan sifat rahmat."

Ibnul Qayyim berkata, "Nama-nama Rabb Subhannahu wa Ta'ala menunjukkan sifat-sifat kesempurnaanNya, karena ia diambil dari sifat-sifatNya. Jadi ia adalah nama sekaligus sifat dan karena itulah ia menjadi husna. Sebab andaikata ia hanyalah lafazh-lafazh yang tak bermakna maka tidaklah disebut husna, juga tidak menunjukkan kepada pujian dan kesempur-naan. Jika demikian tentu diperbolehkan meletakkan nama intiqam (balas dendam) dan ghadhab (marah) pada tempat rahmat dan ihsan, atau sebaliknya. Sehingga boleh dikatakan, "Ya Allah sesungguhnya saya telah menzhalimi diri sendiri, maka ampunilah aku, karena se-sungguhnya Engkau adalah Al-Muntaqim (Maha Membalas Dendam). Ya Allah anugerahilah saya, karena sesungguhnya engkau adalah Adh-Dharr (Yang Memberi Madharat) dan Al-Mani' (Yang Menolak) ..." dan yang semacamnya. Lagi pula kalau tidak menunjukkan arti dan sifat, tentu tidak diperbolehkan memberi kabar dengan masdar-masdar-nya dan tidak boleh menyifati dengannya. Tetapi kenya-taannya Allah sendiri telah mengabarkan tentang DiriNya dengan masdar-masdar-Nya dan menetapkannya untuk DiriNya dan telah ditetapkan oleh RasulNya untukNya, seperti firman Allah Subhannahu wa Ta'ala : "Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rizki Yang Mem-punyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh." (Adz-Dzariyat: 58)

Artinya, dibenarkan bagi seseorang untuk membaca asmaul husna atau zikir tertentu dengan harapan mendapat sorga atau harapan lain asalkan tidak bertentangan dengan syariat dan sama seperti yang diterangkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ringkasnya, setiap keterangan tentang amal, khasiat, serta jumlah bilangan zikir semuanya harus dikembalikan kepada nas dan dalil yang valid: Alquran dan Sunnah; sehingga terhindar dari bidah dan khurafat.


Sifat-Sifat Allah


Sifat-sifat Allah terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, adalah sifat dzatiyah, yakni sifat yang senantiasa melekat denganNya. Sifat ini tidak berpisah dari DzatNya. Seperti “ الْعِلْمُ ” (ilmu), “ الْقُدْرَةُ ” (kekuasan), “ السَّمْعُ ” (mendengar), “ الْبَصَرُ ” (melihat), “ الْعِزَّةُ ” (kemuliaan), “ الْحِكْمَةُ ” (hikmah), “ الْعُلُوَّ ” (ketinggian), “ الْعَظَمَةُ ” (keagungan), “ الْوَجْهُ ” (wajah), “ الْيَدَيْنِ ” (dua tangan), “ الْعَيْنَيْنِ ” (dua mata).

Bagian kedua, adalah sifat fi'liyah. Yaitu sifat yang Dia perbuat jika berkehendak. Seperti, bersemayam di atas 'Arsy, turun ke langit dunia ketika tinggal sepertiga akhir dari malam, dan datang pada hari Kiamat.
Berikut ini kami sebutkan sejumlah sifat-sifat Allah dengan dalil dan keterangannya, apakah ia termasuk dzatiy atau fi'liy?!

A. Al-qudrah (berkuasa)

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "... dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (Al-Maidah: 120) "Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu." (Al-Baqarah: 20) "Dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (Al-Kahfi: 45) "Katakanlah: 'Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu'." (Al-An'am: 65) "Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembali-kannya (hidup sesudah mati)." (Ath-Thariq: 8)

Dia telah menetapkan sifat qudrah, kuasa untuk melakukan apa saja, sebagaimana Dia juga menafikan dari DiriNya sifat 'ajz (lemah) dan lughub (letih).
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Dan tiada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa." (Fathir: 44) "Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikit-pun tidak ditimpa keletihan." (Qaf: 38)

Dia memiliki qudrah yang mutlak dan sempurna sehingga tidak ada sesuatu pun yang melemahkanNya. Tidaklah ada penciptaan makhluk dan pembangkitan mereka kembali kecuali bagaikan satu jiwa saja. "Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: 'Jadilah!' maka terjadilah ia." (Yasin: 82)

Maka seluruh makhlukNya, baik yang di atas maupun yang di bawah, menunjukkan kesempurnaan qudrah-Nya yang menyeluruh. Tidak ada satu partikel pun yang keluar dariNya. Cukuplah menjadi dalil bagi seorang hamba manakala ia melihat kepada penciptaan diri-nya; bagaimanakah Allah menciptakannya dalam bentuk yang paling baik, membelah baginya pendengaran dan penglihatannya, mencipta-kan untuknya sepasang mata, sebuah lisan dan sepasang bibir? Kemudian apabila ia melayangkan pandangannya ke seluruh jagat raya ini maka ia akan melihat berbagai keajaiban qudrah-Nya yang menunjuk-kan keagunganNya.

B. Al-iradah (berkehendak)

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendakiNya." (Al-Maidah: 1) "Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." (Al-Hajj: 14) "Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya." (Al-Buruj: 16) "Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: 'Jadilah!' maka terjadilah ia." (Yasin: 82)

Ayat-ayat ini menetapkan iradah untuk Allah Subhannahu wa Ta'ala yakni di antara sifat Allah yang ditetapkan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah. Ahlus-Sunnah wal Jama'ah menyepakati bahwa iradah itu ada dua macam:

a. Iradah Kauniyah, sebagaimana yang terdapat dalam ayat: "Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit ..." (Al-An'am: 125)
Yaitu iradah yang menjadi persamaan masyi'ah (kehendak Allah), tidak ada bedanya antara masyi'ah dan iradah kauniyah.

b. Iradah Syar'iyah, sebagaimana terdapat dalam ayat: "Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu." (Al-Baqarah: 185)

Perbedaan antara keduanya ialah:
Iradah kauniyah pasti terjadi, sedangkan iradah syar'iyah tidak harus terjadi; bisa terjadi bisa pula tidak.

Iradah kauniyah meliputi yang baik dan yang jelek, yang bermanfaat dan yang berbahaya bahkan meliputi segala sesuatu. Sedangkan iradah syar'iyah hanya terdapat pada yang baik dan yang bermanfaat saja.

Iradah kauniyah tidak mengharuskan mahabbah (cinta Allah). Terkadang Allah menghendaki terjadinya sesuatu yang tidak Dia cintai, tetapi dari hal tersebut akan lahir sesuatu yang dicintai Allah. Seperti penciptaan Iblis dan segala yang jahat lainnya un-tuk ujian dan cobaan. Adapun iradah syar'iyah maka di antara konsekuensinya adalah mahabbah Allah, karena Allah tidak menginginkan dengannya kecuali sesuatu yang dicintaiNya, seperti taat dan pahala.
C. Al-'Ilmu (Ilmu)

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "... Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata ..." (Al-Hasyr: 22) "... Yang mengetahui yang ghaib. Tidak ada tersembunyi dari-padaNya seberat zarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi ..." (Saba': 3) "Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi." (Al-Hujurat: 18)

Yang dimaksud dengan ghaib adalah yang tidak diketahui oleh manusia, tetapi Allah mengetahuinya. "Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit." (Ali Imran: 5)

Yang dimaksud dengan syahadah adalah apa yang disaksikan dan dilihat oleh manusia. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "... dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah ..." (Al-Baqarah: 255) "Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak menge-tahui." (An-Nahl: 74)

Di antara dalil yang menunjukkan atas ilmuNya yang luas adalah firman Allah Subhannahu wa Ta'ala : "... agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmuNya benar-benar meliputi segala sesuatu." (Ath-Thalaq: 12)

Di antara dalilnya yang lain ialah hasil ciptaanNya yang sangat teliti dan sempurna. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan)...?" (Al-Mulk: 14)

Karena mustahil bisa menciptakan benda-benda di alam ini de-ngan sangat teliti dan sempurna kalau bukan Yang Maha Mengetahui. Yang tidak mengetahui dan tidak mempunyai ilmu tidak mungkin menciptakan sesuatu, seandainya ia menciptakan tentu tidak akan teliti dan sempurna. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula) ..." (Al-An'am: 59) "Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan menge-tahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati." (At-Taghabun: 4)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat tentang masalah ini. Syaikh Ibnu Taimiyah berkata, "Kaum Muslimin memahami, sesungguhnya Allah mengetahui segala sesuatu sebelum benda-benda itu ada dengan ilmuNya dan qadim azaliy yang merupakan salah satu dari konsekuensi DiriNya yang Mahasuci. Dan Dia tidak mengambil ilmu tentang benda itu dari benda itu sendiri. "Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui?" (Al-Mulk: 14)

4. Al-Hayat (Hidup)

Yaitu sifat dzatiyah azaliyah yang tetap untuk Allah, karena Allah bersifat dengan 'ilmu, qudrat dan iradah; sedangkan sifat-sifat itu tidaklah ada kecuali dari yang hidup. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya) ..." (Al-Baqarah: 255) "Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia ..." (Ghafir: 65) "Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati ..." (Al-Furqan: 58)

Ayat-ayat di atas menetapkan sifat hayat bagi Allah. Dan bahwa Al-Hayyul Qayyum adalah "Al-Ismul A'zham" (nama yang paling agung) yang jika Allah dipanggil dengannya pasti Dia mengabulkan, jika Dia dimintai dengannya pasti Dia memberi; karenanya hayat menunjukkan kepada seluruh sifat-sifat dzatiyah, dan qayyum menun-jukkan kepada seluruh sifat-sifat fi'liyah. Jadi seluruh sifat kembali kepada dua nama yang agung ini. BagiNya adalah kehidupan yang sempurna; tidak ada kematian, tidak ada kekurangan, tidak ada kantuk dan tidak ada tidur. Dialah Al-Qayyum, yang menegakkan yang lainNya dengan memberinya sebab-sebab kelangsungan dan kebaikan.

5. As-Sam'u (Mendengar) Dan Al-Bashar (Melihat)

Keduanya termasuk sifat dzatiyah Allah. Allah menyifati diriNya dengan kedua-duanya dalam banyak ayat, seperti firmanNya: "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Asy-Syura: 11) "Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (An-Nisa': 58) "... Sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat." (Thaha: 46)

Pendengaran Allah Subhannahu wa Ta'ala menangkap semua suara, baik yang keras maupun yang pelan; mendengar semua suara dengan semua bahasa dan dapat membedakan semua kebutuhan masing-masing. Satu pen-dengaran tidak mengganggu pendengaran yang lain. Berbagai macam bahasa dan suara tidaklah membuat samar bagiNya. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Al-Mujadalah: 1) "Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka?" (Az-Zukhruf: 80)

Sebagaimana Allah juga melihat segala sesuatu, dan tidak ada sesuatu pun yang menutupi penglihatanNya. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?" (Al-'Alaq: 14) "Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud." (Asy-Syu'ara: 218-219) "Dan katakanlah: 'Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu itu ...'." (At-Taubah: 105) Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. (Ali Imran: 5)

Yang tidak mendengar dan melihat tidak layak untuk menjadi Tuhan. Allah Subhannahu wa Ta'ala menceritakan tentang Ibrahim Alaihissalam yang berbicara kepada bapaknya sebagai protes atas penyembahan mereka terhadap berhala. "Mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak bisa mendengar dan melihat." (Maryam: 42) "Apakah berhala-berhala itu mendengar (do`a) mu sewaktu kamu berdo`a (kepadanya)?" (Asy-Syu'ara: 72)

6. Al-Kalam (Berbicara)

Di antara sifat Allah yang dinyatakan oleh Al-Qur'an, As-Sunnah, ijma' salaf dan para imam adalah Al-Kalam. Sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta'ala berbicara sebagaimana yang Dia kehendaki; kapan Dia menghendaki dan dengan apa Dia kehendaki, dengan suatu kalam (pembicaraan) yang bisa didengar. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: “Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan (nya) dari-pada Allah.” (An-Nisa': 87) "Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?" (An-Nisa': 122) "Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung." (An-Nisa': 164) "... Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) ..." (Al-Baqarah: 253) "(Ingatlah), ketika Allah berfirman, 'Hai Isa ..." (Ali Imran: 55) "Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia munajat (kepada Kami)." (Maryam: 52) "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa ..." (Asy-Syu'ara: 10) "Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka ..." (Al-Qashash: 62) "...supaya ia sempat mendengar firman Allah..." (At-Taubah: 6) “… padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, …” (Al-Baqarah: 75)

Semua ayat ini menetapkan sifat hadits (ucapan), qaul (perkata-an), kalam (pembicaraan), nida' (seruan) dan munajat. Semuanya adalah termasuk jenis kalam yang tetap bagi Allah sesuai dengan keagunganNya.

Kalam Allah termasuk sifat dzatiyah, karena terus menyertai Allah dan tidak pernah berpisah dariNya. Juga termasuk sifat fi'liyah, karena berkaitan dengan masyi'ah dan qudrah-Nya. Allah Subhannahu wa Ta'ala juga menyebutkan bahwa yang tidak bisa berbicara tidak pantas untuk menjadi Tuhan. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka?" (Al-A'raf: 148)

Kalam adalah sifat kesempurnaan, sedangkan bisu adalah sifat kekurangan. Dan Allah memiliki sifat kesempurnaan, suci dari keku-rangan.

7. Al-Istiwa' 'Alal-'Arsy (Bersemayam Di Atas 'Arsy)

Ia adalah termasuk sifat fi'liyah. Allah Subhannahu wa Ta'ala mengabarkan bahwa Dia bersemayam di ata 'Arsy, pada tujuh tempat di dalam kitabNya.
Pertama, pada surat Al-A'raf: "Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas `Arsy ..." (Al-A'raf: 54)

Kedua, pada surat Yunus: "Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy ..." (Yunus: 3)

Ketiga, pada surat Ar-Ra'd: "Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy ..." (Ar-Ra'd: 2)

Keempat, pada surat Thaha: "(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas 'Arsy ..." (Thaha: 5)

Kelima, pada surat Al-Furqan: "... kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah ..." (Al-Furqan: 59)

Keenam, pada surat As-Sajdah: "Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersema-yam di atas `arsy." (As-Sajdah: 4)

Ketujuh, pada surat Al-Hadid: "Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy ..." (Al-Hadid: 4)
Dalam ketujuh ayat ini lafazh istawa' datang dalam bentuk dan lafazh yang sama. Maka hal ini menyatakan bahwa yang dimaksudkan adalah maknanya yang hakiki yang tidak menerima ta'wil, yaitu ke-tinggian dan keluhuranNya di atas 'Arsy.

'Arsy menurut Bahasa Arab adalah singgasana untuk raja. Se-dangkan yang dimaksud dengan 'Arsy di sini adalah singgasana yang mempunyai beberapa kaki yang dipikul oleh malaikat, ia merupakan atap bagi semua makhluk. Sedangkan bersemayamnya Allah di atas-nya ialah yang sesuai dengan keagunganNya. Kita tidak mengetahui kaifiyah (cara)nya, sebagaimana kaifiyah sifat-sifatNya yang lain. Akan tetapi kita hanya menetapkannya sesuai dengan apa yang kita pahami dari maknanya dalam bahasa Arab, sebagaimana sifat-sifat lainnya, karena memang Al-Qur'an diturunkan dengan bahasa Arab.

8. Al-'Uluw (Tinggi) Dan Al-Fawqiyyah (Di Atas)

Dua sifat Allah yang termasuk dzatiyah adalah ketinggianNya di atas makhluk dan Dia di atas mereka. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar." (Al-Baqarah: 255) "Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi." (Al-A'la: 1) "Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit." (Al-Mulk: 16)

Maksudnya "Dzat yang ada di atas langit" apabila yang dimaksud dengan sama' (dalam ayat tersebut) adalah langit, atau "Dzat yang di atas" jika yang dimaksud dengan sama' adalah sesuatu yang ada di atas. Sebagaimana Dia menggambarkan tentang diangkatnya apa-apa kepadaNya: "... sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepadaKu ..." (Ali Imran: 55) "Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat `Isa kepada-Nya." (An-Nisa': 158)

Dan tentang shu'ud (naik)nya sesuatu kepadaNya: "... KepadaNya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkanNya." (Fathir: 10)
Dan tentang 'uruj (naik)nya sesuatu kepadaNya: "Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan ..." (Al-Ma'arij: 4)

'Uruj dan shu'ud adalah naik. Dalil-dalil semacam ini menunjuk-kan kepada 'uluw (ketinggian) Allah di atas makhlukNya. Begitu pula fawqiyah-Nya ditetapkan oleh berbagai dalil, di antaranya adalah firman Allah Subhannahu wa Ta'ala :
"Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hambaNya ..." (Al-An'am: 18) Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka." (An-Nahl: 50)

Perbedaan antara 'uluw dan istiwa' adalah bahwasanya 'uluw ada-lah sifat dzat, sedangkan istiwa' adalah sifat fi'il. 'Uluw mempunyai tiga makna:
- 'Uluwudz-Dzat (DzatNya di atas makhluk)
- 'Uluwudz-Qahr (kekuatanNya di atas makhluk)
- 'Uluwul-Qahr (kekuasaanNya di atas makhluk)
Kesemuanya itu adalah sifat yang benar untuk Allah Subhannahu wa Ta'ala .

9. Al-Ma'iyyah (Kebersamaan)

Ia adalah sifat yang tetap bagi Allah berdasarkan dalil yang banyak sekali. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
"Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." (At-Taubah: 40)
"Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada." (Al-Hadid: 4)
"... sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat". (Thaha: 46)
Dalil-dalil di atas menetapkan bahwa Allah Subhannahu wa Ta'ala selalu bersama hambaNya, di mana pun mereka berada.

Arti ma'iyah:
Ma'iyah Allah terhadap makhlukNya ada dua macam:
Ma'iyah umum bagi semua makhlukNya. Maksudnya, pengetahuan Allah terhadap amal perbuatan hamba-hambaNya, gerakan yang zhahir dan yang batin, perhitungan amal dan pengawasan ter-hadap mereka. Tidak ada sesuatu pun dari mereka yang lepas dari pengawasan Allah di mana pun mereka berada. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "... Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada ..." (Al-Hadid: 4)

Ma'iyah khusus untuk orang-orang mukmin. Maknanya, pengawasan dan pengetahuan Allah terhadap mereka, serta pertolongan, dukungan dan penjagaan Allah untuk mereka dari tipu muslihat musuh-musuh mereka. "... Sesungguhnya Aku bersama kamu berdua. Aku mendengar dan melihat." (Thaha: 46) "... Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita ..." (At-Taubah: 40)
Catatan Penting:

Dari uraian di atas, jelaslah makna Ma'iyah Allah terhadap hambaNya bukan berarti "Allah bercampur dengan mereka melalui DzatNya", Mahasuci Allah dari hal tersebut, karena hal itu adalah "madzhab hululiyah" yang sesat, batil dan kufur.
Karena Allah di atas para hambaNya dan Maha tinggi di atas mereka, tidak bercampur DzatNya dengan mereka, bersemayam di atas 'Arsy-Nya dan Dia bersama mereka dengan ilmuNya, mengetahui segala hal ihwal mere-ka, mengawasi mereka dan mereka tidak sedikit pun bisa menghilang dari pandangan Allah.

Ma'iyah dapat digunakan untuk kebersamaan yang mutlak, sekali pun tidak ada sentuhan atau percampuran. Anda mengatakan, “ مَتَاعِى مَعِى ” (barang/harta saya ada bersama saya). Padahal harta tersebut ada di atas kepala anda atau di atas kendaraan anda atau di atas kuda anda. Anda mengatakan, "Kami terus saja berjalan, dan rembulan bersama kami", padahal dia ada di langit, akan tetapi ia tetap menerangi dan tidak hilang dari pandangan anda, sedang yang sampai hanyalah cahaya dan penerangannya saja.

10. Al-Hubb (Cinta) Dan Ar-Ridha (Ridha)

Ia adalah dua sifat yang tetap bagi Allah dan termasuk sifat fi'liyah. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ..." (Al-Fath: 18)
"... Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha terha-dapNya ..." (Al-Maidah: 119)
"Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa`at mereka sedikit pun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya)." (An-Najm: 26)
"... maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya ..." (Al-Maidah: 54)
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (Al-Baqarah: 222)
"... sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (Al-Baqarah: 195)

Dalam ayat-ayat ini terdapat ketetapan adanya sifat mahabbah dan ridha bagi Allah. Bahwasanya Dia mencintai sebagian manusia dan meridhai mereka. Dan Dia mencintai sebagian amal dan akhlak, yaitu cinta dan ridha yang hakiki yang sesuai dengan keagunganNya Yang Mahasuci. Tidak seperti cintanya makhluk untuk makhluk atau ridhanya. Di antara buah cinta dan ridha ini ialah terwujudnya taufiq dan pemuliaan serta pemberian nikmat kepada hamba-hambaNya yang Dia cintai dan Dia ridhai. Dan bahwa terwujudnya cinta dan ridha dari Allah untuk hambaNya adalah dikarenakan amal shalih yang di antaranya adalah takwa, ihsan dan ittiba' kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam . Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi ..." (Ali Imran: 31)
(( وَلاَ يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ))
"Dan senantiasa hambaKu mendekat kepadaKu dengan melaksa-nakan ibadah-ibadah 'sunnah' sehingga Aku mencintainya." (HR. Al-Bukhari)

11. As-Sukhtu (Murka) Dan Al-Karahiyah (Benci)

Sebagaimana Allah mencintai hambaNya yang mukmin dan meri-dhainya, maka Dia juga memurkai orang-orang kafir dan munafik, membenci mereka dan membenci amal perbuatan mereka.

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka ..." (Al-Ma'idah: 80) "... tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka ..." (At-Taubah: 46)

Murka dan benci adalah dua sifat yang tetap bagi Allah sesuai dengan keagunganNya. Di antara dampak dari keduanya adalah terja-dinya berbagai musibah dan siksaan terhadap orang-orang yang di-murkaiNya dan dibenci perbuatannya.

12. Al-Wajhu (Wajah), Al-Yadaani (Dua Tangan) Dan Al-'Ainaani (Dua Mata)

Ini adalah sifat-sifat dzatiyah Allah sesuai dengan keagunganNya. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan." (Ar-Rahman: 27) "Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah Allah." (Al-Qashash: 88)

Dua ayat tersebut menekankan wajah untuk Allah. Kita mene-tapkannya untuk Allah Subhannahu wa Ta'ala sesuai dengan keagunganNya sebagaimana Dia sendiri menetapkan untukNya. Dan Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "(Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki." (Al-Ma'idah: 64) "... apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tanganKu. ...". (Shaad: 75)

Dua ayat tersebut menetapkan dua tangan untuk Allah I. Dan Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "... maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, ..." (Ath-Thur: 48)

Maksudnya adalah "berada dalam penglihatan dan penjagaan Kami". "Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami ..." (Al-Qamar: 14)

Maksudnya adalah "dalam penglihatan Kami dan di bawah peme-liharaan Kami". "... dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasanKu." (Thaha: 39)

Disebutkan lafazh 'ain (mata) dan a'yun (beberapa mata) sesuai dengan apa yang disandarkan kepadanya, berbentuk tunggal atau ja-mak sesuai dengan ketentuan bahasa Arab.

Dan disebutkan dalam sunnah yang suci sesuatu yang menun-jukkan makna tatsniyah (dua). Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda ketika menyifati Dajjal yang mengaku sebagai tuhan,

(( أَنَّهُ أَعْوَرُ، وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ ))
"Sesungguhnya dia adalah buta sebelah, dan sesungguhnya Tuhanmu tidaklah buta sebelah." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ini jelas, bahwa maksudnya bukanlah menetapkan satu mata, karena mata yang sebelah jelas cacat (buta). Mahasuci dari hal yang demikian. Maka dalam ayat-ayat dan hadits tersebut terdapat penetapan terhadap dua mata bagi Allah, sesuai dengan apa yang pantas bagi keagunganNya sebagaimana sifat-sifatNya yang lain.

13. Al-'Ajab (Heran)

Ia adalah sifat yang tetap bagi Allah Subhannahu wa Ta'ala sesuai dengan apa yang pantas bagi keagunganNya, sebagaimana yang ada dalam beberapa nash-nash shahih dan sharih (jelas). Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
(( عَجِبَ رَبُّنَا مِنْ قُنُوْطِ عِبَادِهِ وَقُرْبِ غِيَرِهِ يَنْظُرُ إِلَيْكُمْ أَزِلِيْنَ قَنِطِيْنَ فَيَظَلُّ يَضْحَكُ يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَكُمْ قَرِيْبٌ ))

"Tuhan kita merasa heran terhadap keputus asaan hamba-ham-baNya padahal telah dekat perubahan (keadaan dari kesulitan kepada kemudahan) olehNya. Dia melihat kepadamu yang dalam keadaan sempit (susah) dan berputus asa. Dia pun tertawa, Dia mengetahui bahwa pertolonganNya untukmu adalah dekat." (HR. Ahmad dan lainnya)

Dalam hadits ini terdapat sifat heran dan tertawa, yaitu dua sifat Allah dari sifat-sifat fi'liyah-Nya sebagaimana sifat-sifatNya yang lain. Tidaklah keherananNya sama dengan keheranan makhluk, dan tidaklah pula tertawaNya sama dengan tertawanya makhluk. Tidak ada sesuatu pun yang menyamaiNya.

14. Al-Ityan Dan Al-Maji' (Datang)

Keduanya adalah sifat fi'liyah Allah Subhannahu wa Ta'ala . Dia berfirman:
"Janganlah (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan ber-turut-turut, dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris." (Al-Fajr: 21-22)
"Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, ..." (Al-Baqarah: 210)
"Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malai-kat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka), atau kedata-ngan Tuhanmu atau kedatangan sebagian tanda-tanda Tuhanmu. ..." (Al-An'am: 158)

Ayat-ayat tersebut menetapkan sifat ityan dan maji' bagi Allah I yaitu datang dengan DzatNya secara sebenarnya untuk memutuskan hukum antara hamba-hambaNya pada hari Kiamat, sesuai dengan ke-agunganNya. Sifat datang dan mendatangi itu tidak sama dengan sifat makhluk. Mahasuci Allah dengan hal itu.

15. Al-Farah (Gembira)

Al-Farah adalah sifat yang tetap bagi Allah. Ia merupakan salah satu dari sifat fi'liyah-Nya sesuai dengan keagunganNya. Dalam hadits shahih Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam menyatakan bahwasanya Allah sangat bergembira karena taubat seorang hambaNya. Beliau Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

(( اللَّـهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ بِرَاحِلَتِهِ ))

“Allah amat gembira karena taubat hamba melebihi kegembira-an salah seorang dari kalian karena (telah menemukan) kendara-annya (kembali)." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kegembiraan Allah ini adalah kegembiraan berbuat baik dan sayang, bukan kegembiraan seorang yang membutuhkan kepada taubat hambaNya yang bisa diambil manfaatnya. Karena sesungguhnya Allah Mahakaya, tidak membutuhkan ketaatan hambaNya. Akan teta-pi Dia bergembira untuk itu karena kebaikanNya, sayangNya dan anugerahNya kepada pada hambaNya yang mukmin; sebab Dia mencintai dan menginginkan kebaikan serta keselamatan hamba dari siksaan-Nya.

Keempat: Pendapat-Pendapat Golongan Sesat Tentang Sifat-Sifat Ini Beserta Bantahannya

Golongan-golongan sesat seperti Jahmiyah, Mu'tazilah dan Asy'ariyah menyalahi AhlusSunnah wal Jama'ah dalam hal sifat-sifat Allah. Mereka menafikan sifat-sifat Allah atau menafikan banyak sekali dari sifat-sifat itu atau men-ta'wil-kan nash-nash yang menetapkannya dengan ta'wil yang batil. Syubhat (keraguan, kerancuan) mereka dalam hal ini adalah mereka mengira bahwa penetapan dalam sifat-sifat ini menimbulkan adanya tasybih (penyerupaan Allah dengan lainNya). Oleh karena sifat-sifat ini juga terdapat pada makhluk maka penetapannya untuk Allah pun menimbulkan penyerupaanNya dengan makhluk. Karena itu harus dinafikan -menurut mereka- atau harus di-ta'wil-kan dari zhahir-nya, atau tafwidh (menyerahkan) makna-makna-nya kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala. Demikianlah madzhab mereka dalam sifat-sifat Allah, dan inilah syubhat dan sikap mereka terhadap nash-nash yang ada.

Bantahan Terhadap Mereka

Sifat-sifat ini datang dan ditetapkan oleh nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah yang mutawatir. Sedangkan kita diperintahkan mengikuti Al-Kitab dan As-Sunnah.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu ..." (Al-A'raf: 3)
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:
(( عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَقَاءِ الرَّاسِدِيْنَ مِنْ بَعْدِيْ ))
"Ikutilah sunnahku dan sunnah para Khulafa' Rasyidin se-sudahku." (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, ia berkata hadits ini hasan shahih)
Dan Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman: "... Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; ..." (Al-Hasyr: 7)
Maka barangsiapa yang menafikannya berarti dia telah menafikan apa yang ditetapkan oleh Allah dan RasulNya, dan berarti pula dia telah menentang Allah dan RasulNya.

Sesungguhnya kaum salaf dari sahabat, tabi'in dan ulama pada masa-masa yang dimuliakan, semuanya menetapkan sifat-sifat ini dan mereka tidak berselisih sedikit pun di dalamnya.
Imam Ibnul Qayyim berkata: "Manusia banyak berselisih penda-pat dalam banyak hal tentang hukum, tetapi mereka tidak berselisih dalam memahami ayat-ayat sifat dan juga hadits-haditsnya, sekali pun itu hanya sekali. Bahkan para sahabat dan tabi'in telah bersepakat untuk iqrar (menetapkannya) dan imrar (membiarkan apa adanya) di-sertai dengan pemahaman makna-makna lafazh-nya bahwa hal terse-but telah dijelaskan dengan tuntas, dan bahwa menjelaskannya adalah hal yang teramat penting, karena ia termasuk penyempurnaan bagi perwujudan dua kalimah syahadah, dan penetapannya merupakan konsekuensi tauhid. Maka Allah I dan RasulNya menjelaskan de-ngan jelas dan gamblang tanpa kesamaran dan keraguan yang bisa menimpa ahlul ilmi."
Sedangkan Rasulullah telah bersabda, "Kewajiban kalian ada-lah mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafa' Rasyidin." Sedangkan penetapan sifat adalah termasuk hal tersebut.



Seandainya zhahir nash-nash tentang sifat-sifat itu bukan yang dimaksud, dan dia wajib di-ta'wil-nya (penyerahan makna kepa-da Allah), tentu Allah dan RasulNya telah berbicara kepada kita dengan khitab dan ucapan yang kita tidak paham maknanya. Dan tentu nash ini bersifat teka-teki atau kode-kode (sandi) yang tidak bisa kita pahami. Ini adalah mustahil bagi Allah, Allah Mahasuci dari yang demikian. Karena kalam Allah dan kalam RasulNya adalah ucapan yang sangat jelas, gamblang dan berisi petunjuk.


Menafikan sifat berarti menafikan wujud Allah, karena tidak ada dzat tanpa sifat, dan setiap yang wujud pasti mempunyai sifat. Mustahil dibayangkan ada wujud yang tidak mempunyai sifat. Se-sungguhnya yang tidak mempunyai sifat hanyalah ma'dum (sesuatu yang tidak ada). Maka barangsiapa yang menafikan sifat-sifat bagi Allah yang telah Dia tetapkan untuk diriNya, berarti ia telah mencam-pakkan sifat-sifat Allah, telah membangkang kepada Allah dan telah menyerupakan Allah dengan benda-benda yang tidak ada wujudnya, dan itu berarti pula dia telah mengingkari wujud Allah; sebagai keha-rusan dan konsekuensi dari ucapannya itu.


Kesamaan nama-nama Allah dan sifat-sifatNya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhlukNya dalam bahasa tidak mengharuskan kesamaan atau penyerupaan dalam hakikat atau kaifiyat. Allah memiliki sifat-sifat yang khusus dan sesuai dengan keagungan-Nya. Makhluk mempunyai sifat-sifat khusus dan sesuai dengan kepantasannya pula. Ini tidak mengharuskan kesamaan atau penyerupaan. Bahkan antar makhluk pun tidak harus sama.
Jika dikatakan, "Sesungguhnya 'Arsy itu adalah sesuatu yang wujud" dan "sesungguhnya nyamuk itu sesuatu yang wujud", ini tidak mengharuskan keduanya sama dalam "sesuatu dan wujud", juga dalam hakikat dan kaifiyat. Jika hal ini terjadi antara makhluk dengan makhluk, maka antara Allah Al-Khaliq dengan makhlukNya adalah lebih utama untuk tidak sama.


Sebagaimana Allah mempunyai Dzat yang tidak diserupai oleh dzat makhluk, maka Dia juga mempunyai sifat-sifat yang tidak diserupai oleh sifat-sifat makhluk.


Sesungguhnya menetapkan sifat-sifat yang ada adalah ke-sempurnaan dan menafikannya adalah kekurangan. Sedangkan Allah Mahasuci dari sifat kekurangan. Maka wajiblah penetapan sifat-sifat itu.


Sesungguhnya dengan nama-nama dan sifat-sifat ini, para hamba dapat mengetahui Tuhannya dan mereka memohon kepadaNya dengan nama-nama itu. Mereka takut kepadaNya dengan nama-nama itu. Mereka takut kepadaNya dan mengharap dariNya sesuai dengan kandungan nama-nama itu. Jika dinafikan dari Allah maka hilanglah makna-makna yang agung itu. Lalu dengan apa Dia dimintai dan dengan apa pula ber-tawassul kepadaNya?


Sesungguhnya hukum asal dalam nash-nash sifat adalah zhahir dan makna aslinya. Tidak boleh menyelewengkan dari zhahir-nya kecuali jika terpenuhi keempat syarat berikut ini:
Menetapkan kemungkinan lafazh mengandung makna yang akan di-ta'wil-kan kepadanya.

Menegakkan dalil yang memalingkan lafazh dari zhahir-nya kepada makna yang mungkin dikandungnya yakni makna yang menyalahi zhahir-nya.

Menjawab dalil-dalil yang bertentangan dengan dalilnya tadi. Karena orang yang mengaku benar harus mempunyai bukti atas dakwaannya. Dia harus mempunyai jawaban yang benar terhadap dalil-dalil yang berlawanan dengannya. Dan tidaklah disebut memiliki dalil orang yang hanya mendakwakan ta'wil.

Bahwasanya manakala Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam berbicara dengan suatu pembicaraan jika beliau menginginkan arti yang bukan zhahir-nya, pasti beliau menjelaskan kepada umat bahwasanya beliau menginginkan majaz (arti kiasan) bukan hakikat atau arti sebenarnya. Ternyata ini tidak pernah terjadi pada nash-nash sifat tersebut. ( berbagai sumber)

Sifat-sifat Allah dalam Asmaul Husna



A. Antara Zat dan Sifat Allah
Keberadaan Allah dapat didekati dari dua aspek, yaitu zat dan sifat. Allah berada pada aspek zat sewaktu kita memahami Allah sebagai “sesuatu” yang mandiri atau terlepas dari apa pun. Pada aspek ini Allah tidak bisa dikenal, karena manusia hanya bisa memahami sesuatu. Padahal Allah berbeda dengan sesuatu yang dipahami manusia, sehingga tidak mungkin dikenal dan dipahami melalui aspek zat.

Artinya: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat”. (QS. Asy-Syura[42]: 11)

Aspek kedua dari keberadaan Allah yaitu sifat. Sifat-sifat Allah muncul hanya dalam hubungannya dengan alam. Sementara dalam hubungannya dengan diri-Nya sendiri, Dia tidak memiliki sifat apa-apa. Karena itu, disebutkannya sifat-sifat Allah dalam al-Qur’an merupakan upaya Allah untuk memperkenalkan diri-Nya kepada makhluk-Nya, terutama manusia.
Sifat-sifat Allah
No Sifat Wajib Sifat Mustahil
1 Wujud Ada Adam Tidak ada
2 Qidam Dahulu Huduus Baru
3 Baqa' Kekal Fana Rusak
4 Mukhalafatuhu lil hawadits Berbeda dengan ciptaan-Nya Mumatsalatuhu lil hawadits Sama dengan ciptaan-Nya
5 Qiyamuhu binafsihi Berdiri dengan sendirinya Ihtiyaju lighairihi Membutuhkan yang lain
6 Wahdaniyyah Esa atau Tunggal Ta'addud Berbilang
7 Qudrat Berkuasa 'Ajzun Lemah
8 Iradat Berkehendak Karahah Terpaksa
9 Ilmu Mengetahui Jahlun Bodoh
10 Hayat Hidup Mautun Mati
11 Sama’ Mendengar Summum Tuli
12 Basar Melihat Umyun Buta
13 Kalam Berkata Bukmun Bisu
14 Qadiran Yang Berkuasa 'Ajizan Yang maha lemah
15 Muridan Yang Berkehendak Mukrahan Yang maha terpaksa
16 'Aliman Yang Mengetahui Jahilan Yang maha bodoh
17 Hayyan Yang Hidup Mayyitan Yang mati
18 Sami'an Yang Mendengar Ashamman Yang maha tuli
19 Basiran Yang Melihat A'maan Yang maha buta
20 Mutakalliman Yang Berbicara Abkhaman Yang maha bisu



B. Asmaul Husna
Asmaul husna artinya nama-nama Allah yang baik, karena dari sudut maknanya, dalam nama-nama tersebut tersembunyi sejumlah sifat yang mencerminkan kualitas kebaikan, keindahan, dan kesempurnaan Allah.


Artinya: “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang Telah mereka kerjakan”. (QS. Al-A’raf [7]: 180)

C. Sifat-sifat Allah dalam Asmaul Husna
1. Al-Awwal (Maha Permulaan) = Qidam (Terdahulu)
2. Al-Baqi (Maha Kekal) = Baqa’ (Kekal)
3. Al-Qayyum (Maha Berdiri Sendiri) = Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri Sendiri)
4. Al-Wahid (Maha Tunggal) = Wahdaniyat (Tunggal)
5. Al-Muqtadir (Maha Kuasa) = Qudrat (Kuasa)
6. Al-Malik (Maha Raja) = Iradat (Berkehendak)
7. Al-‘Alim (Maha Mengetahui) = ‘Ilmu (Mengetahui)
8. Al-Hayy (Maha Hidup) = Hayat (Hidup)
9. As-Sami’ (Maha Mendengar) = Sama’ (Mendengar)
10. Al-Basir (Maha Melihat) = Basar (Melihat)
D. Fungsi Beriman kepada Allah swt
1. Menyadari kelemahan kita dihadapan Allah Yang Maha Besar sehingga kita tidak akan bersikap sombong
2. Menyadari diri kita pasti akan mati dan akan dimintai pertanggungjawaban atas segala amal perbuatan yang kita lakukan
3. Menyadari sepenuhnya bahwa segala sesuatu yang kita nikmati dalam hidup ini berasal dari Allah swt
4. Merasakan bahwa diri kita senantiasa dilihat oleh Allah swt
5. Menyadari dan segera bertobat apabila melakukan kesalahan dan dosa






LATIHAN
A. Pilih salah satu jawaban yang tepat dari pernyataan di bawah ini!
1. Rasulullah SAW bersabda, “berpikirlah kamu tentang semua makhluk Allah tetapi janganlah kamu memikirkan ….”
a. kekuasaan Allah d. dzat Allah
b. ciptaan Allah e. rahimnya Allah
c. rahmannya Allah
2. Allah SWT sebagai pencipta alam semesta beserta isinya secara logika sudah tentu wajib bersifat ..
a. sama’ d. wahdaniyah
b. bashar e. qidam
c. qiyamuhu binafsihi
3. Dalil naqli bahwa Allah itu wajib bersifat wujud antara lain terdapat dalam Al Qur’an surat Al An’am ayat …
a. 99 d. 102
b. 100 e. 103
c. 101
4. Kuasanya Allah itu dengan memperhatikan tumbuhan “murbei”, hasil pengamatan kekuasaan Allah dari imam …
a. Ahmad d. Maliki
b. Hambali e. Hanafi
c. Syafi’i
5. Perhatikan pernyataan-pernyataan berkut!
1. Tidak ada Tuhan selain Allah
2. Allah SWT pencipta segala sesuatu
3. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
4. Perintah beribadah hanya kepada Allah
5. Allah SWT pemelihara segala sesuatu
Yang merupakan maksud kandungan fiman Allah SWT (QS. Al-An’am [6]: 102)
ذ لِكُمُ اللهُ رَبُّكُمْ لاَ اِلهَ اِلاَّ هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وً هُوَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلَ
Adalah …
a. 1, 2, 3 d. 1, 2, 4, 5
b. 2, 3, 4 e. 1, 2, 3, 4, 5
c. 3, 4, 5
6. Yang termasuk sifat salbiyah bagi Allah SWT adalah…
a. Wadaniyah d. Ilmu
b. Iradah e. Kalam
c. Sama’
7. Keyakinan bahwa Allah SWT itu Al Hasib (Maha Menjamin) hendaknya mendorong seorang mukmin untuk …
a. berserah diri pada nasib d. berbicara yang perlu-perlu saja
b. tidak berputus asa dan terus berusaha e. selalu bermusyawarah dalam setiap masalah
c. bersikap sederhana dalam kehidupan
8. Allah wajib bersifat qidam dan mustahil bersifat …
a. baqa’ d. adam
b. fana e. wujud
c. hudus
9. قَلِيْلاً Arti dari potongan ayat tersebut adalah…
a. panjang d. banyak
b. pendek e. tinggi
c. sedikit
10. Allah mustahil bersifat ‘ajzu dan wajib bersifat …
a. wahdaniyah d. iradat
b. baqa’ e. fana
c. qudrat

11. Seorang laki-laki yang percaya/beriman kepada Allah swt disebut ….
a. Muslim d. Mukminat
b. Muslimat e. Muslihin
c. Mukmin
12. Tandanya seorang benar imannya kepada Allah swt…
a. giat menuntut ilmu d. meyakini akan kebesaran-Nya
b. tunduk dan patuh kepada-Nya e. meyakini semua ciptaan-Nya
c. giat bekerja
13. Beriman kepada Allah swt, dapat diartikan mengakui adanya Allah swt dan semua sifat-sifat….
a. kekuasaan-Nya d. Keadilan-Nya
b. kesempurnaan-Nya e. Kehaliman-Nya
c. kebesaran-Nya
14. Sifat Allah yang wajib diyakini oleh setiap mukmin sebanyak….
a. 11 sifat d. 14 sifat
b. 12 sifat e. 15 sifat
c. 13 sifat
15. Seorang selalu malu saat akan mengerjakan perbuatan maksiat, karena ia yakin bahwa perbuatannya itu dilihat Allah, Allah bersifat….
a. baqa d. qudrat
b. sama’ e. iradat
c. bashar
16. Sifat yang mustahil bagi Allah swt, ialah yang …. bagi Allah swt.
a. harus ada d. tidak boleh tidak
b. tidak mungkin e. mungkin ada
c. boleh ada
17. Alam semesta yang indah tertata rapi merupakan dalil aqli bahwa ….
a. Allah swt ada d. Allah swt melihat
b. Allah swt kekal abadi e. Allah swt mengetahui
c. Allah swt mendengar
18. Allah swt Maha Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan diterangkan dalam Al Qur an….
a. surat Al Asr d. surat Al Mulk
b. surat Al Kautsar e. surat Al Hasyar
c. surat Al Ikhlas

19. Ayat (QS. Al-Hujurat [49]: 18) di atas menjadi dalil naqli bahwa Allah swt bersifat…
a. wahdaniyah d. bashar
b. qidam e. kalam
c. iradat
20. Allah selalu memperhatikan setiap perbuatan manusia yang baik dan yang buruk karena Allah swt bersifat….
a. sama’ d. bashar
b. qudrat e. kalam
c. iradat

B. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan tepat dan benar!
1. Sebutkan tiga sifat wajib bagi Allah SWT!
2. Sebutkan tiga sifat mustahil bagi Allah SWT!
3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan “asmaul husna”!
4. Jelaskan fungsi iman kepada Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari!
5. Ada berapakah asmaul husna itu? Coba kamu sebutkan sebanyak-banyaknya!
6. Tunjukkan dalil Aqli tentang wujud Allah SWT!
7. Apa yang dimaksud dengan iman? Jelaskan!
8. Apa yang dimaksud dengan beriman kepada Allah SWT?
9. Apa saja yang menjadi bukti bahwa Allah Maha Kuasa? Coba kamu tuliskan!
10. Pantaskah orang yang berilmu tinggi bersikap sombong? Apa alasannya?

Makna Ikhlas Dalam Ibadah


Ketahuilah wahai saudaraku kaum muslimin -semoga Allah memberikan hidayah kepadaku dan kepada kalian untuk berpegang teguh kepada Al-Kitab dan As-Sunnah-, sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan menerima suatu amalan apapun dari siapa pun kecuali setelah terpenuhinya dua syarat yang sangat mendasar dan prinsipil, yaitu:
1.    Amalan tersebut harus dilandasi keikhlasan hanya kepada Allah, sehingga pelaku amalan tersebut sama sekali tidak mengharapkan dengan amalannya tersebut kecuali wajah Allah Ta’ala.
2.    Kaifiat pelaksanaan amalan tersebut harus sesuai dengan petunjuk Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-.
Dalil untuk kedua syarat ini disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam beberapa tempat dalam Al-Qur`an. Di antaranya:
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Rabbnya”. (QS. Al-Kahfi : 110)
Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata dalam Tafsirnya (3/109) menafsirkan ayat di atas, “[Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh], Yaitu apa-apa yang sesuai dengan syari’at Allah, [dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Rabbnya] yaitu yang hanya diinginkan wajah Allah dengannya tanpa ada sekutu bagi-Nya. Inilah dua rukun untuk amalan yang diterima, harus ikhlas hanya kepada Allah dan benar di atas syari’at Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-”.
Dan juga Firman Allah Ta’ala:
“Dia lah yang menjadikan mati dan hidup, agar Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalannya”. (QS. Al-Mulk : 2)
Al-Fudhoil bin Iyadh -rahimahullah- sebagaimana dalam Majmu’ Al-Fatawa karya Ibnu Taimiah -rahimahullah- (18/250) berkata ketika menafsirkan firman Allah ["siapa di antara kalian yang paling baik amalannya”], “(Yaitu) Yang paling ikhlas dan yang paling benar. Karena sesungguhnya amalan, jika ada keikhlasannya akan tetapi belum benar, maka tidak akan diterima. Jika amalan itu benar akan tetapi tanpa disertai keikhlasan, maka juga tidak diterima, sampai amalan tersebut ikhlas dan benar. Yang ikhlas adalah yang hanya (diperuntukkan) bagi Allah dan yang benar adalah yang berada di atas sunnah (Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-)”.
Berikut uraian kedua syarat ini:
Syarat Pertama: Pemurnian Keikhlasan Hanya Kepada Allah
Ini adalah konsekuensi dari syahadat pertama yaitu persaksian bahwa tidak ada sembahan yang berhak untuk disembah dan diibadahi kecuali hanya Allah -Subhanahu wa Ta’ala- semata serta meninggalkan dan berlepas diri dari berbagai macam bentuk kesyirikan dan penyembahan kepada selain Allah Ta’ala.
Ada banyak dalil yang menopang syarat ini, di antaranya:
Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)”. (QS. Az-Zumar : 2-3)
Allah Ta’ala berfirman:
“Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama”. (QS. Az-Zumar : 11)
Dan dalam firman-Nya:
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus”. (QS. Al-Bayyinah : 5)
Adapun dari As-Sunnah, maka Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- telah menegaskan dalam sabda beliau:
“Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niatnya masing-masing, dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Maka, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia raih atau karena perempuan yang hendak dia nikahi, maka hijrahnya kepada sesuatu yang dia hijrah kepadanya”. (HR. Al-Bukhari no. 54, 2392 dan Muslim no. 1907 dari sahabat Umar bin Al-Khaththab -radhiallahu anhu-)
Kemudian, keikhlasan yang diinginkan di sini adalah mencakup dua perkara:
1.    Lepas dari syirik ashgar (kecil) berupa riya` (ingin dilihat), sum’ah (ingin didengar), keinginan mendapatkan balasan duniawi dari amalannya, dan yang semisalnya dari bentuk-bentuk ketidakikhlasan. Karena semua niat-niat di atas menyebabkan amalan yang sedang dikerjakan sia-sia, tidak ada artinya dan tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala.
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman dalam hadits Qudsy:
“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan apapun yang dia memperserikatkan Saya bersama selain Saya dalam amalan tersebut, maka akan saya tinggalkan dia dan siapa yang dia perserikatkan bersama saya”. (HR. Muslim no. 2985 dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu-)
Kata “dia” bisa kembali kepada pelakunya dan bisa kembali kepada amalannya, Wallahu A’lam. Lihat Fathul Majid hal. 447.
Bahkan Allah Ta’ala telah menegaskan:
“Barangsiapa yang menghendaki (dengan ibadahnya) kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Hud : 15-16)
2.    Lepas dari syirik akbar (besar), yaitu menjadikan sebahagian dari atau seluruh ibadah yang sedang dia amalkan untuk selain Allah -Subhanahu wa Ta’ala-. Perkara kedua ini jauh lebih berbahaya, karena tidak hanya membuat ibadah yang sedang diamalkan sia-sia dan tidak diterima oleh Allah, bahkan membuat seluruh pahala ibadah yang telah diamalkan akan terhapus seluruhnya tanpa terkecuali.
Allah Ta’ala telah mengancam Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- dan seluruh Nabi sebelum beliau dalam firman-Nya:
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) yang sebelummu: “Jika kamu berbuat kesyirikan, niscaya akan terhapuslah seluruh amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Az-Zumar : 65)
Dari syarat yang pertama ini, sebagian ulama ada yang menambahkan satu syarat lain diterimanya amalan, yaitu: Aqidah pelakunya haruslah aqidah yang benar, dalam artian dia tidak meyakini sebuah aqidah yang bisa mengkafirkan dirinya.
Contoh: Ada seseorang yang shalat dengan ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, hanya saja dia meyakini bahwa Allah Ta’ala berada dimana-mana. Keyakinan dia ini adalah keyakinan yang kafir karena merendahkan Allah, yang karenanya shalatnya tidak akan diterima.
Contoh lain: Seseorang yang mengerjakan haji dengan ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, hanya saja dia meyakini bahwa ada makhluk yang mengetahui perkara ghaib. Maka hajinya pun tidak akan diterima karena dia telah meyakini keyakinan yang rusak lagi merupakan kekafiran.
Karena tempat yang terbatas, insya Allah pembahasan syarat yang kedua akan kami sebutkan pada dua edisi mendatang, wallahu a’lam bishshawab.
[Rujukan: Studi Kritis Perayaan Maulid Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, bab keempat. Yang ditulis oleh Ust. Abu Muawiah Hammad -hafizhahullah- dengan beberapa perubahan]

Surat Aż-Żāriyāt Ayat 56

a. Kegiatan Menyimak dan Membaca
b. Mengartikan Per Lafal

Lafal
Arti
  dan tidak
Aku ciptakan
Jin
dan manusia
kecuali
untuk beribadah kepada-Ku
c. Terjemahan Lengkap
Dan Aku tidak menciptkan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku (Q.S. Aż-Żāriyāt : 56)
d. Penerapan Ilmu Tajwid

Lafal
Hukum Bacaan
Alasan
  mad clip_image010
qalqalah
izhār
ikhfā’
Huruf mad alif berada setealh fathah
Huruf qaf dalam keadaan sukun
Alif lam bertemu huruf jim
Nun mati bertemu sin
e. Inti Sari
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah swt tidaklah menjadikan jin dan manusia, melainkan untuk menyembah-Nya. Jin dan manusia dijadikan Allah swt untuk tunduk dan merendahkan diri kepada-Nya. Hal itu diwujudkan dengna menaati semua peraturan Allah swt serta menerima segala takdir-Nya. Ayat tersebut juga menguatkan perintah kepada manusia untuk selalu berzikir dan beribadah kepada Allah swt.
4. Surat Al-An‘ām Ayat 162 – 163
a. Kegiatan Menyimak dan Membaca
b. Mengartikan Per Lafal

Lafal
Arti
  katakanlah
sesungguhnya
salatku
ibadahku
hidupku
matiku
hanyalah untuk Allah
Tuhan semesta alam
tidak ada sekutu
bagi-Nya
dan demikian itulah
yang diperintahkan kepadaku
dan aku
orang yang pertama
menyerahkan diri
c. Terjemahan Lengkap
Katakanlah, “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan demikia itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama – tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (Q.S Al- An‘ām : 162 – 163)
d. Penerapan Ilmu Tajwid

Lafal
Hukum Bacaan
Alasan
  gunnah
mad clip_image010[1]
clip_image012
izhār
mad ‘āridi lis-sukūn
Nun dalam keadaan tasydid
Huruf mad ya berada setealh harakat kasrah
Lam jalalah berada setelah harakat kasrah
Alif lam bertemu dengan ‘ain
Huruf mad ya bertemu sukun karena wakaf atau berhenti
e. Inti Sari
Dalam ayat tersebut, Allah swt memerintahkan Nabi Muhammad saw supaya mengatakan bahwa salatnya, ibadahnya, hidupnya, dan matinya adalah semata – mata untuk Tuhan semesta alam. Selain itu, dua ayat ini juga mengandung ajaran Allah swt kepada Nabi Muhammad saw yang harus disampaikan kepada umatnya. Ajaran itu berisi cara hidup seorang muslim di dunia ini. Semua amal ibadah harus dilaksanakan dengan tekun, ikhlas, tanpa pamrih, dan sepenuh hati karena Allah swt.
Seorang muslim harus yakin kepada kodrat dan iradat Allah swt. Hal itu disebabkan Allah swt adalah zat yang menentukan hidup dan mati seseorang. Oleh karena itu, seorang muslim tidak perlu takut mati dalam berjihad di jalan Allah swt. Seorang muslim juga tidak boleh takut kehilangan kedudukannya dalam menyampaikan dakwah Islam.
5. Surat Al-Bayyinah Ayat 5
a. Kegiatan Menyimak dan Membaca
b. Mengartikan Per Lafal

Lafal
Arti
  dan tidak
mereka disuruh
kecuali
supaya menyembah Allah
dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya
dalam menjalankan agama
dengan lurus
dan supaya mereka mendirikan
salat
dan menunaikan
zakat
dan yang demikian itulah
agama yang lurus
c. Terjemahan Lengkap
Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memeurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan slaat dan menunaikan zakat dan yang demikia itulah agama yang lurus. (Q.S Al-Bayyinah : 5)
d. Penerapan Ilmu Tajwid

Lafal
Hukum Bacaan
Alasan
  mad jā’iz munfasil
clip_image014
mad clip_image010[2]
idgām syamsiyyah
mad wājid muttasil
izhār qamariyyah
Huruf mad bertemu hamzah di lain lafal
Lam jalalh berada setelah harakat damah
Huruf mad ya berada setelah harakat kasrah
Alif lam bertemu dengan huruf dal
Huruf mad betemu dengan hamzah dalam satu lafal
Alif lam betemu huruf qaf
e. Inti Sari
Dalam ayat tersebut Allah swt menegaskan bahwa manuisa tidak diperintah, kecuali untuk beribadah kepada allah swt. Perintah yang ditujukan kepada manusia adalah untuk memberikan jalan kepada manusia dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Untuk mencapai hal itu, manusia harus berbakti kepada Allah swt dengan melaksanakan ibadah secara ikhlas lahir dan batin. Hal itu dilakukan dengan cara menjauhi perbuatan syirik dalam beribadah kepada Allah swt.
Ikhlas adalah melakukan ibadah dengan tulus hati dan semata – mata mengharap rida Allah swt. Orang yang mempunyai sifat ikhlas disebut mukhlis.
Apabila dalam beribadah ada motif selain karena Allah swt semata, ibadah tersebut akan diwarnai oleh sikap ria, sumah, sombong, angkuh, dan ujub.
Beberapa keutamaan sikap ikhlas adalah sebagai berikut :
1) Ikhlas merupakan syarat mutlak diterima atau tidaknya suatu ibadah.
2) Orang yang ikhlas akan senantiasa menjalankan ibadah dengan semangat, aik dilihat orang maupun tidak. Hal itu disebabkan ia beribadah bukan untuk mengharap pujian dan sanjungan orang lain.
3) Orang yang ikhlas akan senantiasa sabar, tabah, teguh pendirian, dna tidak kecil hati. Ia akan tetap melakukan kebaikan walaupun banyak orang yang mencemooh dan mencelanya.
4) Orang yang ikhlas tidak akan sombong pada saat mendapat pujian dan sangjungan dari orang lain.
5) Keikhlasan akan mendatangkan ketenangan dan ketentraman hati serta menjauhkan diri dari godaan iblis. Iblis tidak akan mampu menggoda dan menyesatkan orang yang ikhlas.
B. Pengayaan Materi tentang Ilmu Tajwid
Pengayaan materi tentang ilmu tajwid dalam bab ini akan membahas masalah makhraj huruf hijaiah. Pembahasan materi tersebut selengkapnya dikemukakan dalam uraian berikut ini.
1. Makhraj
Makhraj ialah tempat keluarnya bunyi huruf – huruf Arab pada lisan atau mulut manusia. Masing – masing huruf mempunyai makhraj atau tempat keluarnya masing – masing. Dalam ilmu tajwid, makhraj ada lima macam. Lima macam makhraj tersebut adalah sebagai berikut.

No.
Makhraj
Arti
1.
2.
3.
4.
5.
  Lubang tenggorokan dan mulut
Tenggorokan
Lidah
Kedua bibir
Pangkal hidung
Kelima makhraj tersebut kemudian dirinci lagi menjadi tujuh belas makhraj. Tujuh belas makhraj tersebut adalah sebagai berikut :

No.
Makhraj
Huruf Hijaiah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
Rongga tenggorakan
Pangkal tenggorokan
Tengah tenggorokan
Ujung tenggorokan
Pangkal lidah dekat anak lidah dengan langit-langit yang lurus di atasnya
Pangkal lidah dengan langit-langit yang lurus di atasnya, agak keluar sedikit dari makhraj qaf
Lidah bagian tengah dengan langit-langit yang lurus di atasnya
Salah satu tepi lidah dengan geraham atas
Lidah bagian depan sebelah makhraj dad dengan gusi atas
Ujung lidah dengan gusi atas agak keluar sedikit dari makhraj lam adalah makhraj nun yang bukan idgām atau ikhfā’
Ujung lidah agak ke dalam sedikit, lebih dalam daripada makhraj nun
Ujung lidah dengan pangkal dua gigi yang atas
Ujung lidah dengan rongga antara gigi atas dan gigi bawah, dan dekat dengan gigi atas
Ujung lidah dengan ujung dua buah gigi yang atas
Bagian tengah dari bibir bawah dengan ujung dua buah gigi yang atas
Kedua bibir atas dan bawah, untuk mim dan ba harus rapat, sedangkan wau agak merenggang
Pangkal lidah
Huruf gunnah (dengung)
2. Qalqalah
Qalqalah adalah membunyikan huruf mati dengan suara memantul dari makhraj hurufnya. Huruf qalqalah ada lima. Kelima huruf qalqalah tersebut dalah sebagai berikut :
1.
Bacaan qalqalah ada dua macam. Dua macam bacaan qalqalah tersebut adalah qalqalah sugra dan qalqalah kubra.
a. Qalqalah sugra ialah jika huruf qalqalah mendapat harakat sukun ditengah suku kata. Pantualn dari qalqalah sugra itu tidak terlalu sangat atau hanya sedikit.

No.
Lafal
Sebab Terjadinya
Cara Membacanya
1.
2.
  Huruf qaf dalam keadaan sukun di tengah kalimat
Huruf ta dalam keadaan sukun di tengah kalimat
Suara huruf qaf dipantulkan sedikit
Suara huruf ta dipantulkan sedikit
b. Qalqalah kubra ialah jika huruf qalqalah mendapatkan harakat sukun di akhir kata atau karena wakaf (berhenti). Pantulan qalqalah kubra lebih besar daripada qalqalah sugra, terutama jika berada sesudah huruf mad dan lebih besar lagi apabila huruf qalqalah bertasydid.

No.
Lafal
Sebab Terjadinya
Cara Membacanya
1.
2.
  Huruf qaf sukun di akhir kalimat / karena wakaf
Huruf ba sukun karena wakaf dan sesudah mad
Suara huruf qaf dipantulkan agak kuat
Suara huruf ba dipantulkan kuat
3. Gunnah
Gunnah adalah membaca dengan dengung karena tasydid. Hurufnya ada dua, yaitu mim dan nun. Contoh :

No.
Lafal
Sebab Terjadinya
Cara Membacanya
1.
2.
  Huruf nun ditasydid
Huruf mim ditasydid
Dibaca dengan dengung
Deibaca dengan dengung
C. Pengayaan Materi tentang Ilmu Al-Qur’an
Pengayaan materi tentang ilmu Al-Qur’an dalam bab ini akan membahas kedudukan dan kandungan Al-Qur’an. Pembahasan selengkapnya akan dikemukakan dalam uraian berikut ini.
1. Kandungan Al-Qur’an
Al-Qur’an merupakan wahyu Allah swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, serta menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Al-Qur’an merupakan pedoman hidup bagi umat manusia. Hal itu dikarenakan isi Al-Qur’an telah mengandung kesempurnaan tentang :
a. pokok – pokok akidah;
b. petunjuk – petunjuk untuk memperoleh kebahagiaan dua dan akhirat;
c. pembenaran terhadap kitab – kitab terdahulu;
d. penghapusan syariat – syariat sebelumnya.
Al-Qur’an merupakan koreksi terhadap kesalahan kitab – kitab yang terdahulu. Kesalahan kitab – kitab tersebut disebabkan oleh tercampurnya isi kitab tersebut dengan karangan manusia yang tidak bertanggung jawab.
2. Kandungan Al-Qur’an
Al-Qur’an mencakup semua aspek kehidupan umat manusia, baik di dunia maupun akhirat.
Aspek – aspek tersebut adalah sebagai berikut :
a. Akidah
Akidah ialah kepercayaan atau keimanan. Rukun iman meliputi enam hal, yaitu iman kepada Allah swt, iman kepada para malaikat, iman kepada kitab – kitab Allah swt, iman kepada para rasul, iman kepada hari akhir, dan iman kepada kada dan kadar. Akidah menjadi garis pemisah yang jelas antra iman dan kafir.
b. Akhlak
Al-Qur’an mengajarkan kepada umat Islam agar senantiasa berhias dengan akhlakul mahmudah atau akhlak yang utama serta menjauhi akhlakul mazmumah atau akhlak yang tercela.
c. Kisah – kisah
Al-Qur’an memuat banyak kisah. Kisah – kisah tersebut tentu bukan sekadar cerita tanpa tujuan, tetapi untuk dijadikan pelajaran.
d. Wa‘du dan clip_image016
Wa‘du adalah janji baik yang disampaikan Allah swt kepada orang – orang yang beriman dan beramal saleh. Slaah satu contoh janji baik tersebut adalah Surat An-Nūr Ayat 55. Adapun clip_image018 adalah ancaman atau janji buruh yang disampaikan Allah swt kepada orang – orang yang tidak beriman dan durhaka. Salah satu contoh janji buruk tersebut adalah Surat An-Nahl Ayat 112.
e. clip_image020 dan clip_image022
clip_image020[1] adalah gambaran yang menyenangkan yang disampaikan Allah swt kepada orang – orang yang beriman. Contohnya adalah gambaran kehidpan orang – orang yang tinggal di surga, seperti yang terdapat dalam surat Al-Gāsyiyah Ayat 8 – 16.
Adapun clip_image025 adalah gambaran yang menakutkan yang disampaikan Allah swt kepada orang – orang yang tidak beriman dan durhaka. Contohnya adalah gambaran kehidupan orang – orang yang tinggal di neraka, seperti yang terdapat dalam surat Al-Gasyiyah Ayat 2 – 7.
f. Hukum Amaliah
Hukum amaliah adalah hukum yang menyangkut hubungan lahiriah antara manusia dan Allah swt antara manusia dan sesamanya, serta antra manusia dan alam sekitarnya. Hukum amaliah mencakup hukum ibadah, hukum manakahat, hukum mawaris, hukum muamalah, hukum jinayah, serta hukum perang dan damai.
clip_image026
A. Asal Usul Manusia dan Tugasnya
1. Surat Al-Mu’min Ayat 67
a. Allah swt, menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah. Tanah menyediakan unsur – unsur yang dibutuhkan tumbuhan untuk hidup. Binatang kemudian memakan tumbuhan itu. Dari hewan dan tumbuhan itulah manusia mendaptakan makannya. Dari sari pati makanan yang dikonsumsi manusia itu, Allah swt menciptakan sel sperma yang menjadi cikal bakal manusia yang baru.
b. Manusia akan mengalami tiga masa, yaitu masa kanak – kanak, masa dewasa, dan masa tua. Manusia akan sampai kepada kematiannya pada salah satu di antara ketiga masa tersebut.
2. Surat Al-Baqarah Ayat 30
a. Allah swt memberi tahu para malaikat bahwa Dia akan menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Kemudian, malaikat bertanya mengapa Allah swt menciptakan manusia dan menugaskannya sebagai khalifah di muka bumi, padahal manusia adalah makhluk yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah. Namun, Allah swt menjelaskan bahwa Dia mengetahui segala sesuatu yang tidak diketahui oleh para malaikat.
b. Khalifah di muka bumi adalah kedudukan manusia sebagai wakil Allah swt. Sebagi khalifah, manuisa bertugas menjalankan perintah-Nya untuk memakmurkan bumi serta memanfaatkan segala yang ada padanya.
3. Surat Aż-Żāriyāt Ayat 56
a. Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah swt tidaklah menjadikan jin dan manuisa melainkan untuk mengenal-Nya dan supaya menyembah-Nya.
b. Allah swt menjadikan jin dan manusia supaya tunduk dan mernedahkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu, semua makhluk, baik jin maupun manusia, wajib tunduk kepada peraturan Allah swt, merendahkan driri terhadap kehendak-Nya, serta menerima segala takdir-Nya.
4. Surat Al-An‘ām Ayat 162 – 163
a. Ayat ini memmerintahkan manusia untuk menyatakan bahwa salat, ibadah, hidup, dan matinya adalah semata – mata untuk Allah swt, Tuhan semesta alam.
b. Kedua ayat tersebut menjelaskan bagaimana seharusnya manusia hidup di alam ini. Semua ibadah harus dilaksanakan dengan tekun, sepenuh hati, ikhlas, dna tanpa pamrih, karena Allah swt.
5. Surat Al-Bayyinah Ayat 5
a. Allah swt menjelaskan dalam ayat tersebut bahwa manusia tidak diperintah, kecuali untuk beribadah kepada-Nya.
b. Semua perintah Allah swt yang ditujukan kepada manusia adalah untuk kebaikan mereka, demi mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Peintah itu adalah ikhlas lahir dna batin serta menjauhi perbuatan syirik dalam beribadah kepada Allah swt.
c. Ikhlas adalah beramal dengan tulus hati dan semata – mata mengharap rida Allah swt. Orang yang mempunyai sifat ikhlas dikenal dengan sebutan mukhlis.
clip_image027

Septi adalah seorang remaja yang kurang bisa bergaul. Ia mempunyai kebiasaan mengurung diri dan jarang bermain dengan teman – teman sebayanya. Ketika berada di sekolah, ia sering menyendiri walaupun teman – temannya selalu mengajaknya bersenda gurau pada jam–jam istirahat. Septi merasa malu dan tidak percaya diri bila harus bergaul dengan mereka. Septi merasa bahwa dirinya tidak secantik teman – temannya.
Padahal, menurut teman-temannya, wajah Septi lumayan cantik dan tidak kalah dengan teman lainnya. Sementara itu, Hilman memiliki sifat yang sebaliknya. Ia sangat percaya diri, bahkan cenderung sombong. Ia merasa
bahwa dirinyalah yang paling tampan di antara teman – temannya. Kerap kali ia mengejek dan meremehkan mereka.
Sifat Septi dan Hilman tentu saja tidak menyenangkan teman – temannya. Ahmad yang menjadi ketua kelas akhirnya membahas persoalan tersebut dengan Pak samsul, wali kelas I. Mereka sepakat untuk memberikan bimbingan tambahan kepada keduanya. Setelah berjalan beberapa bulan, akhirnya Septi dan Hilman bisa menyadari kekeliruannya. Mereka bahkan berhasil mendapatkan peringkat kelas dengan nilai yang bagus.


clip_image028
A. Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, c, d, atau e di depan jawaban yang paling benar !
1. Menurut Q.S. Al-Mi’min Ayat 67, manusia diciptakan Allah swt dari ….
a. tanah d. sel telur
b. spermatozoa e. segumpal darah
c. segumpal daging
2. Selain Q.S. Al-Mu’min Ayat 67, surat lainyang menjelaskan proses kejadian manusia adalah Surat ….
a. Al-Baqarah Ayat 30 d. Al-An‘ām Ayat 162 – 163
b. Al-Mu’min Ayat 12 – 14 e. Al-Bayyinah Ayat 5
c. Aż-Żāriyāt Ayat 56
3. Allah swt menjadikan manusia sebagai wakil-Nya di bumi. Manusia bertugas mengelola bumi untuk kemakmurannya. Istilah ini dikenal dengan nama ….
a. khalafah d. wahyullah
b. khalifah e. insan kamil
c. wakilullah
4. Malaikat menyatkan bahwa setelah ditempatkan di bumi, manusia akan ….
a. selalu bertasbih kepada-Nya d. selalu beribadah
b. selalu menyucikan-Nya e. membuat kerusakan dan mengalirkan darah
c. selalu berbuat baik
5.
Potongan ayat tersebut menjelaskan bahwa ….
a. sesungguhnya Allah Maha Menguasai segala sesuatu
b. sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu ketahui
c. sesungguhnya Allah lebih tahu apa yang tidak kamu ketahui
d. sesungguhnya Allah Mahaadil dan Mahabijaksana
e. sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat
6. Menurut Q.S. Aż-Żāriyāt Ayat 56, tujuan Allah swt menciptakan jin dan manusia adalah ….
a. untuk menunjukkan kekuasaan-Nya d. untuk meramaikan alam ini
b. untuk beribadah kepada-Nya e. untuk saling menolong
c. untuk memperbanyak keturunan
7.
Kalimat yang bergaris bawah pada ayat tersebut mempunyai arti ….
a. tidak Aku ciptakan d. jin
b. kecuali e. manusia
c. untuk beribadah kepada-Ku
8. Berikut ini yang bukan termasuk kandungan Q.S Al-An‘ām Ayat 162 – 163 adalah ….
a. sesungguhnya salatku adalah milik Allah d. sesungguhnya hidupku adalah milik Allah
b. sesungguhnya musibahku adalah milik Allah e. sesungguhnya matiku adalah milik Allah
c. sesungguhnya ibadahku adalah milik Allah
9.
Potongan ayat tersebut mempunyai hukum bacaan ….
a. mad clip_image030 d. idgām bigunnah
b. gunnah e. idgām bilāgunnah
c. izhār
10. Menurut Q.S. l-Bayyinah ayat 5, Allah swt tidak memerintahkan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Nya dengan ….
a. khusyuk d. tekun
b. sungguh – sungguh e. serius
c. ikhlas
B. Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat dan tepat !
1. Kemukakan tahapan kejadian manusia menurut Q.S. Al-Mu’minūn Ayat 12 – 13 !
2. Mengapa para malaikat mempertanyakan rencana Allah swt menjadikan manusia sebagai khalifah ?
3. Apa yang dimaksud dengan “sebagai khalifah”?
4. Kemukakan kandungan dari Q.S. Aż-Żāriyāt Ayat 56 !
5. Deskripsikan orang yang senantiasa bersikap ikhlas dalam hidup ini !
clip_image031
1. Diskusikan proses kejadian manusia menurut Al-Qur’an dan menurut ilmu biologi !
2. Diskusikan apakah benar kekhawatiran para malaikat bahwa manusia kana melakukan kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi menjadi kenyataan !
3. Diskusikan mengapa manusia harus ikhlas dalam beribadah kepada Allah swt ! Terangkan pada sebab dan akibatnya !
4. Bacalah Q.S Al-An‘ām Ayat 162 – 163, kemudian hafalkan dan hayati kandungannya !
5. Carilah hukum bacaan yang kamu ketahui dari Q.S Aż-Żāriyāt Ayat 56 dan Q.S Al-Bayyinah Ayat 5 beserta alasannya dengan menggunakan format berikut !

Lafal
Hukum Bacaan
Cara Membacanya
     
Hikmah
Sesungguhnya orang pandai itu adalah orang yang pandai dari sisi perbuatannya. Bukanlah kepandaian itu diukur dengan kepandaian kata dan bicaranya.

MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH DI MUKA BUMI



A. Surat Al-Mu’min Ayat 67, Al-Baqarah Ayat 30, Aż-Żāriyāt Ayat 56; Al-An‘ām Ayat 162 – 163, dan Al-Bayyinah Ayat 5
B. Pengayaan Materi tentang Ilmu Tajwid
C. Pengayaan Materi tentang Ilmu Al-Qur’an
Diangkatnya manusia sebagai khalifah di muka bumi sudah menimbulkan pertanyaan dari para malaikat. Sejarah membuktikan bahwa pernyataan malaikat itu benar adanya. Manusia tidak pernah berhenti membuat kerusuhan dan menumpahkan darah.
Sebagai orang yang beriman, kita harus berdakwah dan mengajak semua manusia ke dalam kebaikan. Hal itu merupakan tugas kita semua dalam mewujudkan agama Islam sebagai rahmatan lil-‘ālamin.
Kompetensi Dasar
1. Siswa mampu membaca dan mendeskripsikan ayat-ayat tentang kejadian manusia dan tugasnya sebagai khalifah di bumi.
2. Siswa mampu membaca dan mendeskripsikan ayat-ayat tentang prinsip beribadah serta mampu menerapkannya dalam perilaku sehari-hari.
Standar Kompetensi
Siswa mampu mendeskripsikan ayat-ayat Al-Qur’an dan mengamalkan ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.
Indikator
Setelah proses pembelajaran, siswa mampu
1. Membaca dan mengidentifikasi tajwid dalam Surat Al-Mu’min Ayat 67;
2. Menyimpulkan kandungan Surat Al-Mu’min Ayat 67 tentang proses kejadian manusia;
3. Menyimpulkan kandungan Surat Al-baqarah Ayat 30 tentang peranan manusia sebagai khalifah di bumi;
4. menyimpulkan kandungan Surat Aż-Żāriyāt Ayat 56 yang berkaitan dengan tugas manusia sebagi makhluk;
5. menunjukkan perilaku sebagi hamba Allah swt;
6. menyimpulkan kandungan Surat Al-An‘ām Ayat 162-163 dan Al-Bayyinah Ayat 5 tentang keikhlasan dalam beribadah;
7. menunjukkan perilaku ikhlas dalam beribadah.
Tadarus
1. Surat Al-Mu’min ayat 67
Dia lah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari (setitis) air benih, kemudian dari sebuku darah beku, kemudian dari seketul daging; kemudian Ia mengeluarkan kamu berupa kanak-kanak; kemudian kamu (dipelihara) hingga sampai ke peringkat umur dewasa; kemudian kamu (dipanjangkan umur) hingga sampai menjadi tua. Dan (dalam pada itu) ada di antara kamu yang dimatikan sebelum itu. (Allah melakukan kejadian yang demikian) supaya kamu sampai ke masa yang ditentukan (untuk menerima balasan); dan supaya kamu memahami (hikmat-hikmat kejadian itu dan kekuasaan Tuhan).
2. Surat Al-Mu’minūn Ayat 12 – 14
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari pati (yang berasal) dari tanah;
Kemudian Kami jadikan “pati” itu (setitis) air benih pada penetapan yang kukuh;
Kemudian Kami ciptakan air benih itu menjadi sebuku darah beku. lalu Kami ciptakan darah beku itu menjadi seketul daging; kemudian Kami ciptakan daging itu menjadi beberapa tulang; kemudian Kami balut tulang-tulang itu dengan daging. Setelah sempurna kejadian itu Kami bentuk dia menjadi makhluk yang lain sifat keadaannya. Maka nyatalah kelebihan dan ketinggian Allah sebaik-baik Pencipta.
3. Surat Al-Baqarah Ayat 30
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat; “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi”. Mereka bertanya (tentang hikmat ketetapan Tuhan itu dengan berkata): “Adakah Engkau (Ya Tuhan kami) hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah (berbunuh-bunuhan), padahal kami sentiasa bertasbih dengan memujiMu dan mensucikanMu. Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa yang kamu tidak mengetahuinya”.
Mukadimah
Al-Qur’an adalah kalam Allah swt yang merupakan mukjizat yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw untuk disampaikan kepada umat manusia sebagai pedoman hidup.
Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah. Hadis berikut ini menerangkan tentang keutamaan – keutamaan membaca Al-Qur’an.
Artinya :
Orang yang mahir membaca Al-Qur’an (kelak) akan bersama duta-duta Allah swt. (malaikat) yang mulia lagi baik-baik, sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan tergagap-gagap (karena belum pandai) dan sangat payah membacanya, ia akan memperoleh dua pahala. (H.R. Bukhari – Muslim)
Membaca Al-Qur’an ada dua macam cara, yaitu tilāwah lafziyyah dan tilāwah hukmiyyah.
1. Tilāwah lafziyyah adalah membaca Al-Qur’an ayat demi ayat, surat demi surat dan juz demi juz. Cara membaca seperti ini sudah membudaya di kalangan kaum muslimin. Pada bulan suci Ramadhan, ayat – ayat suci al-Qur’an dibaca di musala, di masjid, di rumah, dan tempat – tempat lainnya.
2. Tilāwah Hukmiyyah adalah cara membaca Al-Qur’an diiikuti dengan mempelajari dan memahami kalimat demi kalimat, merenungkan kandungannya, serta mengamalkannya. Cara membaca seperti ni harus kita galakkan sehingga umat Islam tidak hanya sekadar membaca, tetapi juga mengerti kandungan ayat – ayat Al-Qur’an.
Kedua cara membaca Al-Qur’an tersebut apabila diamalkan oleh kaum muslimin akan mendapat pahala dan keutamaan.
A. Surat Al-Mu’min Ayat 67, Surat Al-Baqarah Ayat 30, Surat Aż-Żāriyāt Ayat 56, Surat Al-an‘ām Ayat 162 – 163, dan Surat Al-Bayyinah Ayat 5
Pembahasan beberapa surat dan ayat berikut ini meliputi kegiatan menyimak dan membaca, mengartikan per lafal, terjemahan lengkap, penerapan ilmu tajwid, serta ini sari.
1. Surat Al-Mu’min ayat 67
a. Kegiatan Menyimak dan Membaca
b. Mengartikan Per Lafal

Lafal
Arti
  Dialah (Allah)
yang menciptakan kamu
dari tanah
kemudian
dari setetes air mani
dari segumpal darah
melahirkan kamu
sebagai seorang anak
supaya kamu sampai
kepada kedewasaan kamu
dan supaya kamu sampai ke masa tua dan di antara kamu
ada yang diwafatkan
sebelum itu
dan supaya sampai
kepada ajal
yang ditentukan
dan supaya kamu
memahaminya
c. Terjemahan Lengkap
d. Penerapan Ilmu Tajwid

Lafal
Hukum Bacaan
Alasan
  ikhfa’
idgām bigunnah
izhār
ikhfā
gunnah
qalqalah
idgām bigunnah
Nun mati bertemu huruf ta
Nun mati bertemu huruf nun
Nun mati bertemu huruf ‘ain
Tanwin bertemu huruf sa
Huruf mim dalam keadaan tasydid
Huruf ba dalam keadaan sukun
Tanwin bertemu huruf mim
e. Inti Sari
Dari pembahasan tentang Al-Qur’an Surat Al-Mu’min Ayat 76 di atas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut.
1. Allah swt menciptakan manusia dari tanah. Makna ayat tersebut menurut para mufasir adalah bahwa Allah swt menjadikan manusia dari sari pati yang berasal dari tanah. Seorang bapak dan seorang ibu mengonsumsi makanan yang berasal dari tumbuh – tumbuhan dan binatang. Tumbuh – tumbuhan hidup dengan mengambil unsur – unsur yang terdapt dalam tanah. Binatang ternak lalu memakan tumbuh – tumbuhan tersebut. Sari pati makanan yang dimakan bapak menjadi sel sperma, sedangkan sari pati makanan yang dimakan ibu menjadi sel telur. Sel sperma dan sel telur tersebut bertemu dalam rahim sehingga terjadi pembuahan. Peristiwa itu merupakan awal dari proses terciptanya manusia.
2. Allah swt menjelaskan bahwa manusia yang diciptakan-Nya akan mengalami tiga tahap kehidupan, yaitu
a. Masa kanak – kanak (tiflān);
b. Masa dewasa (asyuddakum);
c. Masa tua (syuyūkhan)
3. Di antara manusia ada yang meninggal pada masa kanak – kanak, ada yang meninggal pada masa dewasa, dan ada pula yang meninggal setelah berusia lanjut. Ketentuan mengenai kapan seseorang meninggal berada di tangan Allah swt semata
4. Proses kejadian manusia ini merupakan bahan renungan dan pemikiran bagi manusia sehingga mereka mau beriman kepada Allah swt, pencipta seluruh makhluk ini.
Dalam Surat Al-Mu’minūn Ayat 12, Allah swt, menegaskan bahwa manusia merupakan makhluk ciptaan-Nya yang berasal dari sari pati tanah atau sulālatin min clip_image002 Penegasan Al – Qur’an tersebut diperkuat oleh ilmu biologi.
Menurut ilmu biologi, manuisa, hewan, dan tumbuh – tumbuhan berasal dari tanah. Hal itu telah dibuktikan dengan meneliti abu bekas pembakaran makhluk – makhluk hidup tersebut. Setelah diteliti, ternyata abu bekas pembakaran manusia, hewan, dan tumbuh – tumbuhan mengandung unsur yang sama. Ke semua unsur tersebut terdapat dalam tanah. Unsur – unsur tersebut, antara lain oksigen (O2), hidrogen (H2), belerang (S), zat arang (C), kalium (K), natrium (Na), iodin (I), asam arang (CO2), dan air (H2O).
Dari beberapa ayat tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa manusia diciptakan dalam beberapa tahap. Beberapa tahap tersebut adalah sebagai berikut :
1) Sulālatin min clip_image004 adalah sari pati tanah yang didapatkan melalui makan yang dikonsumsi oleh manusia, baik berupa hewan maupun tumbuh – tumbuhan.
2) Nutfah adalah sel sperma yang dijadikan Allah swt dari sari pati tanah.
3) clip_image006qarārin clip_image008adalah tempat yang kukuh atau rahim. Sel sperma yang terbuat dari sari pati tanah tersebut, kemudian diletakkan di dalam rahim sehingga terjadi pembuahan.
4) ‘Alaqah adalah embrio yang merupakan hasil pembuahan dan berwujud gumpalan darah. Embrio ini terbentuk dari hari kesembilan sampai hari kesebelah setelah pembuahan.
5) Mudgah adalah segumpal daging yang terbentuk dari ‘alaqah.
6) Izām adalah mudgah yang telah diberikan tulang atau kerangka oleh Allah swt.
7) Khalaqan akhara adalah makhluk dalam bentuk yang lain atau manusia yang baru.
2. Surat Al – Baqarah Ayat 30

a. Kegiatan Menyimak dan Membaca
b. Mengartikan Per Lafal

Lafal
Arti
  ingatlah ketika
berkata
Tuhanmu
pada malaikat
sesungguhnya aku
hendak menjadikan
di muka bumi
seorang khalifah
mereka berkata
mengapa Engkau menjadikan
di bumi
orang
yang akan membuat kerusakan
di atas bumi
yang mengalirkan
darah
padahal kami
senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau
dari menyucikan Engkau
Tuhan berfirman
sesungguhnya Aku lebih tahu
sesuatu / apa
yang tidak kamu ketahui
c. Terjemahan Lengkap
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. Al – Baqarah : 30).
d. Penerapan Ilmu Tajwid

Lafal
Hukum Bacaan
Alasan
  gunnah
ikhfā’
qalqalah
idgām bigunnah
mad wājib muttasil
mad jā’iz munfasil
Nun bertasydid
Tanwin bertemu huruf fa
Huruf jim dalam keadaan sukun
Nun mati bertemu huruf ya
Seterlah huruf mad ada hamzah dalam satu lafal
Setelah huruf mad ada hamzah tidak dalam satu lafal
e. Inti Sari
Para malaikat terkejut ketika diberi tahu bahwa Allah swt akan menjadikan Adam sebagai khalifah di muka bumi. Mereka bertanya kepada Allah swt mengapa Adam yang akan diangkat menjadi khalifah, padahal Adam dan keturunannya adalah makhluk yang akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah. Sebaliknya, para malaikat menganggap bahwa dirinya lebih pantas memangku jabatan ersebut sebab mereka senantiasa memuji dan menyucikan Allah swt sepanjang hidup mereka.
Allah swt tidak membenarkan anggapan para malaikat tersebut. Allah swt melakukan segala sesuatu berdasarkan pengetahuan dan hikmah–Nya. Allah swt mengetahui segala sesuatu yang tidak diketahui oleh para malaikat dan semua makhluk – Nya.
Khalifah adalah seseorang yang menjadikan pengganti atau seseorang yang diberi wewenang untuk bertindak atau berbuat sesuai dengan ketentuan – ketentuan dari yang memberi wewenang. Adapun yang dimaksud dengan kekhalifahan Adam adalah kedudukannya sebagai wakil Allah swt di muka bumi. Ia berkewajiban melaksanakan perintah – perintah-Nya untuk memakmurkan bumi serta memanfaatkan segala yang ada padanya. Hal itulah yang memunculkan ungkapan bahwa manusia adalah khalifatullah di bumi.

AYAT-AYAT AL QUR’AN TENTANG MANUSIA DAN TUGASNYA SEBAGAI KHALIFAH DI BUMI


  1. Surat Al Baqarah Ayat 30
Surat ini memiliki kandungan yaitu:
    1. Allah SWT menciptakan manusia sebagai makhluk sempurna yang memiliki dua fungsi, yaitu: sebagai khalifah di bumi.
    2. Fungsi khalifah di bumi, yaitu:
  1. Menjadi pemimpin, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang orang lain dalam upaya mencari ridha Allah SWT.
  2. Memelihara, memakmurkan, melestarikan alam, mengambil manfaatnya, menggali, mengelola alam demi terwujudnya dan kesejahteraan segenap umat manusia.
Perilaku yang mencerminkan surat Al Baqarah ayat 30
Khalifah artinya seseorang yang dijadikan pengganti atau sesesorang yang diberi wewenang untuk bertindak sebagai pengatur atau wakil Allah SWT.
Namun demikian, tugas khalifah tidak hanya bertumpu pada yang bersifatbintelektual belaka, tetapi juga moral. Kekuasaan manusia di muka bumi tidak mutlak, karena dibatasi oleh hukum-hukum Allah SWT yang akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan-Nya.
Syarat-syrat menjadi pemimpin antara lain,
  1. Berpengalaman
  2. Tidak memiliki cacat jasmani
  3. Bertanggung jawab, teguh, dan kuat menjalankan tugas.
Kewajiban seorang pemimpin antara lain,
  1. Membela Negara dan agama serta menjalankan syariat agama dengan benar.
  2. Menjaga keamanan dan ketentraman umum.
  3. Bermusyawarah dengan wakil-wakil rakyat dalam urusannya.
  4. Mengatur perekonomian Negara menurut syariat yang benar.
  5. Mengangkat para pembantu (khalifah) sesuai dengan keahliannya.
  1. Surat Al Mukminun Ayat 12-14
Surat ini memiliki kandungan yaitu:
Proses kejadian manusia, yaitu:
  1. Allah SWT menjadikan saripati tanah dalam tubuh manusia sebagai nutfah (air yang berisi spermatozoa atau disebut sperma) yang terdapat pada seorang laki-laki.
  2. Melalui proses senggama, nutfah masuk ke dalam qarar (rahim atau kandungan ibu), nutfah bertemu dengan sel telur atau ovum, sehingga terjadi pembuahan.
  3. Setelah pembuahan, lalu berproses menjadi ‘alaqah (gumpalan darah).
  4. Dari ‘alaqah kemudian Allah SWT menjadikannya sebagai mudgah (segumpal daging).
  5. Kemudian dari mudgah (gumpalan daging) oleh Allah SWT dijadikan I’zaam (tulang atau rangka).
  6. I’zaam (tulang atau rangka) kemudian di balut atau dibungkus dengan daging, lalu Allah menjadikan sebagai makhluk berbentuk lain, yaitu manusia yang masih kecil dalam kandungan.
Ketika bayi dalam kandungan berusia empat bulan, Allah SWT mengutus seorang malaikat untuk meniup roh kedalamnya. Setelah bayi dalam kandungan mencapai usia 9 bulan 10 hari, Allah menakdirkan bayi tersebut lahir ke dunia. Setelah lahir, berkat lindungan dan rahmat Allah SWT bayi tersebut berkembang menjadi balita, kanak-kanak, anak-anak, remaja, dewasa, dan tua, yang pada akhirnya meninggal dunia.
Perilaku yang mencemirkan surat Al Mukminum ayat 12-14
Manusia adalah makhluk Allah SWT yang paling mulia diantara semua makhluk.kelebihan manusia dengan makhluk yang lain nya terletak pada jasmani dan rohaninya. salah satu perbedaan terbesar terletak pada akal pikiran manusia.Dengan akal pikiran itu,manusia dapat membedakan antara perbuatan baik dan buruk,antara yang khalal dan haram.Dengan akal pikirannya,manusia akan sadar sebagai hamba Allah SWT yang harus melaksanakan kewajiban menyembah kepada-Nya. Manusia juga harus dapat menjalin hubungan kemasyarakatan. Yang terpenting manusia harus dapat bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang di berikannya.
  1. Membaca surat Adz Dzariyat ayat 56
Surat ini memiliki kandungan yaitu:
Allah AWT telah menciptakan jin dan manusia dengan tujuan supaya mereka mengenal-Nya. Dengan hubungan, memuja kebesaran dan berdoa kepada Allah SWT agar dapat dekat dengan-Nya. Adapun hubungan tersebut dinyatakan dalam perbuatan ibadah yang langsung kepada Allah SWT sebagaimana rukun islam, yaitu shalat, zaka, puasa, haji, dan berdzikir hanya untuk mencari ridha-Nya.
Perilaku yang mencerminkan surat Adz Dzariyat ayat 56
Allah SWT menganjurkan setiap umat islam untuk berdzikir kepada-Nya, artinya manusia dianjurkan untuk mengiat kebesaran, kemuliaan, dan keagungan Allah SWT dengan perasaan harap dan takut dengan khusyuk dan rendah diri di hadapan-Nya. Zikir merupakan pintu pembuka hubungan dengan hamba-Nya, menjadi obat penawar hati, penyehat badan, cahaya mata, dan zikir merupakan jenis ibadah yang dapat dikerjakan kapan saja, tidak tergantung pada tempat, waktu, keadaan, dan dapat dikerjakan sendiri ataupun secara bersama-sama. Oleh karena itu,zikir sebaiknya dilakukan dengan cara:
  1. Di awali dengan wudhu               3. Khusyuk
  2. Duduk menghadap kiblat           4. Pada tempat yang tenang dan bersih.
  1. Surat An Nahl Ayat 78
Surat ini memiliki kandungan yaitu:
    1. Allah SWT dengan kekuasaan-Nya mengeluarkan bayi melalui proses kelahiran ibunya.
    2. Bayi lahir dengan lemah dan dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa atau suatu apapun.
    3. Dengan kemurahan-Nya Allah memberikan anugerah kepada bayi tersebut di antaranya pendengaran, penglihatan, hati, agar mampu bersyukur, dengan cara pendengaran untuk mendengarkan, penglihatan untuk melihat, dan hati untuk untuk merasa.
    4. Dengan kesempurnaan bayi tersebut sudah barang tentu menjadi tugas kewajiban ke dua orang tua untuk merawat, membesarkan, dan memberi pendidikan hingga menjadi kuat, cerdas, dan dewasa.
Perilaku yang mencerminkan Surat An Nahl Ayat 78
Allah SWT menciptakan manusia dengan sempurna, yakni memiliki fiksi yang terdiri dari penglihatan, pendengaran, dan hati. Allah memerintahkan manusia agar senantiasa bersyukur terhadap segala nikmat dan rahmat yang dianugerahkan-Nya sebagai contoh:
  1. Telinga digunakan untuk mendengarkan yang baik-baik.
  2. Mata digunakan untuk melihat dan dijaga dari pandangan yang diharamkan.
  3. Hati digunakan untuk merasa dan tidak mengeluarkan sifat-sifat tercela yang menyakitkan orang lain.
  4. Akal digunakan untuk memikir pada hal yang lebih bermanfaat, baik bagi diri sendiri, maupun orang lain.
Semua hal yang baik dilakukan dan hal-hal yang jelek ditinggalkan untuk menunjukkan ketaatannya kepada Allah SWT agar hidup di alam dunia mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan yang diridhai Allah SWT.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons