Recomended


ShoutMix chat widget
quot;> sini

Pages

Tampilkan postingan dengan label sejarah X. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah X. Tampilkan semua postingan

23/04/11

Tradisi Sejarah Masyarakat Pada Masa Aksara

1.Cara Masyarakat Masa Aksara Mewariskan Masa Lalunya Melalui Tutur/Lisan

Salah satu cara yang lazim dipakai oleh masyarakat yang memiliki tradisi lisan dalam mewariskan masa lalu mereka adalah melalui dongeng. Dongeng itu sendiri disampaikan dalam beragam bentuk cara, antara lain adalah sebagai berikut:

a.Pertunjukan wayang
• Wayang beber
Merupakan bentuk seni pertunjukan tradisional wayang, dimana wayangnya sendiri dilukis pada gulungan kulit kayu, yang diantaranya menggambarkan ksatria mitis pada jaman dahulu. Dengan media gulungan kulit kayu itulah dalang menggambarkan kisahnya. Adegan-adegan yang tergambar pada gulungan itu diuangkapkan dalam penceritaan yang berkesinambungan.
Wayang beber sebagai seni pertunjukan pertama kali didokumentasikan oleh dua orang Cina yang bernama Ma Huan dan Fei Xin yang sedang mengunjungi Jawa pada tahun 1416. pada waktu itu keduanya menyaksikan banyak orang yang berjongkok di depan pencerita sambil mendengarkan apa yang sang pencerita ucapkan. Pada abad ke-19, Raffles menulis hal yang sama dalam bukunya, History of Java.
• Wayang kulit
Berbeda dengan wayang beber, wayang kulit dalam menggambarkan suatu kisah atau peristiwa dengan menggunakan tokoh-tokoh tertentu yang disimbulkan. Dalang menggelar pertunjukan di depan layar lebar dan menghidupkan wayang-wayangnya dengan menirukan berbagai suara dan bunyi-bunyian. Cerita dalam wayang ini banyak bersumber dari legenda dan kisah lisan sastra tulis dari India dan Jawa sendiri. Miisalnya cerita tentang Baratayuda, Ramayana, cerita Karna gugur dan sebagainya.

b. Pertunjukan Mak Yong
Mak Yong merupakan seni pertunjukan. Tradisi ini berasal dari Pattani, Thailand bagian Selatan pada abad ke-16. Di Indonesia, tradisi lisan dalam bentuk pertunjukan Mak Yong ini berkembang di daerh pesisir barat Sumatra. Pada awalnya fungsi utama Mak Yong ini adalah sebagai bentuk penghormatan kepada Yang Maha Kuasa. Tetapi dalam perkembangannya lebih sarat akan hiburan. Banyak dimainkan oleh para nelayan dan pedagang. Kisah-kisah dalam Mak Yong banyakmengkisahkan tentang realitas hidup masyarakat jaman dulu. Ceritanya dipertunjukkan dalam bentuk prosa, tanpa naskah. Para pemainnya dapat bebicara tanpa persiapan khusus, bahkan dapat memperpanjang pertunjukan.

c. Pertunjukan Didong
Didong merupakan bentuk kesenian tradisional orang Gayo di daerah Aceh. Pertunjukan didong sering berbentuk pertandingan antara dua kelompok yang saling berkelakar sambil membuat sajak improvisasi yang disebut syair. Syair-syairnya biasanya berisikan tentang legenda kisah-kisah tertentu dan asal-usul suatu wilayah atau tempat. Pada awalnya Didong diadakan sebagai bagian dari keramaian untuk merayakan perkawinan, hari-hari libur penting, dan upacara tradisional lainnya. Dalam perkembangannya kemudian mengalami pergeseran sebagai cara untuk menghormati dan menghibur tamu.

d. Pertunjukan Tanggomo
Tanggomo merupakan bentuk puitis sastra lisan yang berasal dari Gorontalo, Sulawesi Utara. Berisikan syair-syair yang didalamnya mengkisahkan tentang hal-hal yang sedang hangat atau peristiwa menarik setempat. Selain menghibur, Tanggomo juga juga memberi banyak informasi berupa peristiwa sejarah, mitos, legenda, kisah keagamaan, dan pendidikan. 

e. Nyanyian-nyanyian yang berisi kisah-kisah
Melalui nyanyian inilah masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman Kalimantan bagian Tengah mewariskan sejarah kehidupan masyarakat masa lalu. Misalnya dalam pertunjukan Takna Lawe.


2. Cara Masyarakat Masa Aksara Mewariskan Masa Lalunya Melalui Tulisan

Salah satu hasil budaya manusia adalah berupa tulisan. Tradisi tulis di Indonesia memiliki sejarah yang panjang. Dimulai oleh prasasti yang menggunakan aksara Palllawa dari India, yang kemudian diikuti oleh aksara baru yang telah dikembangkan untuk menulis pada berbagai media yang telah dipersiapakan.
Tulisan asli yang berkembang pada masyarakat kepulauan Indonesia pada periode klasik Indonesia menurut J. L.. A. Brandes (1887) merupakan hasil dari proses interaksi bangsa Indonesia dengan budaya India. Dikenalnya tulisan oleh masyarakat kepulauan Indonesia menurut Brandes  merupakan barang baru yang dikenal oleh masyarakat, dan tidak masuk dalam 10 kepandaian asli bangsa Indonesia, sebelum pengaruh India masuk (1887). Adapun tulisan yang pertama kali dikenal adalah tulisan yang menggunakan aksara Pallawa.
Dengan dikenalnya aksara Pallawa, atau sering juga disebut dengan huruf Pascapallawa, nenek moyang bangsa Indonesia mampu mendokumentasikan pengalaman dalam kehidupannya. Terbitnya prasasti-prasasti dari kerajaan-karajaan kuna, penggubahan karya sastra dengan berbagai judul, serta dokumentasi tertulis lainnya melalui media lontar, kulit binatang atau kulit katu adalah berkat dikenalnya aksara Pallawa. Bahkan di masa kemudian aksara Pallava itu kemudian “dinasionalisasikan” oleh berbagai etnis Indonesia, maka muncullah antara lain aksara Jawa Kuna, Bali Kuna, Sunda Kuna, Lampung, Batak, dan Bugis.

a. Melalui Prasasti
Prasasti adalah piagam atau dokumen yang ditulis pada bahan yang keras dan tahan lama, umumnya adalah batu. Disamping batu media penulisan lainnya adalah kayu, dan logam. Istilah lain dari prasasti adalah inskripsi (bahasa Latin) atau batu tertulis.
Wilayah kepulauan Indonesia segera memasuki zaman sejarahnya ketika sumber tertulis yang berupa prasasti awal telah dijumpai di wilayah ini. Prasasti-prasasti pertama itu terdapat di wilayah Jawa bagian Barat dan Kalimantan Timur. Di Jawa bagian Barat berkembang kerajaan yang bercorak kebudayaan India pertama kali, yaitu Tarumanagara yang salah satu rajanya bernama Purnavarman. Sementara itu di Kalimantan Timur juga berkembang sistem kerajaan yang sama, berkat peninggalan-peninggalan prasasti Yupa yang masih bertahan hingga kini, diketahui adanya kerajaan kuno di wilayah Kutai, rajanya yang dikenal dalam prasasti bernama Aswawarmman.
Dari Yupa ketiga peninggalan Kerajaan Kutai misalnya kita mendapat informasi tentang kondisi kerajaan masa pemerintahan Mulawarman.
“...biarlah mereka mendengar tentang hadiahnya (raja Mulawarman) yang luar biasa, ternak, pohon, keajaiban dan tanah. Karena banyaknya perbuatan baik, tiang pengorbanan ini didirikan oleh para pendeta”

Walaupun di kedua lokasi tersebut prasasti-prasastinya belum mencantumkan kronologi yang pasti, tetapi dapat diduga bahwa kerajaan-kerajaan pertama di bumi Nusantara itu berkembang pada sekitar abad ke-4 M.
Prasasti yang berangka tahun pertama dijumpai di wilayah Jawa bagian tengah, disebut prasasti Canggal yang berangka tahun 652 Saka atau 732 M. Prasasti itulah yang merupakan bukti awal bahwa nenek moyang bangsa Indonesia telah menghitung tahun, dan sistem penghitungan yang dipakai mereka adalah penghitungan tahun Saka dari kebudayaan India. Sejak saat itu masyarakat Jawa Kuno seterusnya mencantumkan data kronologi untuk mencatat peristiwa-peristiwa penting yang terjadi dalam kehidupannya.
Dengan demikian keberadaan prasasti sebagai salah satu peninggalan sejarah memberi sumbangan penting dalam penelitian kesejarahan, yang memberi banyak informasi pada orang-orang yang hidup sekarang tentang peristiwa, prestasi dan berbagai hal yang terjadi di masa lalu yang berguna bagi pengembangan pengetahuan.

b. Melalui Lontar
Disamping media batu dan logam, dikenal juga media tulis yang disebut lontar yang terbuat dari bambu, daun palem atau daun tal. Lontar adalah daun palem tal atau borassus flabellifer yang telah dikeringkan yang banyak digunakan selama berabad-abad lamanya sebagai alas tulis di Jawa, Bali, Lombok. Bahkan di Bali pemanfaatan lontar sebagai alas tulis masih banyak dipakai oleh masyarakat tradisional. Tulisan ditoreh di kedua sisi daun dengan menggunakan pisau tajam, lalu hurufnya dihitamkan dengan memakai jelaga. Halaman-halamannya, yaitu antara lontar yang satu dengan yang lainnya dirangkaikan dengan tali memalui lubang di tengah dengan dua papan kayu sebagai penutup. Tradisi ini berkembang di hampir semua wilayah kepulauan Indonesia, utamanya adalah Jawa.

c. Melalui Kulit Kayu atau Pohon dan Kulit Binatang
Disamping menggunakan media batu, logam atau lontar masyarakat masa sejarah Indonesia membuat catatan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan mereka dengan menggunakan media kulit kayu atau kulit pohon. Bagian kulit yang dipakai adalah kulit pohon bagian dalam. Tradisi menulis dengan media kulit pohon ini di kepulauan Indonesia diantaranya banyak dijumpai di daerah yang sekarang dikenal dengan Batak. Kulit pohon ini banyak dipakai oleh para peramal Batak untuk menuliskan mantra-mantra tentang sihir atau ramalan dan pengobatan. Tulisan yang berisi bacaan mantra atau sihir dan pengobatan yang dimuat dalam kulit pohon itu kemudian mereka susun dalam satu rangkaian naskah buku lipat yang disebut dengan pustaha.

d.Media tulis lain sebagai sumber pewarisan sejarah
• Emas, tembaga dan perak
Emas, tembaga dan perak juga dipakai sebagai alas tulis untuk urusan yang memiliki makna penting, yang bersifat khusus. Salah satu contohnya adalah penemuan kipas yang terbuat dari emas masa kebesaran Kerajaan Johor, Riau. Dalam kipas emas tersebut termuat tulisan yang memberikan informasi tentang prasasti Melayu yang menyatakan asal usul sultan dari Bukit Siguntang serta keturunanannya dari Iskandar Agung.
• Daun nipah
Hampir sama dengan daun palem tetapi lebih tipis. Tulisan ditorehan dengan menggunakan tinta atau kuas. Jadi tidak menggunakan pisau. Diantara naskah Jawa kuno yang merupakan peninggalan tradisi tulis abad ke-14, adalah naskah kuno yang tertulis dalam daun nipah yang sekarang tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.    
• Bambu
Bambu dipakai sebagai alas tulis setelah sebelumnya dioles dan dikeringkan. Penggunaan bambu sebagai alas tulis banyak ditemukan di Sumatra diantara orang-orang Batak, Lampung dan Rejang. Bambu dibelah menjadi lembaran-lembaran lalu dikeringkan dan dirangkaian seperti daun palem atau dibiarkan dalam bentuk tabung dan teks atau tulisannya ditoreh dengan pisau tajam.
• Dluwang
Merupakan alas tulis halus dengan penampilan seperti kayu dan terbuat dari kulit pohon murbei yang dipukuli. Meskipun dekenal sebagai kertas Jawa, sebanarnya dluwang bukanlah kertas, karena tidak terbuat dari endapan encer. Dluwang kebanyakan digunakan di Jawa untuk menulis naskah-naskah berbahasa Arab dan Jawa seperti pawukon atau primbon.
Hampir semua pustaka Jawa kuno baik yang ditulis di lontar, maupun media tulis lainnya ditulis dalam bentuk puisi. Berbagai naskah kuno semakin bekembang pada masyarakat kepulauan Indonesia, terutama setelah dikenalnya media kertas. Muncul kemudian naskah kuno dalam bentuk primbon yang ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu dan Jawi kuno. Perkembangan terbesar terjadi setelah kedatangan pengaruh agama dan kebudayaan Islam di nusantara, sekitar abad ke-13.


3. Tradisi Sejarah Masyarakat Masa Aksara Kepulauan Indonesia

Tradisi sejarah masyarakat pada masa setelah ditemukannya tulisan diketahui dan disusun berdasarkan peninggalan tertulis dan peninggalan alat-alat penunjang kehidupan masyarakat. Karena masyarakat sudah mengenal tulisan, maka mereka mewariskan dan menggambarkan tradisi-tradisi sejarah mereka dalam bentuk tulisan, baik itu dalam prasasti, maupun kesusastraan. Artinya melalui media-media tulisan tersebut kita yag hidup sekarang mendapatkan pengetahuan dan informasi tentang banyak hal yang berkaitan dengan sejarah masa lalu.
Pola tradisi masyarakat senantiasa mengalami perkembangan dan perubahan seiring dengan berkembangnya tingkat kecerdasan manusia. Berdasar pada pemikiran tersebut, untuk lebih memudahkan pemahaman tentang tradisi masyarakat Indonesia masa sejarah, perlu dibuat periodisasi berdasarkan pola-pola umum yang berkembang pada masing-masing periode.

a. Tradisi masyarakat kepulauan Indonesia masa awal sejarah
Periode sejarah Indonesia dimulai dengan munculnya prasasti-prasasti pertama di Indonesia yang berasal dari akhir abad ke-4 atau awal abad ke-5 M. Sejarah atau ilmu yang mempelajari catatan tertulis, secara teknis dimulai pada saat tersebut. Sayang sekali selama abad-abad pertama setelah bangsa Indonesia mulai menulis pada batu, kegiatan ini relatif jarang dilakukan. Topiknya pun terbatas pada pencatatan peristiwa-peristiwa keagamaan serta doa-doa. Baru menjelang akhir abad ke-7 dan awal abad ke-8, prasasti di Indonesia mulai memberi cukup banyak keterangan rinci sehingga tradisi-tradisi masyarakat yang berkembang pada masa itu dapat diketahui. Diantara bentuk-bentuk tradisi yang masyarakat kembangkan pada masa sejarah awal Indonesia adalah:

• Tradisi perekonomian
Disamping pertanian, bukti linguistik menunjukkan bahwa bangsa Indonesia telah melakukan aktivitas perniagaan yang tidak hanya sebatas antar wilayah kepulauan nusantara saja tetapi sudah meluas ke luar negeri. Dicontohkan bahwa orang-orang Indonesia bahkan telah sampai ke Madagaskar pada awal milinium pertama Masehi. Sejarawan dari Romawi, Plyni menggambarkan hal ini. Banyak orang-orang yang membawa kayu manis ke Afrika Timur melewati Samudra Hindia. Dalam perjalanan pulang mereka membawa serta kaca, perunggu, pakaian, gelang dan kalung. Sumber berita Yunani dan Cina menyatakan bahwa para pedagang Indonesia adalah pedagang Asia Tenggara yang pertama kali mencapai Madagaskar. Perniagaan dengan Cina pun sudah berkembang. Barang dagangan Indonesia seperti cengkih mencapai istana dinasti Han di Cina utara pada sekitar 2000 tahun yang lalu, mencapai Roma tahun 70 Masehi.
Perdagangan dengan Cina
Perdagangan langsung dengan Cina dimulai antara tahun 250 hingga 400 M. Misi-misi dagang Cina sering dikirim ke luar negeri untuk mencari “barang langka dan berharga” untuk persembahan pada raja. Pada masa dinasti Han (206 SM-220 M) misalnya, duta-duta resmi kerajaan dikirim ke luar negeri. Pun sebaliknya duta-duta dari Indonesia mulai mengunjungi Cina, yang kemungkinan besar adalah untuk memastikan agar hak-hak dagang mereka tetap diakui. Laporan Cina (414 M) merupakan bukti pertama bahwa kapal-kapal berlayar langsung dari Indonesia ke Cina. Barang dagangan utama adalah mutiara, kulit penyu, dupa serta minyak wangi yang langka untuk upacara keagamaan seiring dengan makin berkembangnya aliran Budha Mahayana. Sayangnya kebanyakan barang dagangan Indonesia seperti rempah-rempah, dupa, pakaian dan bulu burung mudah hancur, sehingga sebagian besar situs penting Indonesia selama menjalin hubungan dengan Cina tidak diketahui.
Dengan bertambah banyaknya data selama abad ke-8 dan 9 kita mencatat bahwa masyarakat kepulauan Indonesia terutama yang berada di bagian barat sudah terkait erat dalam suatu jaringan internasional yang luas, yang dihubungkan oleh ikatan-ikatan keagamaan dan perdagangan.
• Tradisi sosial
Tradisi sosial masyarakat pada masa ini masih merupakan upaya mempertahankan kebiasaan masyarakat sebelumnya. Para penguasa, bangsawan dan orang-orang kaya berupaya mempertahankan stratifikasi sosial yang sudah ada. Tujuannya tidak lain agar rakyat biasa tetap menghormati mereka.
• Tradisi penggunaan alat-alat penunjang kehidupan
Pada masa awal sejarah ini penggunaan alat-alat logam (terutama besi) untuk kegiatan pertanian semakin menonjol. Tradisi pembuatan gerabah juga semakin meningkat, baik jumlah, mutu barang, keragaman fungsi, maupun teknologi yang digunakan.
• Tradisi seni dan sastra tulis
Tradisi melukis pada dinding-dinding gua sudah jauh ditinggalkan. Masyarakat mulai mengenal tradisi pahat (seni pahat) dengan bahan dasar utamanya adalah batu, dan perunggu. Sedangkan yang berkaitan dengan sastra tulis, pada masa ini masyarakat terutama kalangan bangsawan telah mengenal bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa (pengaruh India). Tradisi dengan bahasa dan huruf India tersebut baru terbatas pada orang-orang tertentu saja.
• Tradisi kepercayaan masyarakat
Berdasarkan sumber prasasti, tradisi kepercayaan masyarakat kepulauan Indonesia masih bersifat animisme dan dinamisme. Prasasti-prasasti di Jawa biasanya berisikan kutukan terhadap siapa saja yang menggangu keamanan, dengan memanggil roh penunggu gunung dan makluk gaib lain. Prasasti Kuti (804 M) berisi upacara pemanggilan terhadap enam jenis roh. Kepercayaan pada yang gaib biasanya disimbulkan atau dihubungkan dengan “lumpang batu” (mirip seperti kebudayaan masyarakat prasejarah).
b. Tradisi masyarakat kepulauan Indonesia masa sejarah klasik awal
• Tradisi perekonomian
Pertanian tetap merupakan tradisi perekonomian utama masyarakat, disamping perniagaan dan pelayaran. Dilihat dari jenis tanamannya, penanaman padi secara intensif sudah diperkenalkan sejak awal periode sejarah klasik Indonesia. Banyak perkakas batu dan logam yang ditemukan dibeberapa tempat diduga digunakan untuk kegiatan cocok tanam khususnya tanaman padi.

Dalam relief-relief candi (seperti pada relief candi Borobudur) kita mendapat banyak gambaran tentang perkembangan tradisi pertanian masyarakat Indonesia. Dari sumber prasasti seperti prasasti Tugu (dekat Jakarta) diperoleh keterangan mengenai pengelolaan air di Indonesia. Prasasti ini berasal dari masa kerajaan Tarumanegara, menggunakan bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa. Isi terjemahannya adalah bahwa raja Purnawarman memerintahkan penggalian saluran sepanjang 11 km. Aktivitas penggalian saluran air ini kemungkinan dimaksudkan untuk aktivitas pertanian dan pencegahan banjir. Beberapa prasasti lainnya yang berasal dari Jawa Timur menyebut sumbangan-sumbangan raja untuk pembangunan bendungan dan saluran-saluran yang meungkin mempunyai beberapa manfaat penting yang diantaranya adalah sebagai saluran irigasi.
Disamping adanya sawah irigasi lahan kering juga dimanfaatkan untuk menanam berbagai jenis tanaman lainnya seperti sayur dan buah.  Bukti lebih jelas lagi terdapat pada prasasti Longan Tambahan yang ditulis pada masa raja Sri Dharmawangsa Wardhana (1023). Di dalamnya disebutkan tentang tahap-tahap dalam penanaman padi, yaitu amabaki (membersihkan sawah sebelum dibajak), amaluku (membajak), atanam (menanam), amatun (menyiangi), ahani (memanen) dan anutu (menumbuk padi). 

Bukti berupa sumber-sumber sastra
Sejarawan sudah meneliti keterangan tentang pertanian yang terdapat dalam naskah klasik. Memang dalam karya sastra klasik tersebut belum ditemukan keterangan yang menyebutkan bahwa alat-alat seperti cangkul dan bajak digunakan dalam pengerjaan pertanian. Tetapi gambaran umum adanya aktivitas pertanian di Indonesia terdapat dalam karya-karya sastra tersebut.
Kitab Arjunawiwaha dan Sutasoma misalnya memberi pengetahuan rinci tentang tradisi pertanian masyarakat Indonesia masa sejarah klasik awal. Dalam Arjunawiwaha diceritakan bahwa ketika Majapahit diperintah oleh Hayam Wuruk (Rajasanagara) pembangunan bendungan sangat intensifkan. Air bendungan kemudian disalurkan dari bendungan itu ke sawah-sawah yang diberi pematang. Sawah pertama yang menerima air dinamakan pasimpangan. Dari sawah-sawah ini air kemudian diteruskan ke sawah lain. Sedang kitab Sutasoma banyak menceritakan tentang aktivitas para petani yang menyiangi padi di ladang-ladang mereka.

Bukti-bukti etnografi
Perbandingan etnografi memberi kita pengetahuan mengenai kebiasaan penanaman padi pada masa kuno. Petani tradisional Jawa misalnya sampai sekarang banyak yang masih menggunakan teknologi dan cara-cara tradisional. Penghitungan waktu tanam yang baik, upacara-upacara ritual masa panen seperti sesaji sampai sekarang masih dipakai oleh masyarakat petani Jawa. Kegiatan yang kemungkinan besar sudah dilakukan oleh petani jaman sejarah klasik awal.
Sumber berita Cina
Menurut catatan sejarah Cina, pada abad ke-13 atau sebelumnya, beras Jawa sudah diekspor ke Sumatera dan kemungkinan juga ke bagian lain kepulauan Indonesia. Ini jelas menunjukkan bahwa aktivitas pertanian (sawah) sudah menjadi mata pencaharian utama masyarakat.

Transaksi jual beli atau tukar menukar barang sudah dikenal masyarakat periode sejarah. Sebagian besar penduduk pedesaan mempunyai hubungan ke “pasar berkala” (pekan) yang berputar berdasarkan daur lima hari sekali buka. Hingga sekarang tradisi pasar demikian masih banyak dijumpai di desa-desa Jawa. Berdasar sumber prasasti, barang-barang yang mereka bawa ke pasar tidak hanya sebatas pada beras saja, tetapi juga kacang-kacangan, sayuran, buah, ayam dan telur. Tradisi penjaja keliling juga telah dikenal. Untuk mendapat barang yang diinginkan, dilakukan dengan sistem transaksi menggunakan uang (uang emas dan perak) dan barter. Peningkatan intensitas perdagangan dalam negeri menuntut adanya mata uang yang mudah dipergunakan. Menjelang akhir abad ke-8 masyarakat telah mengenal uang dalam bentuk uang koin atau logam yang terbuat dari emas dan perak dengan ukuran-ukuran tertentu.

• Tradisi sosial
Berdirinya kerajaan-kerajaan kuno telah memunculkan tradisi pemujaan rakyat pada raja, karena raja dianggap sebagai titisan dewa di dunia. Kesenjangan sosial dan stratifikasi sosial dalam masyarakat semakin besar dan lebar. Spesialisasi atau pengkhususan pekerjaan semakin nyata.

• Tradisi penggunaan alat-alat penunjang kehidupan
Tradisi pembuatan alat-alat penunjang aktivitas pertanian makin meningkat. Sementara itu pembuatan perahu sebagai unsur penting penunjang aktivitas pelayaran dan perniagaan juga mengalami kemajuan. Masyarakat juga mulai mengenal pembuatan batu bata. Tradisi pembuatan gerabah dilakukan dengan menggunakan alat pemutar. Tradisi pengerjaan emas juga semakin modern.

• Tradisi seni dan sastra tulis
Tradisi pahat batu dan perunggu semakin berkembang pada periode ini. Para pemahat Jawa misalnya, mulai menciptakan relief naratif yang membentuk suatu cerita. Contoh relief pada dinding candi Borobudur. Tradisi pembuatan patung-patung batu dan perunggu juga berkembang. Pada masa ini epos Mahabharata dan Ramayana dari India telah diterjemahkan dalam bahasa Jawa Kuno. Demikian juga dengan kitab ajaran Budha yang berbahasa Sanskerta juga telah diterjemahkan dan disebarluaskan. Teks tertua berisi ajaran Budha yang ditulis di Indonesia yang dikenal dengan Sang Hyang Kamahayanikan ditulis pada periode sejarah klasik awal.

• Tradisi masyarakat yang berkaitan dengan dimensi kepercayaan
Pengaruh Hindu dan Budha pada masa ini mulai menyebar khususnya sepanjang jalur perdagangan (daerah pesisir pantai). Akan tetapi sebagian besar masyarakat di banyak daerah, kebiasaan keagamaan (kepercayaan) sebelumnya yang berupa animisme dan dinamisme masih tetap mereka pertahankan.

c. Tradisi masyarakat kepulauan Indonesia periode sejarah klasik madya
Pada masa klasik madya ini, tradisi sejarah masyarakat kepulauan Indonesia tidak mengalami banyak perubahan dari tradisi-tradisi sebelumnya. Tradisi pertanian dan perdagangan mengalami perluasan dan peningkatan. Satu hal yang membedakan adalah bahwa tradisi masyarakat mulai mendapat pengaruh budaya Islam, yang diantarnya dibawa oleh para pedagang muslim dari luar. Anasir-anasir budaya Islam terjalin dalam suatu hubungan yang rumit dengan adat atau tradisi yang sudah ada sehingga melahirkan peristiwa-peristiwa penting pada jaman klasik madya ini.

• Tradisi perekonomian
Budaya pertanian dan perdagangan semakin berkembang pesat. Masalah perpajakan menjadi semakin rumit, terutama ketika pendatang Cina mulai menetap di Indonesia dan penerapan mata uang Cina sebagai alat tukar dalam perdagangan semakin dominan.   
• Tradisi sosial
Tradisi birokrasi semakin berkembang. Kedudukan kaum cendekiawan semakin penting baik dalam kerajaan maupun dalam kehidupan masyarakat. Campur tangan pemerintah kerajaan terhadap urusan irigasi dan angkutan darat semakin menonjol.

• Tradisi penggunaan alat-alat penunjang kehidupan
Seiring dengan makin berkembangnya tradisi pembuatan aneka benda dan peralatan dari logam, tempat-tempat pengecoran logam makin banyak bermunculan. Bahkan kemungkinan besar tradisi pembuatan alat-alat dan benda dari logam ini telah berkembang menjadi mata pancaharian penduduk.

• Tradisi seni dan sastra tulis
Tradisi seni pahat semakin berkembang seiring dengan makin meningkatnya jiwa seni dan kepandaian manusia. Model pahatan, ukiran semakin beragam dan rumit. Pada masa ini berkembang sastra tulis berupa Kakawin. Buku Bharatayuda ditulis pada masa ini oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh.

• Tradisi masyarakat yang berkaitan dengan dimensi kepercayaan
Agama Hindu dan Budha semakin mendapat tempat di masyarakat. Kendati belum meluas pada semua lapisan masyarakat (utamanya masyarakat desa) tradisi penyembahan pada dewa-dewa dalam kepercayaan dua agama itu mulai menggantikan pemujaan mereka pada roh nenek moyang dan benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan gaib.

d.Tradisi masyarakat kepulauan Indonesia periode sejarah klasik akhir
Tradisi sejarah masyarakat periode klasik akhir ditandai oleh munculnya kerajaan-kerajaan kesatuan besar di Indonesia yang diatur secara tradisional serta munculnya kekuatan-kekuatan baru yang akhirnya mempengaruhi tatanan yang sudah ada sebelumnya. Kekuatan-kekuatan itu antara lain kedatangan budaya Islam dan imperialisme Eropa. Pengungkapan tradisi masyarakat kepulauan Indonesia pada periode sejarah klasik akhir diantaranya dapat diketahui dari peninggalan-peninggalan selama periode ini berupa karya sastra. Pengungkapan sastra memungkinkan kita bisa melihat tradisi masyarakat Indonesia jaman sejarah klasik akhir dari lebih banyak sisi dari pada sebelumnya.

• Tradisi perekonomian
Tradisi pertanian tetap dominan, terutama pada masyarakat pedalaman. Tradisi perdagangan atau perniagaan mengalami perkembangan yang luar biasa pesat baik itu perdagangan antar wilayah dan pulau di Indonesia maupun perdagangan dengan luar negeri terutama dengan India dan kerajaan-kerajaan Asia Tenggara. 

• Tradisi sosial   
Diantara mayarakat banyak yang berprofesi sebagai penjual jasa untuk mendapatkan uang. Penduduk pesisir pantai merupakan campuran majemuk dari berbagai suku dari berbagai wilayah di kepulauan Indonesia dan bangsa-bangsa lain. Heterogenitas ini yang lambat-laun mengikis tradisi pelapisan sosial yang ada dalam masyarakat.

• Tradisi penggunaan alat-alat penunjang kehidupan
Tradisi pembuatan alat-alat logam mengalami puncak kemajuan. Teknik produksi massal mulai dikembangkan. Demikian halnya dengan pembuatan gerabah. Tradisi pembuatan keris dimulai pada periode klasik akhir ini. Tradisi pembuatan keris ini lebih didasarkan pada penilaian magis, sehingga keris dianggap sebagai pusaka hidup yang memiliki nilai sakral.   

• Tradisi seni dan sastra tulis
Pada periode ini tradisi pembuatan patung perunggu dan arca batu semakin surut. Sebaliknya tradisi terracotta semakin berkembang, karena seni ini dianggap lebih memiliki nilai sosial yang tinggi. Tradisi sastra tulis juga semakin meluas.  Karya-karya sastra  yang berkembang pada masa ini diantaranya adalah Desawarnana (ditulis oleh Mpu Prapanca), Korawasrama dan Nawaruci.

• Tradisi masyarakat yang berkaitan dengan dimensi kepercayaan
Keyakinan terhadap aliran Sivashidanta (dalam agama Hindu) dan Mahayana (dalam agama Budha) semakin kuat di Jawa dan Bali. Akan tetapi dalam perkembangan yang terjadi kemudian kedatangan pengaruh Islam mulai mengikis tradisi kepercayaan masyarakat tersebut. Ini terutama terjadi pada masyarakat yang tinggal di daerah pesisir pantai. Sedang pada masyarakat pedalaman relatif tetap mempertahankan tradisi religi mereka.

e. Tradisi masyarakat kepulauan Indonesia periode Islam
Masuknya Islam pada satu sisi telah membawa sejumlah besar perubahan sosial. Tetapi sifat-sifat tradisi budaya yang terbentuk selama masa sebelumnya tidak segera berubah atau hilang. Bentuk-bentuk tradisi dari kehidupan sosial masyarakat sejak masa prasejarah hingga Hindu-Budha sekalipun tetap berkembang.

• Tradisi perekonomian
Kendati Portugis mendominasi perdagangan di Malaka, tetapi perdagangan antar wilayah Indonesia dan perdagangan antara pedagang-pedagang nusantara dengan pedagang muslim, India, tetap berlangsung. Tradisi pasar juga berkembang pada masa Islam.

• Tradisi sosial   
Tradisi urbanisasi tumbuh dan berkembang pada masa ini. Bahkan menurut data sejarah tingkat urbanisasi di Indonesia sama seperti yang terjadi di Eropa. Spesialisasi (pengkhususan) pekerjaan sekali lagi semakin menunjukkan kekompleksitasannya.

• Tradisi penggunaan alat-alat penunjang kehidupan
Masyarakat mulai mengenal jenis senjata api. Kemungkinan diperkenalkan oleh orang-orang Eropa, atau diekspor dari Eropa. Tetapi ini tidak menghilangkan tradisi pembuatan barang-barang logam.

• Tradisi seni dan sastra tulis
Tradisi seni patung sudah lenyap. Ajaran agama Islam melarang pembuatan patung. Tradisi pembuatan seni kaligrafi menggantikan itu semua. Sastra Islam yang berisi renungan filosofis mengenai hubungan antara Tuhan dengan manusia semakin berkembang. Kendati berorientasi mistik, tetapi ia tidak bersifat heterodoks (mempertahankan konsep dualisme). 

• Tradisi masyarakat yang berkaitan dengan dimensi kepercayaan
Dominasi tradisi Islam semakin meluas dan berkembang pada semua lapisan masyarakat di Indonesia. Dalam perkembangannya, proses penyebarannya telah memunculkan varian-varian baru yang memasukkan kepercayaan pra-Islam dalam kesatuan antara manusia dan Tuhan, diantaranya ada yang dalam bentuk aliran kebatinan. 

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, walaupun banyak pengaruh luar masuk ke Indonesia, evolusi kebudayaan lokal di berbagai daerah Indonesia yang menunjukkan pola tradisi masyarakat berlangsung mengikuti jalurnya sendiri. Pada akhirnya unsur local genius-lah yang sangat menentukan bagi terjadinya perubahan pola tradisi masyarakat dalam berbagai dimensinya (ekonomi, sosial, kepercayaan, dan seterusnya).  

peradaban kuno asia,afrika dan eropa

A. Proses Migrasi Ras Proto Melayu dan Deutro Melayu ke Kawasan Asia Teggara dan Indonesia
Menurut pendapat para ahli, pada periode 40.000 tahun yang lalu jenis manusia purba Meganthropus, Pithecanthropus dan jenis Homo telah mengalami kepunahan. Penghuni kepulauan Indonesia kemudian bergeser ke manusia-manusia migran yang datang dari berbagai wilayah di Asia dan Australia. Proses migrasi awal menunjukkan bahwa populasi-populasi kepulauan Indonesia berasal dari bangsa Australo-Melanesia (Australoid) dan Mongoloid (atau lebih khusus lagi adalah Mongoloid Selatan). Setelah itu datang lagi gelombang migrasi kedua yaitu bangsa Austronesia (Melayu/Proto Melayu/Melayu Tua) yang berasal dari Yunan (wilayah di propinsi Cina bagian Selatan). Migrasi mereka sendiri ke kepulauan Indonesia berlangsung dalam dua gelombang.
Periode gelombang pertama terjadi pada sekitar tahun 1500 SM, melalui dua jalur utama. Jalur pertama dari Yunan melewati Siam, Malaya dan Sumatera (jalur Barat dan Selatan). Jalur kedua dari Yunan, Vietnam, Filipina kemudian masuk ke Indonesia melalui wilayah Sulawesi (jalur Timur dan Utara). Dalam proses persebarannya mereka membawa kebudayaan neolitikum dari pusatnya di Basson-Hoabinh, yang diantaranya adalah kapak persegi dan kapak lonjong. Suku bangsa Indonesia sekarang yang termasuk keturunan bangsa Melayu Tua atau Proto Melayu misalnya suku Toraja dan Dayak.
Migrasi periode kedua dari bangsa Malayu (Deutro Melayu/Melayu Muda) terjadi pada sekitar tahun 500 SM. Proses persebarannya melalui jalur daratan Asia kemudian Semenanjung Malaya dan masuk ke Indonesia melalui Sumatera. Kedatangan bangsa ini sambil membawa pengaruh budaya logam dari Dongson, seperti nekara, moko, dan kapak perunggu. Suku bangsa Indonesia sekarang yang termasuk keturunan bangsa Melayu Muda atau Deutero Melayu misalnya suku Jawa, Melayu, dan Bugis.

B. Pengaruh Budaya Hoa-Bihn / Bacson, dan Dongson Terhadap Perkembangan Budaya Masyarakat Awal Kepulauan Indonesia
1. Pengaruh Budaya Hoa-Bihn Terhadap Perkembangan Budaya Masyarakat Awal Kepulauan Indonesia
Budaya Hoabihn merupakan diantara budaya besar yang memiliki situs-situs temuan di seluruh daratan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Budaya Hoabihn ini berkembang di Asia Tenggara dalam kurun waktu antara 18.000 hingga 3.000-an tahun yang lalu. Istilah “Hoabihn” sendiri mulai dipakai sejak tahun 1920-an untuk menyebut pada suatu industri alat batu yang berasal dari jenis batu kerakal dengan ciri khas berupa pangkasan pada satu atau dua sisi permukaannya.
Manusia pemilik budaya Hoabihn diperkirakan hidup pada kala Holosen. Pendahulu Hoabinhian awalnya berada di Vietnam bagian Utara, Thailand bagian Selatan dan Malaysia. Pengaruh utama budaya Hoabihn terhadap perkembangan budaya masyarakat awal kepulauan Indonesia adalah berkaitan dengan tradisi pembuatan alat terbuat dari batu. Beberapa ciri pokok budaya Hoabihn ini antara lain:
• Pembuatan alat kelengkapan hidup manusia yang terbuat dari batu
• Batu yang dipakai untuk alat umumnya berasal dari batu kerakal sungai.
• Alat batu ini telah dikerjakan dengan teknik penyerpihan menyeluruh pada satu atau dua sisi batu.
• Hasil penyerpihan menunjukkan adanya keragaman bentuk. Ada yang berbentuk lonjong, segi empat, segi tiga dan beberapa diantaranya ada yang berbentuk berpinggang.
Pengaruh budaya Hoabihn di Kepulauan Indonesia sebagian besar terdapat di daerah Sumatra. Hal ini lebih dikarenakan letaknya yang lebih dekat dengan tempat asal budaya ini. Situs-situs Hoabihn di Sumatra secara khusus banyak ditemukan di daerah pedalaman pantai Timur Laut Sumatra, tepatnya sekitar 130 km antara Lhokseumawe dan Medan. Sebagian besar alat batu yang ditemukan adalah alat batu kerakal yang diserpih pada satu sisi dengan bentuk lonjong atau bulat telur. Dibandingkan dengan budaya Hoabihn yang sesungguhnya, pembuatan alat batu yang ditemukan di Sumatra ini dibuat dengan teknologi lebih sederhana. Kebanyakan alat-alat batu tersebut ditemukan diantara atau terdapat dalam bukit sampah kerang.
Ditinjau dari segi perekonomiannya, pendukung budaya Hoabihn lebih menekankan pada aktivitas perburuan dan mengumpulkan makanan di daerah sekitar pantai dan daerah pedalaman.

2. Pengaruh Budaya Dongson Terhadap Perkembangan Budaya Masyarakat Awal Kepulauan Indonesia
Pengaruh kuat budaya Dongson terhadap perkembangan budaya masyarakat awal kepulauan Indonesia adalah dalam hal pembuatan barang dari logam, terutama adalah perunggu. Tradisi pembuatan barang budaya dari perunggu di Vietnam (bagian Utara) sendiri dimulai pada sekitar pertengahan milenium kedua sebelum masehi. Tradisi perunggu itu sendiri menurut para arkeolog Vietnam berasal dari budaya masyarakat Dong Dau dan Go Mun. Bersama dengan wilayah Muangthai (bagian tengah dan Timur Laut) kawasan ini memiliki bukti paling awal tentang tradisi pembuatan perunggu di Asia Tenggara.
Jenis-jenis barang perunggu yang mereka hasilkan antara lain kapak corong (corong merupakan pangkal yang berongga untuk memasukkan tangkai atau pegangannya), ujung tombak, sabit, mata panah, dan benda-benda kecil lainnya seperti pisau, kail dan aneka bentuk gelang.
Pada tahun sekitar 300 SM, mulai muncul tradisi pembuatan nekara perunggu, penguburan orang yang memiliki status sosial tinggi, dan kehadiran benda-benda besi untuk yang pertama kalinya. Tradisi-tradisi Dongson inilah yang berpengaruh besar terhadap perkembangan kebudayaan masyarakat awal kelupauan Indonesia secara umum.
Banyak sekali daerah-daerah di kepulauan Indonesia darinya ditemukan benda-benada budaya yang memiliki kesamaan corak dengan benda-benda atau barang tradisi Dongson. Contohnya adalah nekara Heger tipe I. Paling tidak ada sekitar 56 nekara atau bagian-bagian dari nekara yang tersebar di pulau Jawa, Sumatra dan Maluku Selatan. Diantara contoh nekara yang penting dari Indonesia adalah nekara “Makalamau” dari pulau Sangeang, dekat Sumbawa. Nekara “Makalamau” memiliki hiasan berupa gambar orang yang berpakaian seragam menyerupai pakaian jaman dinasti Han di Cina atau Kushan (India Utara) atau Satavahana (India Tengah). Nekara dari Kepulauan Kai berhiaskan gambar kijang dan adegan perburuan macan. Nekara dari pulau Selayar bergambar gajah dan burung merak. Nekara dari Bali mempunyai gambaran bentuk yang berbeda. Nekara dari Bali memiliki empat patung katak pada bagian bidang pukulnya, dengan pola-pola hiasan yang tidak terpadu berupa gambar prajurit dan motif perahu. Semua itu menunjukkan kesamaan dengan nekara-nekara yang ditemukan di Vietnam, di wilayah, dimana budaya Dongson berkembang.
Tentang cara pembuatan jenis nekara itu, sejarawan Bernet Kempers memberi gambaran tentang penggunaan teknik cetaknya. Awalnya lembaran lilin ditempelkan pada inti tanah liat (menerupai bentuk nekara dan berfungsi sebagai cetakan bagian dalam), lalu dihias dengan cap-cap dari tanah liat atau batu yang berhias perahu, orang dan lainna. Kemudian lembaran lilin berhias tadi ditutup dengan tanah liat yang berfungsi sebagai cetakan bagian luar setelah terlebih dulu diberi paku-paku yang berfungsi untuk menyatukan cetakan luar dan dalam. Setelah itu dibakar sehingga lilinya meleleh keluar. Rongga yang ditinggalkan oleh lilin kemudian diisi dengan cairan logam. Bernet Kempers menyebutnya sebagai teknik cetak cire perdue (lilin hilang).
Disamping dibawa sendiri oleh orang-orang Dongson, banyak barang-barang logam dari tradisi Dongson itu yang dikirim ke Indonesia sebagai barang hadiah yang diberikan pada penguasa setempat sebagai lambang martabat raja dan kekuasaannya oleh para penguasa politik dan agama di Vietnam.  Akibat terjadinya pengenalan benda dan teknologi perunggu dari Dongson (Vietnam) ke wilayah kepulauan Indonesia menyebabkan di beberapa daerah kemudian muncul pusat-pusat pembuatan logam.

C. Budaya Logam di Indonesia
1. Situs-situs Peninggalan Budaya Perunggu di Indonesia
Situs-situs peninggalan budaya perunggu di Indonesia, tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Di Sumatra bagian Selatan (daerah Bangkinang dan Kerinci) ditemukan benda-benda perunggu berupa aneka patung dalam ukuran kecil, cincin dan gelang-gelang. Gelang-gelang tersebut kebanyakan ditemukan dalam kubur peti batu atau sarkofagus sebagai bekal kubur. Selain di Sumatra situs-situs ditemukannya peninggalan budaya perunggu di Indonesia antara lain terdapat di:
• Jawa Timur (daerah Lumajang) berupa nekara tipe Heger I, pisau belati atau pisau pendek dengan mata pisau dari besi dan pegangan dari perunggu. 
• Jawa Tengah (daerah Gunung Kidul, dekat Wonosari) berupa kapak, pahatan, pisau bertangkai, cincin perunggu, dan manik-manik.
Sama seperti penemuan di Sumatra, semua temuan benda perunggu di Jawa ditemukan di dlam kubur peti batu atau sarkofagus dan berfungsi sebagai bekal kubur bagi yang meninggal.
• Jawa Barat, berupa kapak corong, cincin, mata tombak, kapak-kapak yang berkaitan dengan benda upacara (candrasa)
• Sulawesi Selatan (Makasar) berupa bejana perunggu berbentuk pipih.
• Bali (daerah Pacung dekat Sembiran) berupa nekara Pejeng
• NTT berupa nekara bertipe Heger I
Di Indonesia, diantara benda-benda perunggu yang paling menarik perhatian adalah nekara. Nekara adalah benda yang terbuat dari perunggu dengan bentuk seperti gendang (alat musik tabuh tradisional Jawa). Terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian atas yang yang terdiri dari bidang pukul datar, bagian tengah yang berbentuk silinder dan bagian bawah atau bagian kaki yang melebar. Sebuah nekara biasanya dihiasi dengan berbagai ornamentasi dengan pola seperti geometrik, gambar-gambar manusia dan binatang dan berbagai ornamentasi lainnya. Dan diantara jenis nekara yang ditemukan, tipe Heger dan Pejeng adalah yang paling terkenal. Terdapat juga jenis nekara yang ukurannya lebih kecil, yang disebut dengan Moko atau Mako.

2. Teknik Pembuatan Berbagai Benda Peninggalan Perunggu di Indonesia
Pada periode tradisi pengecoran logam, besi dan perunggu kemungkinan besar dikenal dalam waktu yang bersamaan. Pada periode ini manusia telah mampu membuat alat-alat penunjang kehidupan mereka dari perunggu. Daerah asal kebudayaan ini adalah di Indo-Cina. Masuk ke Indonesia pada sekitar tahun 500 SM. Di Indonesia, benda-benda hasil peninggalan zaman perunggu diantaranya adalah nekara, jenis kapak, bejana, senjata, arca dan perhiasan. Situs-situs ditemukannya peninggalan perunggu meliputi Jawa, Bali, Selayar, Luang, Roti dan Leti.
Ada dua teknik pembuatan barang-barang dari perunggu. Teknik pertama adalah yang dikenal dengan teknik setangkup atau bivalve, dan teknik kedua adalah teknik cetakan lilin (a cire perdue).
Pertama, teknik bivalve
Teknik cetakan ini menggunakan dua cetakan dengan bentuk sesuai benda yang diinginkan yang dapat ditangkupkan. Cetakan diberi lubang pada bagian atasnya dan dari lubang tersebut kemudian dituangkan cairan logam. Bila sudah dingin, cetakan baru dibuka.
Kedua, teknik cetakan lilin
Teknik cetakan lilin menggunakan bentuk bendanya yang terlebih dahulu dibuat dari lilin yang berisis tanah liat sebagai intinya. Bentuk lilin dihias menurut keperluan dengan berbagai pola hias. Bentuk lilin yang sudah lengkap kemudian dibungkus dengan tanah liat. Pada bagian atas dan bawah diberi lubang. Dari lubang bagian atas kemudian dituangkan cairan perunggu dan dari lubang di bawah
mengalir lelehan lilin. Bila cairan perunggu yang dituang sudah dingin, cetakan dipecah untuk mengambil bendanya yang sudah jadi. Cetakan seperti ini hanya dapat digunakan sekali saja.
Disamping tradisi pembuatan alat-alat perunggu manusia pada periode ini sudah mampu melebur bijih-bijih besi dalam bentuk alat-alat yang sesuai dengan keinginan dan kegunaannya. Benda-benda besi yang banyak ditemukan di Indonesia antara lain berupa mata kapak, berbagai jenis pisau dalam berbagai ukuran, mata sabit yang berbentuk melingkar, tajak, mata tombak, gelang-gelang besi dan sebagainya. Disamping perunggu dan besi, emas juga telah dimanfaatkan utamanya untuk membuat perhiasan dan benda-benda persembahan kubur.

3. Situs-situs Peninggalan Budaya Besi di Indonesia
Berbeda dengan benda perunggu, penemuan benda besi di Indonesia sangat terbatas jumlahnya. Kebanyakan benda-benda besi ini ditemukan dalam kubur batu atau kubur langsung sebagai benda bekal kubur. Diantara situs-situs ditemukannya benda-benda besi ini antara lain adalah di Wonosari (tepatnya dalam peti kubur batu di daerah Gunung Kidul, Jawa Tengah), Besuki, Tuban, Madiun dan Pacitan (semuanya ada di Jawa Timur).

KEHIDUPAN AWAL MASYARAKAT INDONESIA

A. Perkembangan Biologis Manusia Indonesia
1. Evolusi Biologis Manusia Secara Umum
Perkembangan bilogis atau fisik manusia berkaitan erat dengan terjadinya proses evolusi manusia. Proses evolusi biologis merupakan proses perubahan secara berangsur-angsur dalam jangka waktu lama yang berkaitan dengan sikap tubuh dan cara bergerak, perubahan fungsi bagian tertentu tubuh manusia, perubahan bentuk dan volume kepala, perkembangan fungsi alat indera terutama hidung dan mata. Berikut akan dijelaskan tentang perubahan atau evolusi tersebut.

a. Sikap tubuh dan cara bergerak
Satu hal penting yang menunjukkan adanya evolusi dikaitkan dengan sikap tubuh dan cara bergerak ini sikap berdiri tegak. Menurut para ahli evolusi, proses menuju sikap berdiri tegak diawali dari kemampuan duduk tegak, berlari tegak, berjalan tegak dan terakhir dengan berdiri tegak untuk waktu yang lama. Dalam proses ini terjadi perubahan struktur pada bagian tulang belakang manusia, berpindahnya titik berat badan pada bagian bawah badan yang memiliki kemampuan untuk menopang berat badan secara keseluruhan. Disamping tulang belakang, tulang-tulang tungkai, tulang paha, tulang kering, tulang jari kaki juga semakin kuat untuk menopang badan.

b. Perubahan fungsi bagian tertentu tubuh manusia
Fungsi jari kaki mengalami reduksi oleh karena tidak lagi dipakai lagi untuk mencengkeram, tetapi lebih pada untuk berpijak. Akibat kemampuan berdiri tegak, maka tangan tidak lagi berfungsi sebagai penunjang badan. Bagian lengan seluruhnya dapat bergerak leluasa, sehingga lebih mudah menggunakan tangan untuk menggenggam dan pekerjaan-pekerjaan cermat lainnya. Evolusi tangan kemudian berpengaruh terhadap evolusi budaya. Karena fungsi tangan tidak lagi sebagai penunjang badan, dan sebaliknya dapat bergerak bebas maka tangan memiliki kemampuan memakai, membawa, membuat alat dan banyak aktivitas lainnya.

c. Evolusi kepala
Kepala atau tengkorak terdiri dari tengkorak bagian muka dan tengkorak otak. Oleh karena itu evolusi kepala berhubungan erat dengan evolusi muka, sebagai bagian paling atas sistem pencernaan dan pernafasan serta volume otak. Evolusi muka diantaranya berkaitan dengan struktur otot-otot muka, geraham, gigi, rahang, kening, dagu, tulang pipi dan otot tengkuk. Sementara yang berkaitan dengan evolusi otak, berkaitan dengan besar atau volume otak dan struktur otak. Misalnya dari Australopithecus ke Pithecantropus volume otak berlipat dua kali (Pithecantropus lebih besar). Pithecantropus ke Homo membesar kurang lebih satu setengah kalinya. Pembesaran volume otak itu tentu saja berpengaruh terhadap bentuk tengkorak (meninggi, membulat ke muka, samping dan belakang). Disamping itu evolusi volume otak tentu juga berpengaruh terhadap evolusi budaya.

d. Evolusi alat pembau (hidung)
Peranan alat pembau menjadi berkurang. Hal ini berakibat pada perubahan rongga hidung yang tidak lagi menghadap ke depan dan bagian otak yang berhubungan dengan pembauan mengalami reduksi.

e. Evolusi alat penglihat (mata)
Berlawanan dengan alat pembau yang mengalami reduksi, alat penglihat menjadi lebih sempurna baik dalam hal struktur maupun fungsi ketajaman melihat.
Evolusi biologis tersebut di atas secara keseluruhan berpengaruh terhadap perkembangan bio-sosial (manusia sebagai makluk sosial) yang mencakup: kemampuan pembuatan alat, organisasi sosial dan komunikasi dengan bahasa.    

2. Evolusi Biologis Manusia Purba Indonesia
Berdasarkan temuan-temuan fosil manusia prasejarah Indonesia, para arkeolog membedakan jenis manusia purba di Indonesia (sejauh yang ada sekarang) ke dalam beberapa jenis. Dari jenis-jenis yang ada para ahli membuat semacam tingkatan perkembangan dari manusia purba yang tertua hingga yang lebih muda, yang didasarkan pada indikator-indikator tertentu, sebagaimana telah disebutkan di atas.

a. Meganthropus paleojavanicus
Meganthropus paleojavanicus (manusia besar tertua dari Jawa) adalah jenis manusia purba yang paling tua (primitif) yang pernah ditemukan di Indonesia (Jawa). Fosil Meganthropus paleojavanicus pertama kali ditemukan oleh arkeolog, von Koenigswald dan Weidenreich antara tahun 1936-1941 di situs Sangiran pada formasi Pucangan. Fosil yang ditemukan antara lain berupa fragmen tulang rahang atas dan bawah serta sejumlah gigi lepas. Hingga saat ini Meganthropus dikategorikan sebagai jenis manusia purba yang terpisah (berbeda) dari Homo erectus.
Berdasarkan hasil penemuan fosil-fosilnya para ahli menyimpulkan bahwa Meganthropus paleojavanicus memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
• Hidup pada masa Pleistosen awal
• Memiliki rahang bawah yang sangat tegap dan geraham yang besar
• Memiliki bentuk gigi yang homonim
• Memiliki otot-otot kunyah yang kuat
• Bentuk mukanya masif dengan tulang pipi yang tebal, tonjolan kening yang mencolok dan tonjolan belakang kepala yang tajam serta tidak memiliki dagu.
• Memakan jenis tumbuh-tumbuhan

b. Pithecanthropus
Pithecanthropus (manusia kera) adalah jenis manusia purba yang fosil-fosilnya paling banyak ditemukan di Indonesia. Fosil Pithecanthropus pertama kali ditemukan oleh arkeolog dari Belanda, Eugene Dubois pada tahun 1891 di Trinil, Ngawi berupa atap tengkorak dan tulang paha. Berdasarkan temuannya tersebut Dubois menamainya dengan Pithecanthropus erectus (manusia kera yang berdiri tegak). Disamping Pithecanthropus erectus jenis Pithecanthropus lainnya yang ditemukan di Indonesia adalah Pithecanthropus robustus (manusia kera yang besar), dan Pithecanthropus mojokertensis (manusia kera dari Mojokerta).
Berdasarkan fosil-fosil yang ditemukan, Pithecanthropus memiliki ciri berikut:
• Pithecanthropus hidup pada masa Pleistosen awal dan tengah (1 juta hingga 1,5 juta tahun silam)
• Tinggi badan sekitar 168 – 180 cm dengan berat badan rata-rata 80 – 100 kg
• Berjalan tegak
• Volume otaknya sekitar 775 cc – 975 cc
• Batang tulang lurus dengan tempat-tempat perlekatan otot yang sangat nyata
• Bentuk tubuh dan anggota badan tegap
• Alat pengunyah dan otot tengkuk sangat kuat
• Bentuk geraham besar dengan rahang yang sangat kuat
• Bentuk kening yang menonjol sangat tebal
• Bentuk hidung tebal
• Tidak memiliki dagu
• Bagian belakang kepala tampak menonjol

c. Homo Sapiens
Diantara fosil yang berhasil ditemukan di Indonesia adalah jenis Soloensis (dari Solo) dan Wajakensis (dari Wajak, Mojokerto). Secara umum Homo Sapiens memiliki ciri yang lebih progresif dibanding Pithecantropus.
Secara khusus ia memiliki ciri-ciri berikut:
• Volume otak bervariasi antara 1000 – 1450 cc
• Otak besar dan otak kecil sudah berkembang (terutama pada bagian kulit otaknya)
• Tinggi badan sekitar 130 – 210 cm dengan berat badan rata-rata 30 – 150 kg.
• Tulang dahi dan bagian belakang tengkorak sudah membulat dan tinggi
• Otot tengkuk mengalami penyusutan
• Alat kunyah dan gigi mengalami penyusutan
• Berjalan dan berdiri tegak sudah lebih sempurna


B. Periodisasi Perkembangan Budaya Pada Masyarakat Awal Indonesia
Berdasarkan hasiil-hasil benda budaya dan alat-alat penunjang kehidupan, periodisasi atau pembabakan zaman pada masyarakat awal Indonesia (masyarakat pra sejarah atau pra aksara) Indonesia dibagi menjadi dua, yaitu: zaman batu dan zaman logam.
1. Zaman Batu
Merupakan masa dimana sebagian besar alat atau sarana penunjang kehidupan manusia (terutama kehidupan ekonomi) prasejarah terbuat dari batu dalam berbagai bentuk, jenis dan ukurannyanya, yang disesuaikan dengan kegunaan dari masing-masing alat. Meskipun demikian tidak berarti bahwa pada waktu itu manusia prasejarah hanya mengandalkan alat-alat yang terbuat dari batu saja. Tentu saja mereka juga memanfatkan benda lain yang berasal dari kayu, bambu, tulang, atau tanduk hewan. Memang sebagai bukti sejarah benda-benda itu tidak lagi bisa ditemukan karena sudah hancur.
Zaman batu ini dibedakan menjadi: zaman batu tua (paleolitikum), zaman batu madya (mesolitikum), dan zaman batu muda (neolitikum). Pembagian itu dilakukan atas dasar tinggi rendahnya penggunaan teknologi dari benda-benda atau alat hasil budaya masyarakat. Alat-alat yang mereka hasilkan yang terbuat dari batu tidak sama baiknya. Ada yang dibuat sangat kasar, kasar, dan halus. Semakin kasar alat-alat itu, maka diperkirakan semakin tua usianya dan sebaliknya. Di samping ketiga zaman batu itu, juga dikenal zaman batu besar (megalitikum). Yang terakhir ini sebenarnya lebih berfungsi sebagai media kepercayaan atau religi dari pada fungsi alat ekonomi.

a. Zaman batu tua (paleolitikum)
Pada zaman ini kehidupan manusia prasejarah masih sangat sederhana. Peralatan penunjang kehidupan mereka umumnya terbuat dari batu kasar, yaitu batu alami yang belum dihaluskan. Sampai sekarang, sisa-sisa peninggalan zaman paleolitikum hanya ditemukan di pulau Jawa dan Sulawesi. Kebanyakan manusia prasejarah yang hidup pada mas ini diperkirakan hidup secara berkelompok dalam suatu kelompok kecil, antara 10-15 orang. Mereka hidup secara berpindah atau nomaden, sejalan dengan upaya mereka untuk memenuhi kebutuhan akan makanan. Kebutuhan akan bahan makanan sangat bergantung pada hasil alam, sehingga yang mereka lakukan hanya sebatas pada aktivitas mengumpulkan makanan (food gathering) dan aktivitas berburu.
Hal lain yang perlu diketahui dari periode ini adalah bahwa zaman paleolitikum memiliki hubungan yang erat dengan sejarah bumi. Oleh karena itu, zaman ini mencakup tiga lapisan bumi, yaitu: Pleistosin Bawah, Pleistosin Tengah, dan Pleistosin Atas.

• Pleistosin Bawah
Sebagian besar pleistosin bawah berupa batu pasir tufa dan tanah liat berwarna biru kehitam-hitaman. Pada lapisan ini telah ditemukan fosil tulang-tulang dan geraham-geraham dari binatang menyusui dan manusia yang tertua dari jenis palaeoanthropus.
Fauna dari masa ini disebut Fauna Jetis, dengan binatangnya seperti gajah, kerbau, sapi, rusa, menjangan, dan kuda air yang masih primitif. Sedangkan dari sisa-sisa manusia yang ditemukan dapat ditentukan bahwa sekurang-kurangnya ada tiga jenis manusia yang pernah hidup pada masa itu. Pertama, Meganthropus Palaeojavanicus (manusia raksasa Jawa) meninggalkan fragmen rahang bawah yang sangat besar, masif, dan primitif bentuknya, serta beberapa geraham. Fosil ini menggambarkan ciri-ciri manusia, meskipun masih ada ciri-ciri yang memiliki kemiripan dengan kera.
Kedua, Pithecanthropus Mojokertensis (Pithecanthropus Robustus) ditemukan pada lapisan yang sama umurnya dengan jenis manusia yang pertama. Sisa-sisa manusia ini ditemukan di Sangiran, dekat Sungai Cemoro berupa bagian belakang tengkorak, kedua tulang pelipis, tiga perempat sisi tengkorak, bagian bawah rahang atas, rahang kanan bawah, dan geraham.
Akhirnya, dalam endapan Pleistosin Bawah telah ditemukan sebuah tengkorak anak kecil di dekat Mojokerto. Tengkorak ini diperkirakan berasal dari manusia ketiga yang masih muda dari jenis Pithecanthropus.

• Pleistosin Tengah
Permulaan zaman Pleistosin Tengah diperkirakan bersamaan waktunya dengan zaman es kedua, di mana permukaan laut turun kira-kira mencapai 25 meter. Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan dihubungkan satu sama lain dengan daratan Asia. Akibatnya, terjadi migrasi binatang menyusui pemakan tumbuh-tumbuhan dan binatang buas dari daratan Asia. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila jenis binatang atau hewan yang di pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan cenderung sama dengan binatang yang hidup di daratan Asia. Sedangkan binatang yang hidup di wilayah Indonesia Timur cenderung sama atau mirip dengan binatang yang hidup di benua Australia.
Fauna dari masa ini disebut Fauna Trinil atau Fauna-Sino-Melayu karena jenis fauna yang ditemukan di daerah Trinil memiliki kesamaan dengan yang dijumpai di Tiongkok. Beberapa jenis fauna itu di antaranya adalah beruang melayu, tapir, badak, rusa. Jenis manusia terpenting dari fauna ini adalah Pithecanthropus Erectus (manusia kera berdiri tegak dari Trinil).
Beberapa penemuan seperti tengkorak, fragmen kecil dari rahang bawah kanan, dan tulang paha diperkirakan dari jenis manusia itu. Selama masa pleistosen tengah, jenis manusia ini tidak banyak mengalami perubahan secara fisik. Pithecanthropus Erectus adalah nenek moyang dari Manusia Solo (Homo Soloensis).
Peralatan tertua yang terbuat dari batu berasal dari zaman ini. Alat itu tidak dapat dimasukan ke dalam kebudayaan batu-teras dan ke dalam golongan flake. Alat-alat itu dikenal sebagai kapak genggam, kapak perimbas monofacial, alat-alat serpih, dan beberapa kapak genggam yang telah dikerjakan dua sisinya.

• Pleistosin Atas
Permulaan Pleistosin Atas bersamaan waktunya dengan zaman glasial ketiga. Pithecanthropus dan beberapa jenis binatang menyusui dari zaman sebelumnya tidak dapat mempertahankan diri dan telah lenyap dari muka bumi. Mahkluk baru yang muncul adalah Homo Soloensis (Manusia Solo). 
Manusia Solo memiliki ciri yang hampir sama dengan Pithecanthropus, hanya saja sedikit lebih besar dan lebih maju dalam hal volume otaknya. Diperkirakan manusia Solo adalah keturunan langsung Pithecanthropus. Sepanjang Sungai Solo, dekat Ngandong telah ditemukan tidak kurang dari sebelas kubah tengkorak beserta fragmen-fragmen dari Manusia Solo. Di samping itu, ditemukan pula dua potong tulang kering. Tampaknya, mereka telah hidup berkumpul di sepanjang Sungai Solo.
Di tempat yang sama, juga ditemukan tulang-tulang binatang yang sangat banyak jumlahnya. Tampaknya, mereka telah membunuh beribu-ribu binatang. Dari beberapa fosil tulang binatang yang ditemukan jenis binatang yang banyak adalah gajah dan kuda air.
Beberapa jenis peralatan yang mereka gunakan di antaranya adalah peluru bulat dari batu yang diperkirakan sebagai alat pelempar untuk melumpuhkan binatang buruan, bermacam-macam alat berbentuk kapak perimbas dari tulang dan tanduk.
Di samping Homo Soloensis, ditemukan juga dua tengkorak yang telah membantu di desa Campurdarat, sebelah selatan gunung Wilis. Tengkorak ini termasuk tipe Neoanthropus dan dikenal sebagai Homo Wajakensis. 

b. Zaman batu tengah (mesolitikum)
Setelah zaman es berakhir, maka dataran Sunda terbagi menjadi beberapa pulau. Homo Soloensis lenyap dari muka bumi dan manusia-manusia baru dari jenis Sapien saja yang mampu mencapai pulau-pulau itu. Mereka itu adalah orang-orang Melanesia, Austroloida, dan Negrito.
Binatang-binatang yang hidup pada zaman sebelumnya telah lenyap, kecuali gajah.  Binatang yang hidup pada zaman mesolitikum hampir mirip dengan binatang yang hidup pada masa sekarang. Bedanya, tubuh binatang pada masa mesolitikum memiliki ukuran yang lebih besar.
Kehidupan manusia belum banyak berubah. Mereka umumnya hidup berburu dan mengumpulkan akar-akaran, sayur-sayuran liar, dan binatang kerang. Hidup mengembara merupakan ciri yang paling dominan, meski telah ada tanda-tanda untuk menetap lebih lama di suatu tempat. Perkiraan itu dibuktikan dengan bukit kerang yang tingginya mencapai 4 meter seperti yang ditemukan di pantai Timur Sumatera. Meskipun belum pasti, ketika itu orang diperkirakan telah memelihara anjing. Pada waktu berburu, anjing merupakan binatang yang dapat membantu pekerjaan manusia. Di Sulawesi Selatan, di dalam gua ditemukan sisa-sisa gigi anjing oleh Sarasin bersaudara.
Pada masa mesolitikum terdapat tiga macam kebudayaan yang berbeda satu sama lain, yaitu: kebudayaan Bascon-Hoabin, kebudayaan Toale, dan kebudayaan Sampung. Ketiga kebudayaan itu diperkirakan datang di Indonesia hampir bersamaan waktunya.

• Kebudayaan Bascon-Hoabin
Hasil-hasil peninggalan budaya ini ditemukan dalam gua-gua dan bukit-bukit kerang di Indo Cina, Siam, Malaka, dan Sumatera Timur. Daerah-daerah itu merupakan wilayah yang saling berkait-an satu sama lainnya. Kebudayaan ini umumnya berupa alat dari batu kali yang bulat. Sering disebut sebagai “batu teras” karena hanya dikerjakan satu sisi, sedangkan sisi yang lain dibiarkan tetap licin. Jenis alat ini ditemukan di Sumatera dalam jumlah yang besar dan disebut sebagai Sumatralith lonjong.

• Kebudayaan Toale
Umumnya hasil kebudayaan Toale adalah kebudayaan flake dan blade. Kebudayaan ini mendapat pengaruh kuat dari unsur microlith sehingga menghasilkan alat-alat yang berukuran kecil dan terbuat dari batu. Di samping itu, ditemukan alat-alat yang terbuat dari tulang dan kerang. Alat-alat ini sebagian besar merupakan alat berburu. Kebudayaan-kebudayaan yang mirip dengan kebudayaan Toale antara lain ditemukan di Jawa (dataran tinggi Bandung, Tuban, dan Besuki), di Sumatera (di sekeliling danau Kerinci dan gua-gua di Jambi); di Flores, di Timor, dan di Sulawesi.

• Kebudayaan Sampung
Merupakan kebudayaan tulang dan tanduk yang ditemukan di desa Sampung, Ponorogo. Barang yang ditemukan berupa jarum, dan pisau. Pada lapisan yang lain telah ditemukan mata panah. Di samping itu ditemukan juga beberapa kerangka manusia dan tulang binatang buas yang dibor (mungkin sebagai perhiasan atau jimat). Tentang persebarannya tidak banyak diketahui. Namun, beberapa penelitian telah membuktikan bahwa kebuadayaan ini telah berkembang di daerah Sulawesi dan Flores.
c.    Zaman batu muda (neolitikum)
Kira-kira 1000 tahun SM, telah datang bangsa-bangsa baru yang memiliki kebudayaan lebih maju dan tinggi derajatnya. Mereka dikenal sebagai bangsa Indonesia Purba. Beberapa kebudayaan mereka yang terpenting adalah sudah mengenal pertanian (food producing), berburu, menangkap ikan, memelihara ternak jinak (anjing, babi, dan ayam).
Sistem pertanian dilakukan dengan sederhana. Mereka menanam tanaman untuk beberapa kali dan sesudah itu ditinggalkan. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan melaksanakan sistem pertanian yang sama untuk kemudian berpindah lagi. Bangsa Indonesia Purba telah membentuk masyarakat. Mereka mulai hidup menetap, meski untuk waktu yang tidak lama. Mereka telah membangun pondok-pondok yang berbentuk persegi empat, didirikan di atas tiang-tiang kayu, diding-dindingnya diberi hiasan dekoratif yang indah.

d. Zaman batu besar (megalitikum)
Sebenarnya, zaman megalitikum bukan kelanjutan dari zaman batu sebelumnya. Megalitikum muncul bersamaan dengan zaman mesolotikum dan neolitikum. Pada zaman batu pada umumnya, muncul kebudayaan batu besar (megalitikum) seperti menhir, batu berundak, dolmen, dan sebagainya. Hal ini berkaitan dengan unsur kepercayaan masyarakat. Di Indonesia penemuan bangunan megalitik antara lain terdapat di daerah Jawa, Sumatra Barat dan Selatan, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan.   

2. Zaman Logam
Disebut zaman logam karena sebagian besar alat penunjang kehidupan manusia pada masa itu terbuat dari logam. Artinya juga mereka telah memiliki kemampuan dalam hal pengolahan logam untuk dibuat alat-alat tertentu sesuai dengan keinginan dan keperluan mereka. Zaman ini memperlihatkan kepada kita tentang kemahiran di bidang teknologi. Dengan demikian pembuatan alat-alat logam menunjukkan tingkat kebudayaan yang tentu saja lebih maju dibanding periode sebelumnya.
Zaman logam sendiri dibedakan atas beberapa zaman, yaitu: zaman Tembaga, zaman Perunggu, dan zaman Besi. Namun demikian, zaman Tembaga tidak pernah berkembang di Indonesia. Dengan demikian, zaman logam di Indonesia dimulai dari zaman perunggu dan zaman besi.

• Zaman Perunggu
Pada periode zaman perunggu ini, manusia sudah memiliki kemampuan mengolah logam perunggu (campuran timah dan tembaga) yang disesuaikan dengan bentuk peralatan yang diperlukan. Jenis alat-alat yang paling banyak ditemukan adalah kapak perunggu. Disamping itu juga tombak. Jenis benda perunggu yang memiliki fungsi sebagai alat atau benda-benda upacara adalah nekara.

• Zaman Besi
Pada masa ini manusia sudah memiliki kemampuan melebur bijih-bijih besi dalam bentuk alat-alat yang dibentuk sesuai keinginan dan fungsinya. Dibandingkan benda-benda atau alat perunggu penemuan benda-benda besi di Indonesia lebih sedikit. Diantara benda-benda besi yang berhasil ditemukan adalah mata pisau, mata kapak, dan tombak. Disamping itu juga ditemukan gelang besi.

• Zaman Arkaekum
Merupakan zaman tertua dan diperkirakan sekitar 2.500 juta tahun yang lalu. Keadaan bumi belum stabil, keadaan bumi dan udara sangat panas, kulit bumi dalam proses pembentukan sehingga belum ada tanda-tanda kehidupan.

• Zaman Paleozoikum
Zaman Paleozoikum berusia sekitar 340 juta yang lalu. Keadaan bumi masih berubah-ubah. Namun demikian, pada masa ini telah ada kehidupan, yaitu makhluk ‘bersel satu’. Makhluk lain yang hidup ada-lah sejenis ikan, reptil, dan lain-lain. Oleh karena itu, zaman ini sering disebut zaman primer atau zaman pertama.

• Zaman Mesozoikum
Zaman Mesozoikum berusia sekitar 140 juta tahun yang lalu. Pada zaman ini kehidupan berkembang dengan pesat, terutama binatang-binatang yang sangat besar seperti dinosaurus, atlantosaurus, dan jenis-jenis burung yang besar. Zaman ini sering disebut zaman reptil karena makhluk hidup sejenis reptil berkembang sangat pesat. Di samping itu, zaman mesozoikum juga disebut zaman sekunder atau zaman kedua.

• Zaman Neozoikum atau Kainozoikum
Zaman ini berusia sekitar 60 juta tahun yang lalu. Keadaan bumi semakin membaik, perubahan cuaca tidak terlalu besar, dan kehidupan berkembang pesat. Zaman ini dibeda-kan menjadi dua, yaitu:
- Zaman Tersier, yaitu zaman di mana binatang-binatang besar mulai berkurang dan muncul binatang menyusui seperti kera dan monyet.
- Zaman Kuarter, yaitu zaman di mana muncul tanda-tanda kehi-dupan dari manusia purba. Zaman ini dibedakan menjadi dua, yaitu:
* Kala Pleistosin atau zaman Dilluvium atau zaman Es. Keadaan permukaan bumi mengalami perubahan secara tiba-tiba. Jika keadaan bumi panas, maka es di kutub utara mencair dan menutupi sebagian daratan dan sebaliknya.
* Kala Holosin atau zaman Alluvium, yaitu zaman di mana jenis Homo Sapiens mulai hidup. Homo Sapiens adalah jenis manusia seperti manusia sekarang.

C. Peta Penemuan Manusia Purba dan Hasil Kebudayaannya di Indonesia
Berikut adalah data hasil penemuan fosil-fosil manusia purba di Indonesia yang ditemukan oleh para arkeolog di beberapa situs penting di Jawa.
Wajak : Tengkorak, ruas tulang leher, tulang rahang, gigi, tulang paha, tulang kering
Kedungbrubus : Fragmen rahang bawah kanan
Trinil : Atap tengkorak, tulang paha kiri, fragmen tulang paha kanan dan kiri
Ngandong : Atap tengkorak, tulang dahi, fragmen tulang pendinding kanan, tengkorak batang tulang kering kanan, tulang kering kanan
Sangiran : Fragmen rahang atas kiri, fragmen rahang bawah kanan, atap tengkorak, atap tengkorak rahang atas, batang rahang bawah kanan, fragmen rahang bawah, gigi.
Sangiran : Rahang bawah, batang rahang bawah kanan, atap tengkorak, tulang pipi kiri, gigi, fragmen rahang atas kanan, fragmen rahang atas kanan dan kiri, fragmen rahang bawah dan atas, cetakan dalam tengkorak, fragmen tulang pelipis
Ngandong : Tulang-tulang tengkorak, atap tengkorak, fragmen tulang pinggul
Trinil : Batang tulang paha kanan dan kiri, gigi.

D. Ciri-Ciri Sosial, Budaya, Ekonomi, dan Kepercayaan Masyarakat Pada Masa Berburu (Food Gathering) dan Masyarakat Pertanian (Food Producing)
1. Masyarakat Masa Berburu (Food Gathering)
Disebut sebagai masyarakat masa berburu karena aktivitas kehidupan masyarakatnya dalam upaya mendapatkan makanan tergantung pada apa yang disediakan oleh alam, berburu dari apa yang ada di sekitarnya. Mereka hanya melakukan aktivitas mengumpulkan makanan yang ada (food gathering).

a. Sosial
Ciri-ciri kehidupan sosial masyarakatnya ditandai dengan:
• Mereka hidup berkelompok dalam kelompok-kelompok kecil
• Tidak memiliki tempat tinggal tetap, mereka senantiasa berpindah-pindah (nomaden) dari satu tempat ke tempat yang lainnya untuk mendapatkan makanan yang disediakan oleh alam.
• Tempat tinggal sementara mereka adalah gua-gua, baik di pedalaman maupun di pinggir aliran sungai, daerah lembah,  atau pantai untuk menghindarkan diri dari serangan binatang buas dan yang dekat dengan sumber makanan.
• Hubungan antara sesama anggota kelompok sangat erat dan mereka saling membantu satu sama lain. Mereka berusaha mempertahankan kelompoknya dari serangan kelompok lain atau serangan binatang buas.
• Meskipun kehidupan mereka masih sederhana, tetapi mereka telah mengenal pembagian tugas. Kaum laki-laki biasanya mendapat tugas yang lebih berat seperti menangkap binatang dan mengumpulkan makanan dari hutan. Sementara, kaum wanita mengurus tugas-tugas yang lebih ringan, seperti memasak dan mengurus anak-anak.
• Masing-masing kelompok masyarakat dipimpin oleh seseorang yang sangat dihormati, disegani dan ditaati oleh anggotanya. Dengan demikian, pada masa berburu dan mengumpulkan makanan telah terlihat tanda-tanda kehidupan sosial, meskipun dalam taraf yang masih sangat sederhana.

b. Budaya
• Budaya hidup (non-materi)
Dalam hal pemilihan tempat tinggal sementara (tempat berlindung) ada kelompok yang memilih daerah pedalaman dan sebaliknya ada yang lebih memilih daerah dekat pantai. Hal demikian pada akhirnya menimbulkan budaya yang berbeda juga. Kelompok yang tinggal di daerah pantai memfokuskan aktivitas hidupnya pada upaya mendapatkan makanan yang dihasilkan dari laut seperti ikan, kerang dan lainnya.
Untuk dapat bertahan hidup dalam lingkungannya tersebut, mereka mulai mengembangkan berbagai bentuk peralatan yang berfungsi sebagai alat untuk menangkap ikan. Muncullah budaya pembuatan alat anak panah dan tombak baik yang terbuat dari kayu, bambu, tulang binatang atau mata panah dan tombak yang dibuat dari batu. 
Sementara itu, masyarakat yang lebih memilih tinggal di daerah pedalaman umumnya memilih area dekat sungai untuk mendapatkan makanan berupa ikan atau siput air tawar, disamping mengandalkan hasil makanan dari hutan.
• Budaya benda atau alat
Pada awalnya benda-benda hasil budaya mereka sangat sederhana sekali. Benda-benda itu dibuat dan terkait erat dengan aktivitas untuk mendapatkan makanan dan mengolah makanan.
Tahun 1935 di daerah Sungai Baksoka, Punung, Kabupaten Pacitan, von Koenigswald menemukan alat-alat dari dipercayai merupakan hasil budaya masyarakat masa berburu dan mengumpulkan makanan. Dalam perkembangannya kemudian disebut dengan budaya Pacitan. Alat yang ia temukan adalah berupa kapak perimbas. Pada tahun-tahun setelah penemuan tersebut H.R. van Heekeren, Basuki dan R.P. Soejono melakukan penggalian di daerah yang sama dengan lokasi penggalian Koenigswald dan menemukan alat-alat yang memiliki bentuk seperti kapak perimbas, alat-alat serpih dan alat-alat dari tulang.
Selain di daerah Pacitan, berdasarkan hasil penelitian, peralatan manusia purba masa berburu dan mengumpulkan makanan banyak ditemukan di berbagai wilayah, seperti daerah Jampang Kulon (Suka-bumi), Gombong (Jawa Tengah), Perigi dan Tambang Sawah (Bengkulu), Lahat dan Kalianda (Sumatera Selatan), Sembiran Trunyan (Bali), Wangka dan Maumere (Flores), daerah Timor Timur, Awang Bangkal (Kalimantan Timur), dan Cabbenge (Sulawesi Selatan).
Para ahli menafsirkan bahwa yang membuat alat-alat tersebut adalah manusia Pithecanthropus dan kebudayaannya disebut dengan tradisi Paleolitikum.

Kapak perimbas
Adalah benda yang memiliki bentuk seperti kapak tetapi tidak memiliki tangkai yang terbuat dari batu. Cara menggunakan kapak ini adalah dengan menggenggamnya. Disamping daerah Pacitan daerah lainnya yang darinya ditemukan jenis kapak perimbas adalah Ciamis, Gombong, Bengkulu, Lahat, Bali, Flores dan daerah Timor. Berdasarkan lapisan penemuannya, para ahli menyimpulkan bahwa kapak perimbas adalah hasil budaya Pithecantropus erectus.
Selain di Indonesia, kapak jenis ini juga ditemukan di beberapa negara Asia, seperti Myanmar, Vietnam, Thailand, Malaysia, Pilipina, dan Cina sehingga sering dikelompokkan dalam kebudayaan Bascon-Hoabin.

Kapak genggam
Kapak genggam memiliki bentuk yang hampir sama dengan kapak perimbas, tetapi lebih kecil dan belum diasah. Kapak ini juga ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Cara menggunakan kapak ini adalah menggenggam bagian yang kecil.

Pahat genggam
Pahat genggam memiliki bentuk lebih kecil dari kapak genggam. Menurut para ahli, pahat ini dipergunakan untuk menggemburkan tanah. Alat ini digunakan untuk mencari ubi-ubian yang dapat dimakan.

Alat-alat dari tulang
Tampaknya, tulang-tulang binatang hasil buruan telah dimanfaatkan untuk membuat alat seperti pisau, belati, mata tombak, mata panah, dan lain-lainnya. Alat-alat ini banyak ditemukan di Ngandong dan Sampung (Ponorogo). Oleh karena itu, pembuatan alat-alat ini sering disebut kebudayaan Sampung.

Blade, Flake, dan Microlith
Alat-alat ini banyak ditemukan di Jawa (dataran tinggi Bandung, Tuban, dan Besuki); di Sumatera (di sekeliling danau Kerinci dan gua-gua di Jambi); di Flores, di Timor, dan di Sulawesi. Semua alat-alat itu sering disebut sebagai kebudayaan Toale atau kebudayaan serumpun.

Alat-alat serpih
Adalah alat-alat yang terbuat dari pecahan batu yang dibuat dengan bentuk yang sangat sederhana yang kemungkinan besar dibuat sesuai dengan fungsinya masing-masing. Dilihat dari bentuknya maka kemungkinan alat-alat serpih itu antara lain memiliki fungsi sebagai pisau, atau alat penusuk. Alat-alat ini di Indonesia banyak ditemukan di daerah Sangiran (Jawa Tengah), Cabbenge (Sulawesi Selatan), Maumere (Flores), dan Timor. Kebanyakan ditemukan di dalam ceruk atau gua-gua yang merupakan tempat tinggal manusia prasejarah.

c. Ekonomi
Ciri-ciri kehidupan ekonomi masyarakatnya ditandai dengan:
• Kehidupan ekonomi bergantung pada alam (food gathering) oleh karenanya, mereka selalu berpindah untuk mencari bahan makanan, baik dari tumbuh-tumbuhan maupun binatang.
• Mereka belum mengenal sistem pertanian (bercocok tanam)
• Aktivitas berburu dilakukan secara berkelompok
• Lingkungan ekonomi mereka ada yang di daerah pedalaman (hutan), pinggir aliran sungai atau daerah tepi pantai

d. Kepercayaan
Sistem kepercayaan telah muncul sejak masa kehidupan berburu dan mengumpulkan makanan. Kuburan pra-sejarah merupakan bukti bahwa masyarakat telah memiliki anggapan tertentu dan memberikan penghormatan kepada orang yang telah meninggal. Masyarakat percaya bahwa orang yang meninggal, rohnya akan pergi suatu tempat. Bahkan, jika orang itu berilmu atau berpengaruh dapat memberikan perlindungan atau nasihat kepada mereka yang mengalami kesulitan.

2. Masyarakat Pertanian atau Bercocok Tanam
Seiring dengan makin berkembangnya pola pikir dan kecerdasan manusia terutama dikaitkan dengan upaya mempertahankan kehidupan mereka, menyebabkan munculnya kelompok-kelompok masyarakat yang tinggal dalam dalam suatu area wilayah tertentu. Mereka mulai memikirkan upaya untuk memenuhi sendiri kebutuhan makanan yang cukup untuk masa waktu tertentu. Munculnya kemudian budaa pertanian atau budaya cocok tanam di Indonesia. Pola hidup lama dari para pendahalu mereka yang nomaden mulai ditinggalkan.
Hasil dari penemuan bukti-bukti arkeologis juga menunjukkan bahwa pada masa ini masyarakat telah memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi, baik dilihat dari sistem sosial ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi maupun kesenian yang mereka miliki.

a. Sosial
Ditinjau dari segi sosial kahidupan masyarakat prasejarah masa pertanian dicirikan dengan beberapa hal berikut:
• Terbentuknya komunitas manusia yang menetap menunjukkan bahwa masyarakatnya mulai mengenal adanya pranata sosial, meskipun dalam taraf yang masih sederhana
• Pembagian kerja dan tugas dalam keluarga maupun dalam masyarakat juga semakin tegas

b. Budaya
• Budaya Hidup
Karena merupakan masyarakat dengan pola hidup menetap dan bercocok tanam, maka budaya hidup mereka adalah tradisi mengolah tanah untuk kemudian ditanami dengan aneka tanaman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

• Budaya Berupa Hasil Benda atau Alat
Memiliki kemampuan membuat alat-alat penunjang kehidupan sehari-hari yang umumnya terbuat dari batu atau tulang dengan teknik dan seni pembuatan yang lebih halus (sudah diupam). Diantara alat-alat yang menurut para ahli sejarah sebagai hasil budaya masyarakat bercocok tanam antara lain:
- Beliung persegi. Memiliki fungsi yang berkaitan dengan dimensi kepercayaan. Tempat penemuannya antara lain meliputi daerah Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara
- Kapak Lonjong. Memiliki fungsi sebagai alat ekonomi: memotong makanan. Memiliki bentuk yang memperlihatkan sebuah bidang berbentuk lonjong, terbuat dari batu kali hitam dengan seni pembuatan yang sudah diupam. Banyak ditemukan di Maluku, Irian, dan daerah Sulawesi bagian Utara
- Mata Panah. Memiliki fungsi ekonomi: antara lain sebagai alat untuk menangkap ikan. Terbuat dari batu serpih, tulang, dan kemunginan besar juga kayu yang diruncing bagian ujungnya dan dibuat bergerigi pada bagian pinggirnya. Jadi memiliki bentuk yang berbeda dengan mata panah untuk berburu. Banyak ditemukan di dalam gu-gua yang ada di daerah patai atau sungi.
- Aneka benda gerabah (terbuat dari tanah liat). Memiliki fungsi sebagai wadah atau tempat untuk menyimpan. Tradisi gerabah pun hingga saat ini masih menjadi tradisi masyarakat di beberapa daerah atau desa tradisional Indonesia, seperti di Yogyakarta.
- Benda-benda perhiasan. Dibuat tentu saja dengan pola dan bentuk yang masih sangat sederhana. Bahannya pun tentu saja bukan emas atau belian. Kebanyakan mengambil bahan-bahan yang ada di sekitar lingkungan alam tempat tinggal mereka seperti tanah liat, yasper, dan kalsedon
- Benda-benda megalitik, seperti menhir, dolmen, sarkofagus, punden batu berundak, kubur batu dan waruga. Semua benda tersebut memiliki fungsi yang berkaitan dengan tradisi kepercayaan.

a. Ekonomi
• Dengan pola hidup yang menetap, maka sebagian besar upaya pemenuhan kebutuhan hidup manusia masa ini bertumpu pada aktivitas pertanian atau budidaya tanaman
• Mereka menanam jenis tanaman yang pada awalnya tumbuh liar
• Disamping aktivitas pertanian, mereka diperkirakan juga telah menjinakkan hewan (aktivitas pertenakan) seperti anjing, kerbau, sapi, kuda, babi dan lainnya.
• Kehidupan berladang dengan sistem huma telah mereka lakukan

b. Kepercayaan
Penghormatan dan pemujaan kepada roh nenek moyang merupakan unsur utama dalam tradisi kepercayaan masyarakat pada periode ini. Khusus di Indonesia, pemujaan kepada orang yang telah meninggal diwujudkan dalam bentuk pembuatan benda-benda megalitik baik itu sebagai simbol maupun sarana pemujaan. Benda-benda megalitik tersebut diantaranya adalah menhir, dolmen, sarkofagus, punden batu berundak, kubur batu dan waruga.





MEMAHAMI SEJARAH

A.Pengertian Bukti Sejarah

Bukti sejarah adalah segala sesuatu yang dapat diindra yang terkait langsung dengan terjadinya peristiwa tertentu yang keasliannya sudah tidak diragukan lagi karena telah melalui tahap verifikasi dan kritik. Ia bisa berujud benda material atau hasil rekaman (tertulis, suara atupun visual) dari kesaksian orang yang mengalami atau mengetahui langsung peristiwa tersebut.


B.Pengertian Fakta Sejarah

Pengertian fakta sejarah, menimbulkan banyak pendapat dari para sejarawan. Pendapat umum yang selama ini berkembang menyatakan bahwa: pertama, fakta adalah apa yang benar-benar telah terjadi dan kedua fakta sebagai bukti-bukti dari apa yang telah benar-benar terjadi. Menurut Patrick Gerdiner, kedua pengertian itu adalah salah.
Menurut Gerdiner, bukti-bukti dari apa yang telah terjadi di masa lalu itu belum merupakan suatu kebulatan gambaran tentang peristiwa masa lampau. Jadi lebih bersifat sebagai data yang berserakan yang menyebabkan kita sering ragu, apakah itu benar-benar bukti dari peristiwa yang kita cari itu. Dengan kata lain untuk bisa membuat pernyataan bulat bahwa sesuatu peirstiwa di masa lampau benar-benar telah terjadi, diperlukan suatu proses untuk mengumpulkan dan kemudian menguji bukti-bukti tersebut, melalui kegiatan kritik sumber terutama untuk menentukan kebenarannya. Hasil dari proses inilah baru bisa kita namakan sebagai fakta sejarah.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fakta sejarah merupakan keterangan baik itu lisan, tertulis, atau berupa benda-benda peninggalan sejarah yang kita peroleh dari sumber-sumber sejarah setelah disaring dan diuji dengan kritik sejarah.

C.Sejarah Lokal di Indonesia: Contoh-contoh Peninggalan dan Monumen Peringatan Peristiwa Sejarah di Kalimantan Timur

Beberapa peninggalan sejarah yang terdapat di Kalimantan Timur antara lain berupa:

1.Paleografi tujuh buah prasasti
Paleografi tujuh buah prasasti yang menggunakan huruf Pallawa dalam bahasa Sansekerta. Paleografi ini diperkirakan dibuat pada abad ke-5 Masehi, yang merupakan peninggalan kerajaan Kutai. Sekaligus menjadi bukti sejarah bahwa Kerajaan Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia.

2.Bekas bangunan Keraton Kutai
Bangunan keraton kayu peninggalan Sultan Alimuddin dari kerajaan Kutai. Pada tahun 1936 bngunan ini dibongkar diganti dengan bangunan beton. Pembuatan bangunan keraton baru tersebut dilakukan oleh HBM (Hollandsche Beton Maatschappij) Batavia dengan arsiteknya Estourgie. Hingga pemerintahan akhir Kutai (1960) keraton ini masih tetap menjadi tempat kediaman Sultan A. M. Parikesit hingga tahun 1971.

3.Musium Mulawarman
Pada tanggal 25 Nopember 1971, keraton Kutai ini diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, yang kemudian pemerintah propinsi menyerahkannya kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan dijadikan museum negara dengan nama Museum Mulawarman. Disamping bangunan keraton, di dalam Museum Mulawarman sendiri terdapat beraneka ragam koleksi peninggalan kesultanan Kutai Kartanegara, di antaranya singgasana, arca, perhiasan, perlengkapan perang, tempat tidur, seperangkat gamelan, koleksi keramik kuno dari China, dan lain sebagainya.

4.Candi Agung
Pandangan umum yang menyebut bahwa bangunan candi hanya terdapat di Jawa ternyata salah. Di Kalimantan Timur juga terdapat bangunan candi yang disebut dengan Candi Agung.

D.Periodisasi Sejarah Indonesia

Tujuan utama mempelajari masa lalu adalah untuk mencari pola-pola tingkah laku dan mengambil kesimpulan mengenai hubungan sebab-akibat yang muncul kembali pada waktu-waktu yang berlainan dan di tempat-tempat yang berbeda. Terkait dengan masalah tersebut, salah satu hal yang penting untuk diketahui adalah identifikasi periode-periode yang ditandai oleh beberapa ciri tertentu yang kuat.
1.Tujuan pembabakan sejarah
•Memudahkan pemahaman dan pengertian tentang peristiwa tertentu yang terjadi dalam periode tertentu
•Melakukan penyederhanaan
•Klasifikasi dalam ilmu sejarah
•Memenuhi persyaratan sistematika ilmu pengetahuan

2.Beberapa kriteria dalam periodisasi atau pembabakan sejarah
•Kriteria geografis (kewilayahan)
•Kriteria urutan jaman
•Kriteria waktu atas dasar dinasti
•Kriteria waktu atas dasar perkembangan ekonomi, dan sebagainya.

3.Beberapa contoh periodisasi sejarah Indonesia
Ditinjau dari segi kronologi sejarah Indonesia, secara garis besar dibedakan menjadi dua. Pertama adalah periode prasejarah yaitu masa sebelum manusia Indonesia mengenal tulisan. Kedua adalah periode sejarah, yaitu masa setelah ditemukannya bukti-bukti tertulis di Indonesia.
Periodisasi Prasejarah Indonesia
a.Pembabakan prasejarah Indonesia menurut pendapat P. V. Van Stein Callenfels, Th. Van der Hoop, dan H. R. Van Heekeran. Menurut para ahli ini ditinjau dari pendekatan atau kriteria jenis teknologinya periode prasejarah Indonesia dibagi menjadi: Zaman Batu Tua (Paleolitikum), Zaman Batu Madya (Mesolitikum), Zaman Batu Muda (Neolitikum), dan Zaman Logam (Zaman Perunggu dan Zaman Besi). Masing-masing zaman tersebut menunjukkan tingkat pemahaman dan penguasaan teknologi yang berbeda-beda dari masyarakatnya. Dalam hal ini zaman batu madya memeiliki tingkat teknologi yang lebih maju dibanding zaman batu tua. Perbedaan yang paling nyata adalah pada alat batu yang digunakan. Pada zaman batu madya alat batu yang digunakan telah diasah atau diupam pada bagian tertentu yang diinginkan untuk mendapatkan keruncingan atau ketajaman. Demikian juga zaman batu muda lebih maju teknologinya dari zaman batu madya, dan seterusnya.
b.Pembabakan prasejarah Indonesia menurut pendapat R. P. Soejono. Menurutnya ditinjau dari segi terjadinya hubungan antara lingkungan, manusia dan budayanya, periode prasejarah Indonesia dibagi dalam beberapa pembabakan zaman, yaitu periode berburu dan meramu, periode bercocok tanam dan periode perundagian.

Periodisasi Sejarah Indonesia
Ada banyak pendapat yang dikemukakan oleh sejarawan terkait dengan periodisasi sejarah nasional Indonesia. Diantaranya adalah sebagai berikut:
a.Pembabakan sejarah Indonesia menurut H. J. De Graaf (1949) dalam bukunya “Geschiedenis van Indonesia” yang membagi sejarah Indonesia dalam lima babakan besar. Pertama, orang Indonesia dan Asia Tenggara hingga 1650; kedua, bangsa Barat di Indonesia (1511-1800) yaitu sejarah VOC; ketiga, orang Indonesia di Jaman VOC (1600-1800); keempat, VOC di luar Indonesia; dan kelima, orang Indonesia dalam lingkungan Hindia Belanda (pasca 1800).
b. Pembabakan sejarah Indonesia menurut J. J. Meinninsma (1972) dalam bukunya “Geschiedenis van de Nederlandsch Oost-Indische Bezettingen”. Meinninsma membagi periode sejarah Indonesia dalam dua babakan utama. Pertama, Nederlandsch Indie masa VOC dan kedua, Nederlandsch Indie masa Belanda.

PENELITIAN DAN RUANG LINGKUP BIOLOGI

A.  METODOLOGI SEJARAH
Metodologi atau science of methods adalah ilmu yang membicarakan tentang cara. Dengan demikian metode sejarah adalah petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis tentang bahan, kritik, interpretasi dan penyajian sejarah. Dalam metodologi sejarah, disini diuraikan berbagai jenis penulisan sejarah, unit kajian, permasalahan, teori, konsep dan sumber sejarah.
Metode yang dipakai dalam penelitian sejarah mencakup empat langkah berikut:
1.Heuristik
Heuristik (heureskein dalam bahasa Yunani) adalah upaya mencari atau menemukan jejak-jejak sejarah (traces). Jejak sejarah sendiri adalah apa-apa yang ditinggalkan oleh aktivitas manusia (baik aktivitas politik, ekonomi, sosial budaya, dan sebagainya) pada masa lampau yang menunjukkan bahwa benar-benar telah terjadi peristiwa yang dimaksud. Dengan demikian upaya pencarian jejak-jejak sejarah berkaitan dengan penemuan bukti-bukti sejarah. Bukti-bukti tersebut selanjutnya dikelompokkan atau diklasifikasikan sesuai urutan waktu terjadinya peristiwa, kesamaan cerita, dan jenis sumbernya. Jadi heuristik adalah upaya mencari sumber atau bukti sejarah yang terkait dengan masalah atau peristiwa tertentu yang akan ditulis atau diteliti.

2.Kritik sejarah
Setelah jejak (bukti) atau sumber berhasil ditemukan, langkah selanjutnya adalah menyeleksi dan menguji jejak-jejak tersebut sebagai upaya untuk menemukan sumber sejarah yang sebenarnya (yang sesuai dengan yang diperlukan dan merupakan sumber yang asli atau autentik). Inilah yang dimaksud dengan kritik sejarah. Proses kritik sejarah itu sendiri meliputi dua hal. Pertama adalah kritik eksternal dan kedua adalah kritik internal.

a.Kritik eksternal
Kritik eksternal ditujukan untuk menjawab beberapa pertanyaan pokok berikut:
•Apakah sumber yang telah kita peroleh tersebut betul-betul sumber yang kita kehendaki.
•Apakah sumber itu sesuai dengan aslinya atau tiruannya
•Apakah sumber tersebut masih utuh atau telah mengalami perubahan.

b.Kritik internal
Dilakukan setelah dilakukan kritik eksternal. Kritik internal ditujukan untuk menjawab pertanyaan:
Apakah kesaksian yang diberikan oleh sumber itu memang dapat dipercaya. Untuk itu yang harus dilakukan adalah membandingkan kesaksian antar berbagai sumber (cross examination).

3.Interpretasi fakta
Fakta-fakta sejarah yang berhasil dikumpulkan dan telah menjalani kritik sejarah perlu dihubung-hubungkan dan dikait-kaitkan antara satu dengan yang lainnya sedemikian rupa sehingga antara fakta yang satu dengan yang lainnya kelihatan sebagai suatu rangkaian yang masuk akal, dalam artian menunjukkan kesesuaian satu sama lainnya. Dengan kata lain, rangkaian fakta itu harus menunjukkan diri sebagai suatu rangkaian “bermakna” dari kehidupan masa lalu suatu masyarakat atau bangsa. Untuk tujuan tersebut (mewujudkan suatu rangkaian peristiwa yang bermakna) sejarawan atau penulis sejarah perlu memiliki kemampuan untuk melakukan interpretasi terhadap fakta. Dalam tahap inilah salah satu masalah krusial dalam historiografi muncul. Ini terkait dengan objektivitas dan subjektivitas sejarawan. Masalah interpretasi berkaitan erat dengan dua hal ini.

4.Penulisan atau penyusunan cerita sejarah
Apabila ide-ide yang membangun keterkaitan antar fakta sejarah berhasil dirumuskan, melalui kegiatan interpretasi, maka langkah selanjutnya adalah melakukan penulisan atau penyusunan cerita sejarah. Dalam metodologi sejarah langkah-langkah ini disebut dengan historiografi.


B. PRINSIP SEBAB AKIBAT DALAM PENELITIAN SEJARAH
Dalam ilmu sejarah prinsip sebab akibat ini disebut dengan istilah determinisme atau historicisme. Prinsip sebab akibat ini menurut Sartono Kartodirjo (1993) pengertiannya adalah bahwa suatu peristiwa sejarah hendaknya diterangkan dengan melihat peristiwa sejarah yang mendahuluinya. Dengan kata lain semua akibat itu berawal dari adanya sebuah atau beberapa sebab yang sebelumnya terjadi.
Sebagai contohnya dapat dikemukakan tentang peristiwa pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 oleh Ir. Soekarno yang didampingi oleh Drs. Mohammad Hatta di rumah kediaman pribadi Soekarno. Pertanyaan yang bisa muncul diantaranya adalah: bagaimana naskah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 itu dirumuskan? Mengapa naskah proklamasi kemerdekaan itu dibacakan dengan mengambil tempat di rumah pribadi Soekarno? Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang dapat dikemukakan seputar pembacaan naskah proklamasi itu.
Menurut konsep sebab akibat sejarah bahwa suatu peristiwa sejarah diterangkan oleh peristiwa sejarah yang mendahuluinya. Dalam hal ini peristiwa sejarah yang mendahului pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan yang mengambil tempat di rumah pribadi Ir. Soekarno itu adalah peristiwa yang terjadi sebelumnya, yaitu perumusan naskah proklamasi yang mengambil tempat di rumah seorang perwira tinggi Angkatan Laut Jepang, Laksamana Muda Maeda, yang berada di Jl. Imam Bonjol 1 Jakarta. Di rumah Maeda hadir para anggota PPKI, tokoh-tokoh pemuda seperti Chairul Saleh, Soekarni, B.M. Diah, Soediro, Sayuti Melik, dan orang-orang Jepang dari Angkatan Darat, seperti Nishijima, Yoshizumi dan Myoshi.
Perumusan naskah proklamasi kemerdekaan dilakukan oleh Soekarno, Hatta dan Ahmad Soebardjo, yang disaksikan oleh Soekarni, B.M. Diah dan Soedirio. Soekarno menuliskan naskah proklamasi itu pada secarik kertas bergaris. Setelah mendapat kesepakatan bersama, maka naskah proklamasi tulisan tangan itu dibawa ke ruang tengah rumah Laksamana Muda Maeda. Naskah proklamasi itu kemudian diperdebatkan untuk mendapatkan kesempurnaan. Hal ini terbukti dari adanya tiga coretan, yaitu kata “pemindahan”, “penyerahan” dan “diusahakan”. Disepakati pula yang meandatangani naskah proklamasi kemerdekaan itu ialah Soekarno dan Hatta.
Pengetikan naskah proklamasi dilakukan oleh Sayuti Melik atas permintaan Soekarni. Sayuti Melik yang mengetik naskah proklamasi itu mengadakan tiga perubahan yaitu kata “tempoh” diganti menjadi “tempo”, sedangkan bagian akhir “wakil-wakil bangsa Indonesia” diganti dengan “atas nama bangsa Indonesia”. Cara menulis tanggal diubah sedikit menjadi “Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05”. Naskah yang sudah diketik itu kemudian ditanda tangani oleh Soekarno dan Hatta dengan disaksikan oleh semua yang hadir di rumah Laksamana Muda Maeda.
Pembacaan naskah proklamasi itu disepakati pula akan dilakukan di rumah pribadi Soekarno di Jl. Pegangsaan Timur 56  (sekarang Jl. Proklamasi 56) Jakarta, pada jam 10 WIB. Pemilihan tempat itu dengan maksud atau atas dasar pertimbangan keamanan dan supaya tidak menyinggung perasaan Saiko Sikikan  (Panglima Angkatan darat ke-16 di Jawa) Jenderal Yuichiro Nagano dan Gunseikan  (Kepala Pemerintahan) Jenderal Yamamoto, sebagai penguasa yang berkewajiban memelihara status quo di seluruh wilayah yang diduduki dengan melarang semua kegiatan politik sejak tanggal 16 Agustus 1945 jam 12 siang. 


C. PRINSIP KRONOLOGI DALAM PENELITIAN SEJARAH
Pengertian kronologi disini mengandung dua maksud, yaitu berdasarkan urutan waktu dan berdasarkan urutan peristiwa atau kejadian. Dalam melakukan penelitian sejarah, seorang peneliti harus memperhatikan dua kaidah tersebut. Hal itu disebabkan karena sifat sejarah sendiri yang diakronik, yaitu memanjang dalam waktu yang berisikan tentang suatu peristiwa yang ditulis berdasakan proses terjadinya peristiwa tersebut dari misalnya tahun tertentu sampai tahun tertentu yang lain, baik dengan pola sebab akibat maupun akibat sebab. Dengan demikian peristiwa yang ditulis bersifat runtut.

TRADISI SEJARAH MASYARAKAT INDONESIA MASA PRA AKSARA

1. CARA MASYARAKAT MEWARISKAN MASA LALUNYA
Dua cara untuk mewariskan masa lalu pada masyarakat yang belum mengenal tulisan ( Pra aksara ) yaitu :
a. Melalui keluarga
Keluarga memiliki peranan yang penting dalam proses pewarisan budaya masa lalu karena kesempatan berinteraksi dalam keluarga lebih besar sehingga memudahkan orang tua menanamkan ide-ide dan menyampaikan informasi mengenai tatacara berprilaku dan adat istiadat serta kebiasaan keluarga yang benar pada anak.
b. Melalui Masyarakat
Masyarakat secara langsung atau tidak langsung memiliki cara tersendiri dalam mewariskan masa lalunya yaitu, yaitu melalui adat istiadat, pertunjukan hiburan dan kepercayaan masyarakat.
2. TRADISI SEJARAH MASYARAKAT INDONESIA SEBELUM MENGENAL TULISAN
a. Sistem kepercayaan
b. Sistem kemasyarakatan dan organisasi sosial
c. Sistem mata pencaharian
d. Sistem peralatan dan perlengkapan hidup ( teknologi )
e. Sistem Bahasa
f. Sistem kesenian
g. Ilmu Pengetahuan
3. JEJAK SEJARAH INDONESIA
a. Folklore
Folklore merupakan adat istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun temurun dan tidak dibukukan.
Folklore Lisan : bahasa rakyat, teka-teki, puisi, cerita rakyat, Nyanyian rakyat.
Folklore bukan lisan : Arsitektur rakyat, kerajinan tangan, pakaian, obat-obatan tradisional, perhiasan dsb.
b. Mitologi
Ilmu Kesusasteraan tentang dongeng kehidupan para dewa dan mahluk halus dalam suatu kebudayaan juga menceritakan tentang asal usul alam semesta, manusia dan bangsa yang diungkap secara ghaib.
c. Legenda
Merupakan cerita rakyat pada masa lampau yang masih memiliki hubungan dengan peristiwa sejarah.
d. Upacara
Merupakan rangkaian kegiatan yang terikat oleh aturan tertentu berdasarkan adat istiadat dan agama
( kepercayaan ).
e. Lagu daerah
Merupakan lagu yang menggunakan bahasa daerah.
B. TRADISI SEJARAH MASYARAKAT INDONESIA MASA AKSARA
1. PERKEMBANGAN SEJARAH INDONESIA SETELAH MENGENAL TULISAN
a. Bidang politik ( Pemerintahan )
Sebelum masuknya pengaruh Hindu-Budha sistem pemerintahan di Indonesia di pegang oleh kepala suku yang memerintah kelompok sukunya. Setelah masuknya pengaruh Hindu-Budha maka pemerintahan kepala suku diubah menjadi pemerintahan yang berbentuk kerajaan yang dipegang oleh raja secara turun temurun.
b. Bidang sosial
Sebelum masuknya kebudayaan Hindu-Budha masyarakat Indonesia telah hidup teratur yang ditandai dengan kehidupan gotong royong.
c. Bidang Budaya
Sebelum orang-orang India datang ke Indonesia, masyarakat kita telah memiliki dasar kehidupan sendiri yang cukup tinggi ( kebudayaan asli ) dan terus berkembang secara terus menerus. Setelah masuknya kebudayaan Hindu-Budha maka terjadilah perkembangan kebudayaan Indonesia seperti :
1. Tulisan Pallawa dan bahasa Sanskerta
2. Seni bangunan
3. Seni Rupa/lukis
4. Seni sastra
5. Kalender
d. Bidang Keagamaan
Kepercayaan asli bangsa kita yaitu pemujaan terhadap Roh-roh leluhur/nenek moyang ( Animisme ) dan benda-benda ( Dinamisme ). Setelah masuknya orang-orang India yang membawa kebudayaan Hindu dan Budha maka masyarakat kitapun mengenal agama tersebut tanpa menghilangkan kebudayaan aslinya.
2. REKAMAN TERTULIS DALAM TRADISI SEJARAH
a. Prasasti
Merupakan rekaman tertulis yang menceritakan masa lampau yang pembuatannya berdasarkan perintah raja.
b. Kitab
Merupakan karya sastra para pujangga yang dijadikan petunjuk untuk menyingkap sebuah peristiwa sejarah yang muncul pada jaman Hindu Budha maupun Islam.
c. Dokumen
Merupakan surat berharga yang ditulis atau dicetak sehingga dapat dipakai untuk sebuah bukti atau keterangan.
3. PERKEMBANGAN PENULISAN SEJARAH DI INDONESIA
a. Masa Hindu – Budha dan islam
Penulisan sejarah pada masa ini bersifat istana sentris yaitu berpusat pada keinginan dan kepentingan raja. Tujuannya agar generasi penerus mengetahui bahwa ada suatu peristiwa penting pada masa itu.
b. Masa Kolonial
Penulisan sejarah pada masa ini bertujuan untuk memperkokoh kekuasaan mereka di Indonesia dengan menyatakan bahwa status sosial mereka lebih tinggi dan setiap perlawanan rakyat Indonesia terhadap mereka dianggap sebagai pemberontak.
c. Masa pergerakan Nasional
Penulisan sejarah Pada masa ini bertujuan untuk membangkitkan semangat perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah
d. Masa Kemerdekaan
Penulisan pada masa ini berorientasi pada masa depan bangsa dan NegaraIndonesia yang telah berhasil memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons